Cerpen : Sandung

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 13 Januari 2019) Bangunan itu terletak di pinggir jalan yang menghubungkan kampung lama dan kampung baru. Suasananya masih asri. Pepohonan menjulang dengan ukuran besar masih mendominasi. Ada pula sungai kecil yang mengalir sejuk menghubungkan kampung kami dengan sungai yang lebih besar. Bila malam hari, tidak banyak orang kampung yg bernyali untuk melewati tempat ini sendirian. Angker. Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali bangunan-bangunan kecil ini berdiri. Dari beberapa yang masih terawat diketahui ada yang sudah berdiri sejak abad ke 18. Barangkali inilah kompleks sandung tertua yang pernah kutemui. Ya, sandung namanya. Tempat leluhur kami menyimpan tulang belulang nenek moyangnya. Barangkali bukan hanya tulang belulang. Rumor menyebutkan, ada harta dari masa lalu yang ikut tertanam di sana. Bulan lalu, Mang Kiwok menemukan sebuah kepingan emas ketika iseng mengaso siang hari. Dasar mujur. Keping emas itu tertangkap matanya. Ia kaya mendadak setelah melego emas tersebut kepada juragan Karsa, tidak main-main, harganya 20 juta. Fantastis untuk ukuran rakyat yang sehari-hari hanya makan dengan ikan asin. Namun, entah bagaimana, Mang Kiwok meninggal tak lama setelah itu. Desas desus menyeruak, penghuni sandung marah atas kelancangan Mang Kiwok memungut emas yang kemarin. Jangankan memungut sesuatu, untuk sekedar ke sana pun tidak semua orang berani. Sandung menjadi semakin angker. Namun juga membuat tergelitik penasaran. Pertanyaan besar menggoda kepala kami berempat – Aku, Reo, Edi, dan Sadan – berapa banyak kepingan emas yang tersisa? “Barangkali kita perlu mencoba…, ” ujar Edi bersemangat. […]

Read More →

Cerpen : Kisahku yang Punya Indra ke Enam

Cerpen Aris Nohara (Desfortin Menulis, 06 Januari 2019) Untuk membunuh rasa resah dan gelisah akibat gangguan makhluk tak kasatmata yang nyata bila berhadapan denganku yang memiliki indra ke enam, aku biasanya melakukan olahraga malam, salah satunya lari. Hidupku tak sebahagia kata orang, meski memang benar jika aku selalu unggul dalam materi. Itu pun karena kerja kerasku sendiri. Tapi apalah arti […]

Read More →

Cerpen : Kenangan Masa Kecil

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 29 Desember 2018) Hari Minggu, aku telah bersiap-siap. Rencananya kami pergi memancing ke sungai yang tidak jauh dari kampung. Sungai Himun, namanya. Pancing ku siap, setelah susah payah membujuk bapak untuk merakitnya. Cacing tanah berukuran kecil kusimpan dalam wadah bekas, 2 bungkus mie goreng mentah dan sebotol air minum telah terkumpul rapi dalam butah. Butah adalah sejenis wadah terbuat dari anyaman rotan. Butah berbentuk tas gendong sehingga dapat dibawa dengan mudah. “Sudah siap?” Reno mengagetkan ku. “Ya. Don mungkin sebentar lagi,” “Don mungkin ngalandau. Tadi malam film Angling Dharma telat sekitar satu jam. Aku sampai tertidur di depan Tv.” Aku tersenyum. Tentu saja tadi malam aku nonton. Malam Minggu memang menjadi satu-satunya kesempatan ku. Dari jauh tampak sosok berlari ke arah kami. Itu si Don. Sepertinya dia memang terlambat bangun. Nafasnya ngos-ngosan. Setibanya pada kami, tangannya yang kecil menyangga tubuhnya menunduk megap-megap mencari udara. “Hey. Sori. Ngalandau..” Kami serempak tertawa. “Hayu ah, berangkat,” kata ku. Kami menelusuri jalan kampung setapak demi setapak. Pemandangan hari Minggu memang berbeda. Jalan-jalan masih nampak sepi. Orang-orang lebih banyak lalu lalang masuk ke dalam hutan; mencari sayur, marengge di Sungai Kahayan, mencari kayu bakar atau seperti kami, memancing. Sekian jauh sudah kami berjalan. Masuk hutan keluar hutan. Kadang terasa gelap jika kami dilindungi pohon-pohon besar nan angker. Sinar matahari sesekali menerobos masuk. Nyamuk tidak hentinya membuntuti. “Ingatkan aku!” kata ku. “Apa?” “Mencari rotan. Pesan pak guru” “Untuk apa?” Don melengos ke […]

Read More →

Cerpen : Maaf, Rani

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 20 Desember 2018) “Maaf Ran. Barangkali ini kesalahan ku. Aku tak pernah berani jujur sejak awal. Maaf” Tidak ada balasan. Aku berulang mengecek kembali. Hanya centang satu tanpa warna. Rani betul-betul marah. …………………… ..Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya.. Aku segera mengangkat. Bukan Rani. “Hallo Mas, di mana?” “Mas di rumah. Kenapa?” “Nanti malam jadi kan? Lihat-lihat undangan?” Aku terdiam. “Halo, Mas?” “Iya jadi. Nanti Mas jemput. Jam 7 ya.” Tutt..tutt..tutt.. ……………………………………. 5 bulan lalu kami bertemu pertama kali di sebuah rumah makan. Aku sedang duduk sendiri ketika tiba-tiba gadis mungil ini mengganggu makan siang ku. “Permisi, boleh saya ikut duduk di sini? Soalnya tempat lain penuh.” Aku menatapnya dan menatap sekeliling kami. Memang penuh. Ini jam makan siang. “Ya boleh. Mari..” aku berlagak ramah. Makan kami berjalan dengan cepat. Ia sedikit berlari mendahului ku dan membayar makan kami berdua. Aku belum sempat berkomentar. Ia lebih dulu menghilang di balik pintu. Dua hari kemudian kami bertemu kembali di tempat yang sama. Bangku nomor 12. Kali ini giliran ku yang meminta bergabung. “Boleh saya duduk di sini?” Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Gadis ini, entah kenapa, senyumnya manis sekali. Ia telah menyelesaikan makannya sementara aku baru separuh. Tapi kuputuskan berhenti. Jangan sampai kehilangan jejak lagi. “Hari ini saya yang bayar ya..” Dia tersenyum kembali. Aduh. Hari berikutnya kami secara sengaja kembali saling menunggu. Kadang aku sengaja menunda makan ku kalau ia belum datang. Kuminta Mas Pur, […]

Read More →

Cerpen : Kuyang

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 12 Desember 2018) Hari masih sore ketika empat ekor burung gagak terbang melewati atas kepala kami bertiga. Aku, Sadan, dan Edi sedang duduk-duduk menikmati sore dengan kopi panas dan tentu saja dilengkapi durian bandar yang terkenal legit, manis, nan tebal. Pikiran ku melayang teringat cerita almarhum Datuk dulu, jika melihat gagak terbang melayang melintasi kampung […]

Read More →

Cerpen : Pamalan Terakhir

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 10 November 2018) Sumber gambar: pexels.com Apang Jun mengelap peluh yang mengalir deras di seluruh tubuhnya. Cuaca panas sekali meskipun harusnya memasuki musim penghujan. Sesekali ia mereguk air sejuk dari rambatnya, air sungai yang segar meskipun sudah tidak cukup jernih. Setahun terakhir, sungai sudah tidak seperti dulu lagi. Kotor. Meski demikian, menurutnya air sungai tetap […]

Read More →

Cerpen : Roh Leluhur

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 04 November 2018) Sumber gambar: pixabay.com Malam ini dingin sekali. Hujan sedang ganas-ganasnya mengisi awal bulan November ini. Semua orang tengah terlelap asik dalam mimpi masing-masing, diiringi rintik hujan dan nyanyian katak yang asik memadu asmara. Tapi ada satu tempat yang masih terjaga. Aku, Edi, Sadan, dan Reo masih asik bermain kartu. Kami tidak terganggu […]

Read More →