Cerbung : Masih Menunggumu (1)

Cerbung Desfortin (Desfortin Menulis, 17 Maret 2019)

Saat istirahat makan siang itu, aku duduk di sebuah bangku taman yang teduh karena di dekatnya terdapat sebuah pohon yang rindang. Aku membuka laptopku, menuju ke sebuah situs web blog milikku, lalu aku mulai menulis. Menulis tentang isi hatiku, keresahanku dan apapun itu. Semuanya ada di blog ini.

Tak lama datanglah Rifan mendekatiku, duduk di sampingku dan seperti biasa, berceloteh bak emak-emak yang sedang curhat. Akan tetapi kali ini aku sama sekali tak mendengarkannya karena terlalu asyik menggerakkan jari-jariku mengetik pada keyboard.

“Aku berjalan di jalanmu, mengikuti langkahmu sampai sejauh ini dan hanya menujumu. Walau sampai sekarang pun kau masih tak mempedulikanku, walau hingga kini kau tak membalas cintaku.

Cinta yang sudah kuungkapkan sejak lama ini terus kau gantungkan, bersemayam di suatu tempat yang jauh di sana yang entah di mana. Ku kan terus menunggu walau sampai kapanpun itu, tanpa lelah dan menyerah.

Aku selalu percaya akan ada hari di mana kau akan bisa menerima cintaku yang mungkin gila ini, aku percaya kalau suatu saat nanti kita kan dapat bersama. Lalu saat hari itu terjadi, aku akan menjadi manusia fana yang paling bahagia di dunia ini.

Pernah suatu hari aku lelah dan terlintas dalam benak untuk menyerah, akan tetapi sosokmu yang indah di atas segalanya selalu berhasil membuatku suka dan suka lagi.

Lalu pada akhirnya aku memang tak akan bisa berpaling darimu, meninggalkanmu apalagi melupakanmu.

Bukan karena kau begitu cantik, juga bukan karena kau makhluk yang sempurna. Akan tetapi karena kau berbeda yang justru perbedaan itu memikat hatiku. Yang hal itu tak akan bisa kujelaskan dan tak akan mampu dipahami oleh yang lainnya.

Yang pasti kau adalah alasan atas semua tentang diriku, kau adalah jawaban mengapa sampai selama ini aku belum membina keluarga bahagia seperti kebanyakan yang lainnya.

Banyak yang mengatakan aku bodoh, berjuta-juta kalipun mereka katakan aku tetap tak peduli. Karena saat aku berkata aku hanya mencintaimu, saat itu pula ku hanya akan mencintaimu. Selamanya mencintaimu…

Sebuah isi hati yang memaksa untuk diungkapkan”

Lalu sebuah ikon berwarna biru bertuliskan “post” aku klik, dan terbitlah isi hatiku saat ini.

Rifan menepuk pundakku agak keras karena sedari tadi aku hanya asyik mengetik di laptopku. Aku pun terkejut dibuatnya.

“Kamu dengerin aku gak sih?” tanya Rifan.
“Iya, iya, aku denger kok,” jawabku.

Aku berharap ia tak bertanya apa yang ia katakan selama duduk di sampingku, karena sejak saat itu pula aku tak mendengarkan satu katapun darinya. Atau harusnya aku mencari saja alasan kenapa sampai perkataannya tak kudengarkan. Bodoh, dan aku sudah terlanjur bilang iya.
Rifan beranjak dari tempat duduknya, entah ia mulai malas denganku atau memang sudah ingin kembali ke kantor. Yang pasti, itu menyelamatkanku dari kemarahannya bila ia tahu aku tak mendengarkannya.

“Udah mau balik? Bentar to, masih istirahat makan siang kok,” kataku.
“Aku banyak kerjaan, aku pergi balik duluan ya…,” kata Rifan.

Aku melihat pada langkah kakinya yang ragu, dan benar saja, tepat pada langkahnya yang ketiga ia berhenti lalu menoleh ke arahku.

“Oh iya, Ashilla titip salam tuh… Katanya sudah kangen sama kamu …,” kata Rifan.
“Kapan-kapan aku ke rumah mu lagi ya…,” kataku.

Rifan tak mengindahkan, ia kini melanjutkan langkahnya. Kalau sudah begini berarti benar bahwa ia memang sedang banyak kerjaan.

Ashilla ialah anak pertama Rifan, usianya 12 tahun yang kini kelas 6 SD. Anaknya pendiam dan pemalu. karena kebiasaanku sering main ke rumahnya sejak Ashilla masih kecil, akhirnya aku dan Ashilla menjadi akrab. Kami akrab selayaknya sahabat. Di depanku ia bukan lagi anak yang pendiam dan pemalu, melainkan seorang yang siap menumpahkan apa saja isi hatinya padaku. Entah karena aku telah membuatnya nyaman atau apa. Ia bahkan lebih sering berbicara kepadaku dibanding dengan ayahnya sendiri, bahkan akupun dipanggil dengan panggilan “Papa Micky”, sementara ia memanggil Rifan dengan “Bapak”. Hal itulah yang mungkin membuat Rifan iri kepadaku. Tapi apapun itu Rifan tetap senang, sebab anaknya telah memiliki teman sejati yang dapat mengerti yang tak lain adalah aku sendiri.

Tak lama setelah kepergian Rifan, perutku pun berteriak, meneriakkan sebuah panggilan alam, menyuruhku menyantap bekal makanan yang sedari tadi kuletakkan di sampingku. Kubuka kotak box bekal itu, di sana terdapat nasi goreng yang masih harum lengkap dengan telur mata sapi. Ibukulah yang setiap hari membuatkannya. Satu suap, dua suap, tiga, empat, bahkan lima rasanya akan tetap sama, tetap saja enak meski kini ibuku telah berada di usia senja.

Kadang ku tak tega ketika ia bertanya “Kapan kau akan menikah?” mengingat hanya akulah yang belum berkeluarga. Sementara abang-abangku Niko dan Nathan telah menikah dan mempunyai anak. Bahkan Tirta adikku pun telah menikah beberapa bulan yang lalu.

Ibuku selalu khawatir kepadaku, dan kutahu pertanyaan yang benar-benar ingin ia lontarkan padaku ialah “Kapan kau akan punya anak?” hanya saja mungkin ia tak tega, atau mungkin ia sadar bahwa ia dalam usia senja. Melihatku menikah saja sudah bahagia, mungkin begitu pikirnya. [Desfortin]

Bersambung ….


Sumber gambar : pexels.com


Catatan:

Cerita bersambung ini merupakan Cerbung kolaborasi antara 2 penulis, yakni antara saya (Desfortin) dan Cen-Cen (salah satu kontributor di blog ini). Kami akan menulis Cerbung ini secara bergiliran di tiap part-nya. Untuk part 1 ini ditulis oleh saya [Desfortin].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s