Cara Saya Menulis Setiap Hari

Menulis setiap hari

Saya percaya, Anda dan saya setuju bahwa untuk mampu menulis kita harus belajar menulis, banyak membaca, latihan yang tekun dan konsisten. Tidak ada jalan pintas untuk bisa menulis, semua perlu perjuangan. Ada harga yang harus dibayar, dan hanya mereka yang sabar yang akan tetap bertahan.

Dan bagi saya, menulis adalah berpikir. Karenanya, belajar menulis adalah belajar berpikir. Menulis dan berpikir adalah cara untuk tetap waras dan eksis hingga kapanpun, meskipun kita telah tiada. Dengan keyakinan seperti itu maka memacu saya untuk terus menulis, berbagi dan menginspirasi dunia melalui tulisan. Karena dalam menulis sebaiknya memang ada prinsip-prinsip yang harus dipegang. Untuk apa menulis, kepada siapa kita menulis, dan bagaimana caranya?

Begitu juga untuk terbiasa menulis, tidak ada cara lain selain mulai menulis dan membiasakan menulis. Semakin sering kita melatih diri dalam menulis, saya yakin kemampuan menulis kita akan meningkat, karena memang, practice makes perfect. Untuk itulah saya biasanya menantang diri saya sendiri untuk menulis setiap hari. Bagi saya, menulis setiap hari punya dampak yang baik untuk mengasah skill menulis. Kita menjadi terbiasa dan terlatih dalam merangkai kata-kata.

Dalam postingan kali ini saya ingin berbagi tentang cara saya menulis setiap hari. Menulis setiap hari loh, bukan posting setiap hari. Bagaimana cara saya melakukannya?

Pertama, miliki tabungan ide sebanyak mungkin

Agar tidak gampang kehilangan ide, saya menyiasatinya dengan menabung banyak ide. Sebelum saya menetapkan untuk menulis setiap hari, saya coba brainstorming berbagai ide. Ide-ide tersebut saya akan catat di tempat khusus yang mudah saya temukan ketika saya memerlukannya. Biasanya saya catat di notepad smartphone. Ide-ide tersebut bisa berupa judulnya saja atau beberapa catatan inti tentang ide tulisan. Apa itu mau dibuat sebagai tips atau motivasi, opini, fiksi, curhat, atau yang lainnya.

Untuk saat ini, saya punya tabungan ide lebih dari 20-an. Kapanpun diperlukan, maka saya tidak kekurangan ide. Dan, kalau ide tersebut sudah saya eksekusi, maka saya akan terus mencari ide lagi dan menyimpannya dalam catatan. Intinya, jangan sampai tabungan ide tersebut habis.

Kedua, tetapkan jadwal menulis dan patuhi

Dulu, saya menulis tanpa jadwal yang jelas. Akibatnya saya sering kehilangan fokus. Pusing pun melanda. Akhirnya tulisan tidak jadi-jadi. Ternyata benar, menulis tanpa ada jadwal membuat kita seperti tak terarah. Hal itu kurang baik jika ingin melatih disiplin menulis.

Kini, saya sudah punya jadwal menulis setiap hari. Dan saya selalu berusaha untuk mematuhi jadwal yang telah saya buat. Biasanya, kalau tidak ada kesibukan lain, jadwal menulis saya adalah sore dan malam hari. Kalau sore biasanya saya menulis hanya sekitar 1-2 jam, tapi kalau malam hari biasanya lebih lama, bisa 3 sampai 4 jam. Dan kalau malam hari, biasanya saya mulai menulis ketika suasana sudah mulai sepi; waktunya orang-orang sudah tidur.

Ke tiga, mulai eksekusi dulu ide yang dianggap lebih gampang dan perhatikan panjang tulisan

Banyaknya ide yang tersedia kadang bisa membuat bingung; mau pilih yang mana. Karena saya sudah menetapkan jadwal menulis, maka saya harus konsisten dengan jadwal tersebut. Saya tidak mau berakhir pada gagal lagi dan gagal lagi. Karena itu, biasanya saya memilih ide yang saya anggap lebih mudah dan memungkinkan untuk saya eksekusi saat itu. Tentu saya sendiri yang lebih tahu mana ide yang saya anggap lebih mudah.

Panjang tulisan juga perlu saya perhatikan. Pasca hiatus tempo hari, saya tidak menulis terlalu panjang lagi. Biasanya untuk tulisan motivasi atau tips, saya hanya membuat batasan standar, yakni minimal 500 kata. Dengan menetapkan panjang tulisan, setidaknya saya tahu kapan harus berhenti, dan itu akan efektif untuk melatih disiplin menulis.

Ke empat, buat kerangka tulisan

Kerangka tulisan sangat penting untuk membuat seorang penulis terarah dalam menulis. Apalagi untuk tulisan yang berupa tips dan motivasi, kerangka tulisan adalah suatu hal yang wajib dibuat. Selain itu, kerangka tulisan membantu juga dalam menghemat waktu. Dalam hal ini, saya tinggal membuat kalimat atau paragraf-paragraf pendukung untuk kerangka tulisan yang telah saya buat. Jadi, tidak banyak waktu saya yang terbuang sia-sia.

Ke lima, menulis bebas

Kadang, penulis merasa apa yang ditulisnya terasa kurang menarik. Mungkin pada kosakata, tatabahasa, ejaan, atau pungtuasi yang kacau. Kohesi dan koherensi antar kalimat seolah tidak sesuai, dan akhirnya cenderung tidak pede dengan apa yang ditulis. Saya juga pernah dan sering mengalaminya. Tapi itu dulu, sekarang saya tak perlu terlalu kuatir lagi, saya punya teknik lain, yakni menulis bebas.

Dalam prinsip menulis bebas, jangan pikirkan tentang edit atau sunting. Jangan pikirkan juga tentang kohesi atau koherensi. Tulis saja. Setelah selesai baru sunting. Kalau sambil menulis sambil menyunting biasanya waktu banyak terbuang dan akhirnya tidak ada tulisan yang dihasilkan.

Dalam menulis bebas, biarkan ide di kepala mengalir, dan kita terus menulis, menarikan jari-jemari kita di tombol keyboard seiring ide yang mengalir di kepala. Setelah selesai baru kita baca ulang atau proofreading, dan kita masuk pada edit atau penyuntingan. Mungkin ada kata yang saltik (typo), diksi dan pungtuasi yang kurang sesuai atau ada kalimat yang kurang padu, maka saat itulah kita melakukan penyuntingan. Cara ini cukup efektif pada diri saya.

Ke enam, menulislah selama jadwal yang telah ditetapkan

Menulis tidak harus sekali jadi. Bisa dicicil. Kalau waktu yang telah ditetapkan habis, maka berhentilah menulis. Tak perlu memaksakan diri. Lain kali bisa dilanjut. Apalagi untuk masalah posting tulisan di blog, saat ini saya masih melaksanakan minimal one week one post. Jadi, saya tak khawatir kalaupun tulisan yang saya eksekusi itu tidak jadi sekali duduk.

Mungkin bagi sebagian penulis atau bloger cara ini tidak begitu recommended. Saya maklum. Lain kepala lain prinsip. Orang mungkin berkata, bagaimana kalau masih ada ide di kepala? Masa harus stop? Hal ini mungkin masih debatable. Tapi kalau saya, saya lebih memilih stop. Alasannya, kita harus konsekuen dengan jadwal. Ingat, menulis setiap hari, bukan posting setiap hari. Intinya, ini untuk melatih agar kita disiplin dengan waktu. Cara ini selalu saya terapkan, and it works.

Nah, demikian beberapa cara saya menulis setiap hari. Semoga bermanfaat. Jika Anda punya cara yang berbeda, mari berbagi di kolom komentar. Saya akan dengan senang hati membacanya.

Salam,

Desfortin

Sumber gambar: pexels.com

17 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s