Cerpen : Misteri Kematian Beruntun

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 03 Maret 2019)

Hari masih siang sekitar pukul 12.00. Aku dan Edi sedang mengaso di depan rumah ku ketika Reo dan Sadan tiba-tiba berhenti di depan kami.
“Ada mayat bang, ayo kita lihat.”
“Di mana?”
“Di belakang sekolah..”

Aku melompat ke motor ku. Edi menyusul. Kami segera tancap gas. Di sana masih sepi. Hanya ada beberapa orang. Sosok mayat menyambut kehadiran kami. Mayat laki-laki berusia 20an, berpostur sedang dan tampak basah.
“Mayatnya baru, boy..” Edi berbisik pada ku.
“Maksudnya?”
“Meninggalnya baru. Kurang dari 24 jam,” katanya. Edi memang pernah bekerja sebagai sopir ambulan.

Beberapa saat polisi tiba dan membawa mayat ke puskesmas untuk diotopsi. Satu orang polisi menanyai kami.
“Siapa yang pertama kali melihat mayat almarhum?”
Dua orang tampak tunjuk tangan. Mereka tampak ketakutan. Kami maklum, menemukan mayat bukan sesuatu yang menggembirakan.
“Mas berdua ikut saya ke kantor ya..”
Keduanya mengangguk lesu. Kami berempat segera menyingkir. Dari yang kudengar, dua saksi tadi memang teman dari almarhum. Mereka bertiga adalah perantau yang mencoba mengais rezeki di kampung kami dan menumpang di rumah pak kades. Naas.

……….
Penemuan mayat itu masih menjadi misteri di kampung kami. Polisi belum menemukan titik terang. Sementara itu mayat telah diberikan kepada keluarga almarhum yang rupanya berasal dari kampung lain. Muncul masalah baru. Kecuali urusan penting, warga kampung tidak diperbolehkan keluar dari wilayah kampung tanpa seizin polisi. Kami ingin protes tapi memahami maksudnya. Polisi ingin membatasi gerak pelaku yang barangkali ada di antara kami.

Aku mengajak Edi, Reo, dan Sadan ke rumah ku.
“Kalau kulihat bentuknya, itu pasti akibat karap bahotai..” Sadan berguman. Aku menyetujui. Di kampung kami dulu sering terjadi kematian mendadak. Tanpa sebab tiba-tiba sekujur tubuh tampak membiru. Kami menyebutnya karap bahotai; diserang oleh binatang dari alam lain yang berbentuk anjing. Konon, ada beberapa warga kampung kami yang masih memelihara binatang gaib tersebut sebagai persugihan. Pemiliknya lah yang memerintahkan bahotai untuk menerkam seseorang sebagai tumbal.

Reo menggeleng kepala.
“Aku pernah melihat langsung korban karap bahotai, Bang. Bukan seperti itu bentuknya. Yang membiru hanya wajah. Bukan sekujur tubuh seperti yang kita lihat kemarin..”

Kami sama-sama terdiam. Reo menghisap batang rokoknya dalam-dalam.

“Itu bekas penganiayaan, Bang. Tubuhnya membiru akibat kehabisan oksigen. Kalian lihat sekujur tubuhnya yang basah kuyup? Itu karena almarhum dicelupkan secara paksa ke dalam air. Ia kehabisan napas.”

Kami saling pandang. Reo ada benarnya. Pendapat Edi juga memiliki peluang yang sama.
…………………….

Hujan deras pukul 8. Aku dan Reo sedang bersiap-siap mencari katak untuk lauk. Istrinya yang sedang hamil muda ngidam daging katak.
“Ke mana kita?”
“Dekat sekolah, Bang..”
“Kau gila ya? Di situ kan tempat mayat kemarin?”
“Kodok di situ sedang rame, Bang. Kemarin malam aku lewat sana..”
“Ya sudah..” Aku mengalah. Lingkungan sekolah kampung kami memang bekas rawa yang cocok untuk lahan berburu katak.

Rupanya bukan hanya kami yang ada di sana. Ada dua orang lain yang tidak kami kenal yang juga sedang mencari katak. Tanpa ba bi bu kami langsung ikut bergabung. Hujan dan cuaca yang dingin memaksa kami lebih banyak diam. Hanya sesekali aku mendengar komentar di antara kami.

Baru setengah jam, kresek yang kubawa sudah terisi separuh. Reo menyorot senter ke arah ku.
“Gimana, Bang? Cukup?”
“Cukup. Ayo pulang”
“Ayuk..”

Aku mengedarkan pandangan ku bermaksud pamit pada dua orang tadi. Rupanya mereka telah lebih dulu pergi. Aku terlalu asik sehingga tidak menyadari kepergian mereka. Malam telah turun sepenuhnya dan hujan hanya tersisa jejak gerimisnya saja ketika aku dan Reo berpisah di depan rumah ku.

…………….
Besoknya kami geger lagi. Tepat di tempat kami mencari katak semalam, lagi-lagi terbujur kaku mayat lelaki. Aku masih belum sepenuhnya bangun ketika Reo menggedor pintu.
“Bang, ada mayat lagi..”
“Mayat apa?”
“Mayat orang. Ayuk kita lihat.”
Aku menyambar jaket sekedar untuk melawan dingin dan mengekor di belakang Reo. Suasana telah ramai ketika kami datang. Aku terkejut bukan main, mayat itu adalah salah satu saksi yang kemarin dipanggil polisi. Aduh. Salah satu temannya yang masih hidup tampak menjerit histeris. Ia meronta. Aku terenyuh. Ia ditinggalkan oleh dua temannya secara beruntun. Mayat itu segera digotong oleh warga. Kami pelan-pelan menyingkir.

Di kampung lebih heboh lagi.

“Kematian mereka yang beruntun mengingatkan aku pada peristiwa yang sama beberapa puluh tahun yang lalu..” kata Mbah Jun, salah satu tetua kami. Sekelompok warga berkumpul di halaman rumahnya. Aku dan Reo ikut merapat menguping pembicaraannya.

“Peristiwa apa, Mbah?”
“Dulu, puluhan tahun lalu, kampung lama pernah tertimpa musibah. Puluhan warga meninggal secara misterius. Jarak kematian mereka sangat rapat. Selang sehari, dua hari, paling jauh tiga hari.”

Aku bergidik. Cerita ini pernah kudengar dari almarhum kakek dulu ketika kami masih kecil.

“Saat itu, ada dua kelompok yang bertikai. Mereka beradu ilmu hitam. Siapa yang kurang kebal, padanya lah kematian datang. Santet, pulih (Racun Makanan), bahotai, dan banyak jenis ilmu hitam lainnya bersaliweran. Kampung seperti mati. Tidak ada orang yang mau keluar rumah kecuali urusan penting..”

“Warga yang meninggal dikuburkan dengan cepat, tanpa memenuhi aturan adat leluhur. Dendam terus menerus berkobar. Nyawa dibayar nyawa. Begitulah selama bertahun-tahun. Nyawa dibayar nyawa, dendam mereka barangkali bersisa sampai sekarang,” Mbah Jun menatap kami dengan kosong. Ia memutar kursi rodanya ke arah lain. Luka yang pernah ia pendam kini ternganga kembali. Matanya berkaca-kaca.

“Akhirnya, setiap warga berlomba mencari ilmu hitam untuk mempertahankan diri dan membalaskan dendam. Orang tidak lagi bertegur sapa. Semua saling mencurigai. Roh jahat berterbangan di sekeliling kampung. Meneror dan menebar ketakutan dan dendam yang lebih besar. Itulah kenapa kampung kita dikenal sebagai kampung Bahotai, siluman anjing peliharaan iblis jahat. Sejak saat itu kampung lama menjadi tidak berpenghuni.”

“Generasi itu telah lama tiada. Siluman siluman kehilangan tuannya. Mereka berkeliaran tanpa arah. Barangkali mereka juga yang membuat keadaan seperti sekarang ini.”

Reo tiba-tiba mencolek punggung ku.
“Ayo bang, pulang..”
Aku ingin membantah tapi ia tampaknya tidak terlalu serius menyimak cerita Mbah Jun. Kami pulang. Edi dan Sadan sudah menunggu di rumah ku.

“Gimana, Bang?”
“Belum ada titik temu. Malah ruwet.” Aku menggerutu sambil melirik Reo. Kami terkena imbas kasus ini. Selain kami dipersulit keluar masuk kampung, kami juga was-was, jangan jangan satu waktu giliran kami yang didatangi nasib buruk. Tiba-tiba tiga ekor gagak melintas di atas kepala kami. Suasana mendadak dingin.

“Malam ini kita berjaga di rumah masing-masing. Firasat ku, sesuatu akan terjadi..,” kata Reo. Kami bertiga mengangguk.
…………..

Malam telah larut. Jarum jam bersandar di angka 12 lewat seperempat. Sudah dua kali aku mengaduk kopi untuk ku dan Edi. Bujang lapuk ini lebih sering tinggal bersama ku daripada di rumahnya sendiri. Aku paham saja, di rumah ia selalu dituntut lekas kawin oleh bapak ibunya. Barangkali di rumah ku tekanan yang dia dapatkan tidak terlalu besar. Tapi sesekali aku juga menggodanya.

“Si Mia anaknya pak Rt 3, tetangga samping rumah mu masih lajang kan, Di?”
“Huhhh…”
“Loh kamu kalau mau ya mesti cepat bro. Anaknya cantik, berpendidikan. Baik kelihatannya..”
“Justru itu bang, saya minder. Dia kan orang berpendidikan, saya cuma tamat SMA. Belum apa-apa bapaknya sudah kasih syarat, calon mantunya minimal S 1. Ya aku kederr..”
“Kamu kan S 3, Di?”
“S 3 dari Hongkong..”
“Hitung aja sendiri. SD, SMP, SMA. S 3 kan?” aku tertawa kecil. Edi melengos.

Tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu. Aku berdiri membuka. Ternyata Reo dan Sadan. Sadan tampak cemberut.

“Satu-satunya teman mereka yang tersisa menghilang..” Reo menatap ku.

“Warga laki-laki berkumpul di rumah pak kades. Ayo kita ke sana..”

Tanpa komando kami segera bergabung. Tampak riuh di halaman rumah pak kades. Teman korban satu-satunya yang diinapkan di rumah pak kades menghilang. Ada percikan darah di kamarnya. Baunya anyir. Masih baru. Semua orang diharapkan berpastisipasi untuk mencari di seluruh sisi kampung dengan membentuk kelompok. Rute masing-masing kelompok telah ditetapkan. Diharapkan agar tidak menyimpang dari rute yang ditentukan pak kades.

Kami berempat memisahkan diri. Berdiskusi di pos ronda.

“Kalau diculik setan, sampai kiamat kita tidak bisa menemukannya..,” aku mengangguk. Edi betul.
“Mungkin ia melarikan diri..,” kata Reo tiba-tiba.

Kami terkejut menatapnya serempak.

“Semua orang kampung sedang mencarinya. Dia mau melarikan diri lewat mana?”
“Ada satu jalan yang rasanya tidak terpikirkan oleh kita…”
“Maksud mu?”
“Ya.. ”

Keheningan di antara kami. Reo merencanakan sesuatu. Di antara pekatnya malam kami memisahkan diri.

Aku dan Reo mengendap-endap di balik gerbang perbatasan kampung baru dan kampung lama. Jantung ku berdebar tak karuan. Kalau tebakan kami benar, harusnya sekarang saat yang tepat bagi saksi untuk melarikan diri melewati satu jalur angker ini. Tidak ada yang berani mencari di jalur ini.

Suara kaki mendekat. Tampak bayangan orang menuruni tangga. Tidak salah. Samar-samar ia tampak berjalan menyeret kakinya sebelah kiri menyusuri jalanan tua yang tidak dipakai lagi. Ada yang salah dengan cara berjalan orang ini. Ia tampak memaksakan diri menyeret kakinya sebelah kiri yang sepertinya tidak berfungsi. Aku dan Reo membuntuti dalam diam. Kegelapan menutupi kami. Sesekali bayangan itu menyorot senter ke berbagai arah sehingga kami harus merunduk atau berlindung di balik bayang pohon. Suasana semakin menegangkan.

Kami telah sampai di kampung lama yang tak berpenghuni. Nuansa mistis terasa sangat kental. Di sebuah rumah tua, bayangan itu berhenti. Ia menyalakan obor. Cahayanya mengejutkan kami. Ia perlahan menyeret kakinya menaiki tangga, membuka pintu dan menghilang ke dalam.

Tiba-tiba aku menangkap suara napas tersengal-sengal dipunggung ku. Edi dan Sadan nampak membawa kelompok pencari. Di balik malam, aku dan pak kades berunding. Pak kades memberikan kode. Kami harus masuk bersama-sama dan menyelesaikan misteri kematian berantai ini.

Perlahan-lahan kami mendekat. Suara burung hantu mengisi malam kami yang sepenuhnya menegangkan. Dua tiga tangan berebut menyentuh punggung ku. Dasar penakut.

Tangan ku sedikit gemetar memegang gagang pintu. Perlahan pintu rumah tua itu terbuka. Di hadapan kami, sosok mayat berbaring penuh darah. Cahaya senter berebut menyorot pemandangan mengerikan ini. Dia lah sosok yang kami cari. Sebagian memeriksa seluruh bagian rumah. Nihil. Mayat kami bawa kembali ke kampung baru dengan sejuta tanya. Bayang siapa yang kami buntuti barusan?
………………..

Besoknya kami geger lagi. Mbah Jun menghilang. Namun pengakuan Edi mengejutkan kami.

“Ketika perjalanan menemui pak kades, aku bertemu Mbah Jun di perbatasan desa. Dia berjalan kaki sendirian, kutanya tapi dia tidak menjawab..”

Kami saling tatap tak percaya. Mbah Jun, setahu kami, menderita lumpuh sejak beberapa tahun lalu. Ia menggantungkan hidupnya pada kursi roda dan bantuan orang lain.

“Apa Mbah Jun menyeret kakinya sebelah kiri?”

“Ya..”

—TAMAT—

Sumber gambar : pexels.com


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis yang aktif menulis kisah fiksi. Cerpen ‘Misteri Kematian Beruntun’ ini adalah Cerpen ke sembilannya (tulisan ke dua belasnya) yang terbit khusus hanya di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

8 Comments »

  1. Bagus, bikin merinding bang ceritanya, jd si mbah Jum ini ada kaitannya ga sama peristiwa bbrp puluh tahun lalu yg nyebabin bbrp org meninggal misterius? Atau itu sebenernya cuma karangan mbah Jum aja biar ga disangka dy yg bunuh 2 orang tadi?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s