Cerpen : Impian Luna

Cerpen Aris Nohara (Desfortin Menulis, 17 Februari 2019)

Namanya Luna, jika kau tanya apa mimpinya, maka ia pasti akan menjawab agar tidak pernah bisa melihat. Bukan melihat dunia seperti yang sesiapa lakukan, melainkan takdir. Dia adalah gadis yang diilhami kemampuan itu, atau mungkin penderitaan sebutannya. A girl who sees fate. Dia adalah gadis yang melihat takdir.


Tergopoh-gopoh Luna berlari menuju lalu menyibak kerumunan itu, ia tak peduli lagi bahkan jika ia harus menjadi salah seorang yang terluka akibat ‘perang’ antara warga dan aparat kepolisian kali ini. Satu yang pasti, ia ingin sekali bertemu dengan Aji, kakaknya, juga berharap ia bisa mencegah suatu hal yang pernah ia lihat. Dia juga tak peduli lagi jika ia harus merubah takdir seseorang, yang ada dalam pikirannya hanya ia ingin bersama dengan kakak yang disayanginya. Dan apa yang dilihatnya selalu melulu tentang ironi yang tak diingini.

Luna berjalan ke sana ke mari, hatinya resah gelisah, peluh meluruh membasahi tubuh, dan jantungnya berdebar-debar dalam pencarian tanpa arah tujuan itu.

Dengan tetiba langkahnya terhenti di suatu jalan yang sepi dari orang-orang dalam ‘peperangan’ itu, kakinya berhenti berjalan begitu saja, entah mengapa. Sesaat kemudian ia melihat seorang tergesa menghampiri seorang berseragam polisi yang tak asing di mata Luna, debaran jantung Luna kian cepat.

Ia ingat betul akan kejadian itu, di mana setelahnya ia akan memanggil nama polisi itu lalu polisi itu pun menoleh.

Air mata Luna berlinangan, “Bang Ji…” gumam Luna, suaranya seolah telah raib ditelan kesedihan.

“Bang Aji!!!” teriak Luna.

Aji pun menoleh, ia kemudian tersenyum begitu melihat seorang yang memanggilnya ialah Luna adiknya. Setelah Aji menoleh, Luna malah berbalik badan, air matanya pun kian deras membanjiri wajahnya. Lalu dengan begitu cepat seorang yang memakai hoodie hitam berlari ke arah Aji, menancapkan pisau tajam di perut Aji lalu menghunuskannya, setelah itu ia pergi dengan begitu saja. Darah itu terus bercucuran meski Aji mencoba menyekatnya, tungkainya melemah, ia pun akhirnya jatuh tersungkur dan mendarat di jalanan kerontang dengan mata terbuka juga terjaga dari pendar sinar di siang hari nan bernas panas.

Ia melihat Luna berlari ke arahnya sembari menyeka air mata, ini adalah kali pertama ia melihat adiknya sesedih itu.

Luna membalik badan kakaknya, lalu meletakkan kepala kakaknya di antara pahanya. “Apa kamu pernah melihat semua ini sebelumnya?” tanya Aji.
Luna mengangguk sembari terisak, sementara Aji malah tersenyum setelah mengerti jawaban itu.

“Apa setelah ini aku akan mati?” tanya Aji lagi.

Luna kembali mengangguk, ia lalu memeluk tubuh kakaknya yang telah mulai pucat dan dingin itu. Ia seolah tak dapat lagi berkata-kata, meski banyak kekata yang ada dalam benaknya memaksa menyeruak keluar.

“Maafkan aku, ini salahku, harusnya aku…”

Satu, dua, air mata menetesi wajah pucat pasi Aji yang merasakan nikmatnya detik di ujung kematian. Luna benar-benar tak dapat lagi berkata-kata, ia hanya ingin mendekap erat seorang yang sebentar lagi akan meninggalkannya selamanya.

“Tidak apa-apa, ini memang sudah takdir kakak,” kata Aji.

“Tolong sampaikan permintaan maaf kakak pada ayah, karena perjuangan kakak menjadi patriot hanya sampai di sini saja,” kata Aji lagi, akhirnya air mata itu pun mengaliri wajahnya.

“Dan…” suara itu semakin lirih terucap.

“Kakak sayang kamu,” gumam Aji.

Luna mendekap tubuh Aji, sementara Aji merasakan tubuhnya kian terselimuti dingin, lalu penglihatannya memudar hingga ia tak lagi merasa apa-apa dan mati.

Beberapa waktu sebelum kejadian itu …

Lelaki itu tampak gagah memakai seragam polisi, juga wewangian dan senyum mengembang menyempurnakan penampilannya. Hanya saja mobil yang mogok sepertinya akan membuatnya datang terlambat untuk bertugas hari ini.

Maka ia keluar dari mobilnya itu, sedikit membanting pintunya karena kesal, lalu berlari menuju kamar adiknya.

“Luna!” panggil lelaki itu.
Namun seorang yang di panggilnya tak menyahut.

“Luna!!!” akhirnya lelaki itu berteriak.

Dibukanyalah pintu itu karena tak mendapatkan jawaban.

“Kak Aji ini apa-apaan, pagi-pagi begini udah gangguin orang tidur,” protes Luna.

“Astaga, kamu masih tidur aja. Memangnya tidak sekolah hari ini?” tanya Aji.

“Ya nggak lah, kan hari ini hari Minggu. Memangnya kakak, bertugas setiap hari?” jawab dan tanya Luna sekaligus, matanya mengerjap-ngerjap.

“Ya, bagaimana lagi? Ini memang pilihan kakak.”

“Ah, sudahlah. Kakak nggak pengin ngomongin itu, kakak sekarang butuh kunci mobil kamu,” kata Aji.

Luna segera bangkit.

“Memangnya mobil kakak kenapa?” tanya Luna.

Aji menggaruk kepalanya, membuat rambutnya yang rapi kembali tak teratur. “Mogok,” tukas Aji.

“Tapi aku mau pake, kak!” protes Luna.

Aji berjalan mendekati Luna, sesaat kemudian ia meraih tangan Luna lalu menariknya ke luar ruangan. “Ya udah, kamu anterin kakak aja,” Aji menggerutu.

Luna bahkan tak sempat menolak maupun mengelak, tangan Aji sigap memegangi lengannya dan dengan paksa menariknya ke luar, memaksanya berjalan.

“Kakak jahat!” protes Luna dengan cemberut.

Sementara Aji menanggapinya dengan sebuah seringai kejam.

Lalu setelahnya dengan mobil Luna, mereka berdua melaju menyibak jalanan pagi yang cukup ramai. Tetapi pada suatu persimpangan Luna mengeluh kepalanya sakit, Luna pun terus memeganginya, dan Aji memutuskan untuk menghentikan mobil di pinggiran jalan.

Luna menoleh ke arah kiri, “SMA 2,” gumamnya.

“Kamu gak apa-apa, Lun?” tanya Aji.

Aku pernah melihat ini sebelumnya, batin Luna.

“Lun!” panggil Aji seraya memegang pundaknya.

Luna tersadar, lalu dengan sigap ia menyeka air matanya. Kemudian, dilihatnyalah wajah kakaknya yang sangat mirip dengan mendiang ibunya itu, ia melihatnya tanpa berkedip.

“Kamu kenapa liatin kakak kaya gitu?” tanya Aji.

Luna tersenyum. “Luna boleh peluk kakak, gak?” Luna justru balik bertanya.

“Boleh,” gumam Aji.

Luna langsung memeluk kakaknya begitu sang kakak memberinya izin, sedang Aji merasa hari ini adiknya itu sedikit aneh. Tidak biasanya Luna memandanginya lekat seperti tadi, apalagi memeluk dirinya erat seperti kali ini.

Perjalanan yang sempat terhenti itu pun kembali dilanjutkan, dan selama itu pula Luna terus memandangi kakaknya, sedangkan Aji yang mengetahui hal itu membiarkannya saja meski sedikit risih. Hal itu bahkan dilakukan Luna setiap saat ia bersama-sama dengan kakaknya. Bagaimana tidak? Sedang apa yang dilihat Luna selalu benar, seperti almarhumah ibunya yang juga meninggal karena suatu kecelakaan yang hal itu pernah dilihat oleh Luna. Kali ini pun Aji akan, mati.

–Selesai–

Sumber gambar : pexels.com


Aris Nohara (nama pena) lahir di Temanggung, 12 Juni 1996. Ia adalah seorang bloger yang aktif menulis Cerpen dan Cerbung di blog pribadinya (https://arisnohara.wordpress.com). Selain itu, ia juga gemar menulis flash fiction dan puisi. Kini, ia juga sebagai salah satu kontributor di Desfortin Menulis. Cerpen berjudul : “Impian Luna” ini adalah Cerpen keduanya (terbit eksklusif) di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

2 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s