Cerpen : Surat Perintah

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 03 Februari 2019)

Matahari mendesak di atas kepala, kalau tidak terpaksa barangkali kunjungan ini akan kutunda. Petak-petak sawah yang kering kerontang memantulkan cahaya matahari yang silaunya mampu membuat mata rabun sejenak. Huh.

Aku melirik jam tangan, sudah pukul 2. Peluh ku melepuh. Aku berlari kecil menuju sebuah rumah yang tampak reot, sengaja mobil ku kuparkir cukup jauh berlindung pada sebuah trambesi yang rindang. Sekali lagi aku menyaksikan sawah-sawah yang kerontang namun penuh kenangan masa kecil. Musim kemarau selalu menjadi keceriaan bagi kami anak-anak pada masa itu, permainan layang-layang, mencari keong, dan berburu burung yang sedang bersarang. Kegundahan orang tua yang kekurangan air untuk sawahnya bukan menjadi alasan bagi kami untuk bersedih.

Aku tiba di depan rumah yang lebih pantas disebut gubuk. Berlantai tanah, dindingnya dari anyaman bambu yang tampak berlobang di sana-sini dengan atap rumbia yang tampak ikut bermuram durja di musim kemarau yang mengancam. Ayam-ayam yang tidak terurus berebutan keluar masuk dalam rumah melewati lubang-lubang dinding. Duh gusti. 10 tahun tidak kemari, tidak ada yang berubah menjadi lebih baik. Dengan gugup aku mengetuk.

Tok..tok..tok..

Tidak ada jawaban meskipun bisa kudengar dengan jelas suara tangisan kanak-kanak yang sepertinya sedang berebut minta makan.

Tok..tok..tok..
Tok..tok..tok..

Tangisan itu berhenti. Suara langkah mendekat dan perlahan pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu terbuka. Tuan rumah tersenyum melihat ku. Sebaliknya aku terlalu gugup untuk pertemuan ini. Ia menjabat tangan ku erat. Senyumnya tipis tulus masih sama seperti pertemuan kami terakhir kali.

“Duduk, Ran. Apa kabar? Kapan sampai?..”

Tubuhnya kurus dan lusuh. Tidak tampak lagi ketampanan masa muda yang dulu. Pakaian yang ia kenakan compang-camping. Kulitnya lusuh terlalu sering terkena sinar matahari. Tiba-tiba aku merasa lemah dan berdosa. Kehidupan di kota telah membuat ku abai dengan teman lama ku ini. Kusandarkan punggung ku pada dipan yang juga tampak rapuh.

“Kudengar kau sudah jadi orang besar di kota. Jadi apa? Pengacara? Atau Hakim?” katanya.

Aku menatapnya tersenyum hambar, “Bukan apa-apa. Kenapa..?” percakapan kami berhenti, anak gadisnya keluar menenteng nampan berisi dua gelas air putih.

“Ini anak ku yang paling tua, Deli. Sekarang kelas 2 SMP. Kemarin dapat peringkat 1,” katanya bangga. Aku menatap anak itu, kurus, tetapi bola matanya memancarkan semangat, mirip bapaknya waktu muda. “Jadi tujuan mu kemari apa, Ran? Menengok kenangan lama atau ada urusan lain?” katanya ketika Deli masuk ke dalam rumah.

“Ah. Bukan urusan penting. Aku memang sengaja kemari menengok keluarga bapak yang masih ada di sini dan sembari menengok mu. Kebetulan aku sedang longgar.”

“Ohh.. ya. Syukurlah kau bisa ke sini sekarang. Setelah 10 tahun dan kau baru bisa kemari, barangkali waktu mu memang betul-betul longgar,” ia menatap ku. Aku tertunduk malu.
“Sudah kau tengok Bu Mursi, Ran? Guru SMA kita yang galak bukan main?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Nanti aku ke sana..” Ia tersenyum lagi, “Bu Mursi sudah meninggal, Ran. Tahun lalu. Kami ingin mengabarkan mu tapi tidak tahu lewat siapa. Keluarga mu seolah menghilang. Bu Mursi pernah menanyakan mu. Hanya kau satu-satunya murid beliau yang melanjutkan sekolah ke kota.”

“Ya. Dan hanya aku yang tidak pernah menengoknya selepas kita lulus SMA.”

Kami sama-sama terdiam. Angin sepoi-sepoi menampar wajah ku yang semakin membeku. Bu Mursi, dan Karsa adalah cerita lama yang mengubah hidup ku.

*****……………*****

Hari ini semakin berat. Tugas semakin menumpuk. Belum lagi kami harus menghadapi belajar tambahan dari guru sebagai persiapan ujian nasional. Bukan main-main. Bu Mursi semakin galak. Siapa yang lalai belajar akan dihukum dengan serius. Kecuali aku dan Karsa. Kami berdua selalu menjadi kesayangan beliau. Karsa yang terbaik di antara kami. Aku selalu berada di belakangnya. Jika Karsa mendapatkan 82 maka aku pasti mendapatkan 80. Kuakui, Karsa sulit kutaklukkan.

“Apa rencana mu selepas SMA, boy?” tanya ku. Kami sedang berada di tepian sungai yang sedang mengalir deras. Hari ini sungai tampak dalam akibat hujan semalam. Ia menoleh pada ku sebentar dan tersenyum, “Jadi Jaksa boy. Aku masuk fakultas hukum. Kau bagaimana?”

“Maaf boy. Barangkali nanti kita tidak lagi berteman dekat karena aku akan jadi pengacara hebat, Haahahaa..” kami tertawa terbahak-bahak.

“Barangkali kau harus belajar berenang dulu, boy..” katanya. Aku tersipu. Aku memang tidak pandai berenang. Ia menyelam tiba-tiba dan muncul di sisi yang jauh berpegang pada urat uras kayu. “Kemari boy.” Aku menggeleng. Kebiasaan ku memang hanya mandi di tepian. Tiba-ia menyelam lagi dan muncul di hadapan ku. “Ayo, nanti ku temani,” katanya. Aku ragu. Arus sungai yang deras tampak menyeramkan. Kalau hanyut bagaimana. Aku menggeleng. Ia bersikeras. “Nanti kubantu boy, jangan takut. Kapan kau pandai berenang kalau hanya berani di tepi?”

Aku tertantang. Napas kuambil dan menceburkan diri ku ke sisi sungai yang dalam. Baru sekian detik aku tiba tiba merasa sesak. Kepala ku muncul mengambil napas. Sial, aku muncul di tempat yang salah. Arus besar mengelilingi ku. Perlahan aku hanyut. Kepanikan menyerang, aku tak mampu melawan arus dan terbawa. Sempat kulihat Karsa berenang cepat ke arah ku tapi aku terlanjur jauh. Tangan ku mencoba meraih apa saja tapi nihil. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Tenaga ku hampir habis. Aku tak melihat Karsa. Lambung ku kini penuh dengan air. Hidung ku sesak. Dan aku tak sadarkan diri.

Aku tersadar ketika kulihat Karsa menangis di samping ku. Dada ku terasa sakit. Ia melompat melihat ku membuka mata. “Boy, kau sudah sadar boy..” Ia membantu ku duduk. Aku masih merasa lemah dan pusing. “Kita di mana?” aku mendapati kami berada di tempat yang nampak asing. “Kita di ujung kampung, boy,” jawabnya.

Kami pulang dengan tertatih-tatih. Aku menumpang pada punggung Karsa. Tubuhnya yang kurus harus menggotong ku sendirian. Sampai di rumah, ayah terkejut melihat kami berdua. Aku berusaha menjelaskan tapi emosi ayah tidak mampu kutahan. Ia menempeleng Karsa dua kali. Karsa pulang dengan menahan sakit. Sementara aku dikurung dalam kamar. Sebagai hukuman, aku tak boleh berteman dengan Karsa lagi.

Ujian Nasional telah lewat. Kami berdebar-debar menanti hasilnya. Terutama aku. Hingga pengumuman tiba, aku dan Karsa lulus. Tapi kebahagiaan kami hanya sementara.

“Rano, Karsa, Kalian berdua berhak mendapatkan undangan masuk universitas. Namun hanya ada satu undangan yang tersedia dari Fakultas Hukum. Tanpa beasiswa. Karsa, kau berhak mendapatkannya. Nilai mu lebih baik dari Rano. Selamat. Formulir ini harus kau serahkan 3 hari lagi. Biaya pendaftaran tercantum di dalamnya,” Bu Mursi mengucapkan selamat dengan datar dan dingin, demikian pula dengan Karsa. Kami keluar dari ruang Bu Mursi dengan gamang. Ia tampak menggenggam erat formulir masuk yang diberikan Bu Mursi dan berjalan cepat meninggalkan ku.

Aku dan Bu Mursi memahaminya. Karsa bukan anak orang berada. Bapaknya hanya petani biasa. Karsa memiliki banyak saudara, sejauh ini hanya Karsa yang memiliki peluang bagus untuk melanjutkan pendidikan. Sulit kubayangkan beban bapaknya jika harus menyekolahkan Karsa ke perguruan tinggi.

Aku pulang. Bapak menunggui ku dengan wajah muram. Ia mendapat kabar perihal undangan itu. “Harusnya kau belajar lebih giat,” katanya menatap ku nanar. Aku tertunduk dan diam. Bapak menghela napas panjang. Aku memahami kekecewaan bapak. Ia sangat berharap aku bisa mendapatkan undangan prioritas seperti Karsa.

Dua hari kemudian bapak memanggil ku. Di tangannya ada kertas yang kutahu persis. Formulir yang kemarin dipegang Karsa. “Formulir ini bapak dapatkan dari ayahnya Karsa. Karsa tidak mampu kuliah. Jangankan kuliah, untuk membayar pendaftaran saja bapaknya menyerah,” aku terdiam. “Formulir ini diberikan ayah Karsa pada bapak. Tidak gratis. Bapak harus menggantinya dengan sepetak sawah. Kau harus hargai itu,” aku mengangguk lemah. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat Karsa lagi.

*****……………….*****

“Aku jadi pengacara, Boy..” kata ku berbohong. Matanya berbinar menatap ku yang tersenyum kaku. Ia melaju masuk ke dalam rumah dan sekejap keluar menenteng surat yang kutahu persis. Surat perintah eksekusi oleh jaksa.

“Kau coba lihat Ran, aku membutuhkan bantuan mu,”
aku melirik sejenak. Ia menatap ku dengan nanar. “Sawah yang bapak mu berikan dulu, kugadai tahun lalu di bank, untuk biaya pengobatan Deli,” katanya lirih. “Hanya sawah ini satu-satunya yang kami punya, Ran. Kalau sawah ini diambil, entah ke mana kami harus pergi..” matanya berkaca-kaca. Aku menghela napas panjang. “Bagaimana, Ran?” ia mendesak. “Apa sawah kami bisa diselamatkan?”

“Hanya ada satu jalan, kau harus segera melunasi hutang mu,” surat eksekusi itu kukembalikan padanya.

Ia tampak luruh. Surat itu ia remas. Karsa duduk dan bersandar menatap langit. Jawaban ku bukan harapannya.

“Aku tak punya apa-apa lagi, Ran….,” katanya.

Aku menahan letupan di hati ku. Kalau saja dulu Karsa yang mendapatkan undangan itu. Karsa yang selalu peringkat satu kini lemah tak berdaya melawan nasibnya.

“Karsa, aku harus pulang dulu. Kapan-kapan aku kemari….,” ia hanya tersenyum.

Aku melangkah lesu. Kuhempaskan tubuh ku pada busa empuk mobil dinas yang kugunakan. Kubuka amplop di kursi sebelah. Kertasnya kubuka lebar. Isinya sama dengan yang diperlihatkan Karsa. Ya, aku jaksa yang akan melakukannya.

—- Selesai —-

Sumber gambar : pixabay.com


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis yang aktif menulis kisah fiksi. Cerpen ‘Surat Perintah’ ini adalah Cerpen ke delapannya (tulisan ke sebelas) yang terbit khusus hanya di desfortin.com

4 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s