Cerpen : Sebuah Pertemuan

Cerpen Desfortin (Desfortin Menulis, 27 Januari 2019)

“Maaf, boleh saya minta nomor WA Anda?” itulah pesan singkat (DM) yang berkali-kali kuterima di inbox Messengerku, beberapa bulan lalu. Dari sebuah akun Messenger baru. Wajahnya asing, tapi dari foto profilnya nampaknya ia seorang pria. Pria dengan perawakan gagah, kulitnya terang, dan hidung yang mancung. Mirip Brad Pitt, pemeran Achilles dalam Film Helen of Troy.

Aku sudah sering menerima DM semacam itu, baik dari orang yang kukenal hingga nomor atau akun asing, utamanya sih dari laki-laki, entah dari mana asalnya. Biasanya, tujuannya kalau tidak untuk sekedar menyapa, chat ngalor-ngidul, modus kenalan hingga modus penipuan. Aku tahu, meski telah menikah, parasku masih cantik. Maklum, anakku baru satu. Mungkin wajar jika aku masih menarik dipandang mata, apalagi oleh kaum lawan jenis, entah yang masih brondong atau sudah berumur. Aku sudah biasa, karenanya aku abai saja dengan pesan itu.

Pasalnya, saat itu aku juga sedang berkendara di jalan. Ya, mobilku saat itu melaju di jalanan kota BARU, sedang dalam perjalanan pulang ke desa SULUNG. Aku memang diizinkan membawa mobil ini oleh suamiku. Mobil hadiah ulang tahunku darinya. Suamiku memang tajir, aku beruntung memilikinya. Namun, satu tahun belakangan, biduk rumah tangga kami bergejolak karena hadirnya orang ketiga. Hampir saja oleng. Suamiku berbuat nakal di belakangku. Untunglah karena aku tidak membalasnya. Aku tetap sabar dan memilih untuk tetap mencintainya. Bukan apa, karena ia masih begitu baik dan perhatian terhadap anak semata wayang kami, Boas Andira.


………..

“Maaf, saya boleh minta dan save nomor WA-nya, Mbak? Please! Nama saya Dewanto,” pesan DM dari akun yang sama itu kembali masuk ke inbox ku, seminggu kemudian.

“O822543444xx,” tanpa pikir panjang lagi akupun memberikan nomor kontak WA-ku. Tak apalah, pikirku kali ini.

“Saya save ni ya?” lanjutnya.

“Iya,” jawabku singkat.

Hari-hari kujalani dengan kesibukan. Aku memang wanita sibuk, selain sibuk mengurus rumah tanggaku, agenda di kantor juga lumayan padat beberapa minggu belakangan. Sehingga, untuk terlalu peduli pada chat semacam itu minim. Apalagi lantaran pengalaman beberapa bulan lalu, ada akun palsu yang ujung-ujungnya ingin menipu, dengan meminta data pribadiku, termasuk nomor rekening. Untunglah, aku bukan wanita bodoh sehingga niat jahat itu tak pernah berhasil memperdayaku. Syukurlah.


Tiga hari kemudian …

“Ini saya, Mbak. Nama saya Dewanto. Dewanto Achilles,” sebuah pesan masuk di WA-ku. Foto profil (DP) nya persis seperti yang masuk di akun Messengerku itu.

“Ya,” kataku.

Entahlah, aku masih tidak antusias menanggapi chat-nya. Kupikir, jangan-jangan ini ujungnya modus lagi.

“Begini, ada yang mau saya sampaikan. Tapi saya bingung harus mulai dari mana,” katanya lagi.

Jujur, dalam nurani terdalam ku, sepertinya aku mengetahui maksudnya. Sebab, aku pernah melihat swafoto lelaki itu dengan seorang wanita yang kukenal di kampungku. Namanya Etty Halilintar. Dalam keseharian, wanita itu kupanggil kakak, ia masih kerabat dari suamiku. Ada isu juga, ia dan suamiku ada affair. Tapi aku menepisnya. Aku berusaha tetap berpikiran positif.

“Ada apa? Katakan saja,” tanya dan pintaku sekaligus dengan polos.

“Saya rasa, sebenarnya Mbak sudah tahu maksud saya, hanya saya bingung menjelaskannya, tapi ya sudahlah,” kata-katanya membuatku sesungguhnya tak tertarik untuk melanjutkan obrolan. Bukankah tadi ia ingin menyampaikan sesuatu?

Dasar tidak jelas, batinku.

“Anda kenal saya?” tanyaku lagi.

“Cukup kenal. Nama Mbak adalah Maya, Maya Silvianty,” jawabnya. “Saya juga kenal dengan suami Mbak,” imbuhnya lagi.

Apa? Ia juga kenal Mas Ari, suamiku? aku membatin lagi.

“Where are you from and where do you live?” tanyaku dalam Bahasa Inggris.

“Saya dari Semarang. Tapi sekarang tinggal di Sukamaju. Tepatnya di desa Balai Jeram (BJ),” jawabnya.

Balai Jeram? Pikirku. Rasanya aku pernah punya kerabat dari BJ, di kampung kelahiranku, Batu Kaling (BK). Tapi entahlah, aku lupa.

“Saya pernah kenal dengan Mbak Etty Halilintar, hubungan kami spesial, bahkan bukan untuk sehari dua hari. 5 tahun,” jelasnya lagi.

“???? πŸ˜‡” hanya tanda tanya dan emoticon pusing ini yang kuketik untuk membalas chat-nya kala itu.

“Ada banyak hal yang ingin saya obrolkan, tapi ya sudahlah, sepertinya Mbak Maya juga tidak tertarik. Kayaknya Mbak juga lagi sibuk. Jadi lain kali saja,” begitu ia menjelaskan, meski terkesan kian mengaburkan maksudnya.

“Ya sudah,” responsku cuek dan ketus.

Aku pun kemudian abai dengan pesan lelaki bernama Dewanto itu, meski nuraniku mengatakan ada sesuatu. Ada sesuatu yang perlu kuketahui. Karena saat itu aku memang masih sibuk dengan agendaku di kota BARU, pesan tersebut kemudian seolah lenyap dari ingatanku.

……………

Siang itu, setelah non aktif selama 3 hari dari hiruk-pikuk media sosial, aku membuka akun fesbuk ku. Ada banyak tanda merah di tombol notifikasi. Status teman-teman fesbuker bertaburan. Seperti biasa, dari curhat konyol, lebay, hingga yang serius. Dari TS tentang sosial politik, agama hingga ngiklan, dan itu kerap membuatku sebal. Hal yang menyebalkan adalah, ketika namaku di-tag untuk TS yang tak kusuka dan sensitif. Medsos, memang selalu ramai. Kadang, ia seperti pisau bermata dua. Bisa untuk yang positif, bisa pula untuk yang negatif, semua tergantung siapa penggunanya. Ya, zaman ini memang sudah canggih, dan edannya juga canggih. Seolah semua hal bisa dilakukan. Utamanya medsos seperti fesbuk, selain potensial untuk menyampaikan hal positif bisa juga mengumbar hal negatif, bahkan aib memalukan sekalipun. Itulah ekses lain dari kemajuan teknologi.

Dari sekian banyak status, perhatianku tiba-tiba terhenti pada status seseorang. Aku kenal nama pemilik akun tersebut, milik Kak Etty, tapi kami memang tidak berteman akrab di dunia nyata maupun di dunia maya, apalagi setelah kumendengar isu kedekatannya dengan Mas Ari Andira, suamiku. Rasa simpatiku padanya runtuh.

Status apaan ini? Gumamku. Napasku cekat, membacanya serasa sembilu menyayat hati. Pedih. Kesal. Kejam. Kecewa bercampur malu tak terkira. Aku curiga, ini sepertinya ungkapan sebuah aib perselingkuhan. Rasa curigaku tertuju pada Mas Ari. Ungkapan tersebut ditujukan untuk Kak Etty. Tapi anehnya, kenapa status itu justru diunggah oleh akun Etty Halilintar? Hatiku begah, dan aku tak mampu menahan air mata. Aku langsung screenshot status itu. Hatiku mengatakan, ini memang ada kaitannya denganku, dengan masalah rumah tanggaku, yang kini memang tengah didera prahara. Suamiku selingkuh, dan ini yang kedua kalinya.

Perkara status fesbuk itu, aku hanya masih menyimpannya dalam hati, aku tak mau gegabah atau suudzon dengan semuanya. Makanya, aku juga hanya screenshot.


Lama waktu berselang, aku tak lagi mendapat chat dari lelaki bernama Dewanto itu. Akupun masih sibuk dengan pekerjaanku. Aku harus bolak balik dari tempat tugasku di desa SULUNG ke kota BARU. Ada ada saja tugas dinas dari kantor. Apalah daya, aku hanyalah bawahan.

Yang menjadi masalah, bukan kesibukan itu. Tapi rumah tanggaku. Suamiku kini berubah. Ia tak lagi perhatian dan peduli padaku. Kami juga sering bertengkar di rumah. Mulai dari hal sepele hingga masalah serius; tentang prinsip hidup. Kebahagiaan yang dulu kami rasakan, kini seolah sirna dalam waktu singkat. Isu merebak, suamiku selingkuh lagi. Yang miris dan menyayat hati, wanita yang memikat hatinya adalah Kak Etty. Tega. Tega sekali mereka.

Karenanya, aku kini sudah jarang pergi bersama Mas Ari. Ke mana-mana selalu sendiri. Begitupun sebaliknya. Dan mobil yang kumiliki inilah yang selalu menemani, walau sesekali bersama Boas juga.

………

“Nomor siapa ini?” sebuah pesan pribadi masuk lagi ke WA-ku. Tapi kali ini nomor baru, tanpa nama.

“Kamu Rini ya?” tulisnya lagi. Sepertinya orang ini salah nomor. Begitu identifikasiku.

“Aku Dewanto. Aku di bandara, baru landing ni,” ia melanjutkan.

Sepertinya dia lagi. Tapi kenapa nomor baru? Aku masih abai, tapi ada rasa penasaran juga.

“Kamu salah orang kali; salah sambung,” jawabku pada chat-nya itu. “Aku bukan Rini,” tegasku lagi.

“Lalu, siapa? Maaf kalau salah,” tanyanya penasaran.

Aku tak mau menjawab. Aku masih trauma, modus obrolan begini bukan sekali dua kali terjadi. Sering. Dan asumsiku, jangan-jangan ini orang modus lagi, pura-pura salah nomor.

“Saya Dewanto,” tegasnya sekali lagi.

Entahlah, apa ia memang salah nomor atau apa, yang pasti, aku masih belum yakin. Apalagi kemudian ia menulis, “O iya, sepertinya saya tahu Anda. Ya, saya tahu.”

“Who am I?” tanyaku.

“Maya,” jawabnya.

“No, I am Silvianty,” jawabku iseng. “Maya and Silvianty are different, right?” jawabku ngasal lagi.

“Do you know the difference?” tanyaku.

“Maya itu orang SULUNG,” jawabnya sok tahu.

“How about Silvianty?” tanyaku lagi. Chat kami tidak fair. Aku terus memakai Bahasa Inggris, dia Bahasa Indonesia. Tapi tak masalah, ia setuju saja.

“Silvianty itu wanita karir, sok sibuk, πŸ˜‚πŸ˜‚” jawabnya nyeleneh disertai emoticon ketawa. Sepertinya ia memang Dewanto Achilles, lelaki itu. Tapi keraguan masih berbisik di benakku. Aku takut ada orang iseng yang bermaksud usil. Untuk meyakinkan, aku lalu meminta fotonya, dan iapun mengirimnya, meski ia sempat enggan dan sewot dengan ketidakpercayaanku.

Akhirnya aku yakin kalau ia benar-benar Dewanto Achilles.

“Why did you change your number?” tanyaku heran.

“Smartphone ku yang lama hilang, nomor kontak juga banyak yang hilang, untung ada google drive,” ia menjelaskan. Akhirnya aku tahu kenapa ia mengiraku Rini di awal obrolan kami itu.

“Terus, kamu di mana sekarang?” tanyaku.

Jawabnya,”Saya di Semarang.”

“Mungkin saya tidak akan pulang ke Balai Jeram lagi,” tandasnya.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Rasanya terlalu berat. Tapi, saya hanya ingin liburan sih,” jawabnya tak pasti.

“Kamu menyembunyikan sesuatu,” kataku.

“Menyembunyikan apa?” ia balik bertanya.

“Itu status di fesbuk Etty Halilintar, maksudnya apa ya?” tanyaku.

“Itu sudah menjadi milik saya sejak lama. Fesbuk Etty itu saya yang jalankan. Jadi, jangan heran!” jawabnya.

“Mana status di fesbuk Etty Halilintar itu? Kok hilang?” tanyaku.

“Sudah baca ya?” ia malah bertanya balik.

“Sudah saya tutup akunnya,” katanya lagi.

Benar dugaanku, akun tersebut tak kutemukan lagi, sekalipun aku berkali-kali melacaknya. Ternyata itu alasannya.

“Saya sudah tahu kok,” imbuhku.

“Bahkan sudah saya screenshot,” kataku sejujurnya.

“Apa?” jawabnya kaget. Ya, aku memang masih menyimpan screenshot itu. Untuk jaga-jaga. Ternyata benar, status itu merupakan foto tangkap layar yang diambilnya dari ponsel milik Etty. Teks memalukan itu ditulis Mas Ari untuk Etty. Miris. Karena kesal dan tak tahan lagi, Mas Dewanto nekat mengumbar teks aib itu ke media sosial. Ia berpikir, karena melihat skandal itu bukan rahasia lagi, maka ia melakukannya. Dengan harapan, biar hancur sekalian.

Meskipun aku marah dan kecewa atas perbuatannya itu, tapi akhirnya aku maklum. Ia sempat merasa bersalah dan meminta maaf. Mungkin itu juga alasan kenapa ia pergi ke Semarang; untuk menenangkan diri. Dan kami lalu berteman, saya banyak mengorek tentang skandal suamiku dan mantannya, Etty. Suamiku, orang yang kucinta itu, berbuat serong di belakangku. Dan Mas Dewanto, ternyata ia lebih banyak tahu tentang hubungan terlarang itu.

Aku belum puas. Maka aku berniat untuk bertemu langsung dengannya suatu hari, dan ia setuju. Sisi baiknya, ia masih kembali ke BJ, tempatnya bekerja sebagai guru; guru Matematika. Selanjutnya jadwal pertemuan pun diatur.


Hari itu, aku sedang ada urusan di sebuah bank swasta di kota BARU, saat itu ia menelponku.

[Biasa sa cinta satu sa pinta
Jang terlalu mengekang rasa
Karna kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karna su sayang…]

“Ya, Hallo!!” jawabku.

“Saya sudah sampai, Mbak. Jam berapa kita ketemunya, bisa sekarang?” tanyanya.

Aku melirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit. Sebentar lagi layanan bank juga rehat.

“Sebentar, saya masih di bank. Gimana kalau jam 11.30 wib siang ini?” usulku.

“Oke, kalau gitu. Kebetulan saya juga mau ke tukang service laptop,” katanya sepakat.


Aku yang datang duluan ke tempat yang telah kami sepakati, di sebuah restoran ternama di kota BARU.

“Saya sudah di lokasi, Mas Dewa. Ditunggu ya!” chat-ku terkirim, dan 2 centang biru, tanda terbaca.

“Di mana posisi, Mbak? Saya juga sudah di lokasi nich,” jawabnya.

Setelah aku menelponnya dan menjelaskan posisiku, akhirnya kami pun bertemu di sana. Ternyata benar, Mas Dewa tampak lebih gagah dari yang aku lihat di foto. Orangnya juga baik, ramah, dan santai. Menurutku, Etty bodoh karena menyia-nyiakan pria baik dan setia ini. Bodoh sekaligus tega karena ia juga menusukku dari belakang. Aku benci sekali.

Pertemuan kami di meja makan itu berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam. Karena jam 13.00 aku harus kembali lagi ke bank itu. Bagiku, pertemuan itu terasa begitu singkat, namun berkesan. Rasanya ingin bertemu lagi. Aku begitu menikmati obrolan santai kami selama pertemuan itu. Jujur, aku merasa nyaman. Chat-chat kami selanjutnya pun selalu nyambung, seolah kami telah berteman sejak lama.

Apa ini efek karena jarang diperhatikan oleh pasangan selama ini? Tapi, entahlah, bahkan tentang pertemuan dan pertemanan kami itu, kadang aku pun bertanya, apa itu etis atau tidak? Apa itu pantas atau justru berlebihan? Bukankah kami sama-sama korban dari sebuah pengkhianatan? Bukankah pasangan kami yang berskandal? Bukankah kami sama-sama gagal untuk membuat pasangan kami jatuh cinta setengah mati kepada masing-masing kami? Kenapa justru kami juga yang makin akrab, meski kami hanya berteman? Mengapa kami harus bertemu? Pertanyaan-pertanyaan itu sesekali membuncah, namun kubiarkan menguap bersama angin lalu.

Aku tahu, ada harapan dan alasan dari sebuah pertemuan. Aku juga yakin, bahwa di setiap denting kehidupan, pertemuan sesungguhnya selalu membawa arti. Ada pertemuan yang membawa bahagia. Ada pertemuan yang membawa derita dan penyesalan. Bagiku, pertemuan adalah sebuah misteri. Tapi aku yakin, selalu ada alasan di balik sebuah pertemuan. Dan betapa indahnya jika alasan itu ditemukan.


1 bulan kemudian …

Meski Mas Dewa pernah ingin agar kami tak berteman, lantaran hubungan pertemanan ini dianggapnya aneh, tapi kami masih saja berteman sampai hari ini. Dan, mostly obrolan kami masih tentang masalah yang kami hadapi. Ia banyak menguak fakta-fakta baru tentang skandal suamiku dan mantannya itu.

Ia merasa muak dengan ulah mereka. Ia juga sangat benci pada suamiku. Ia heran, apa yang melambari keputusanku untuk tetap mempertahankan pernikahanku jika faktanya telah separah ini. Aku tahu, hatiku memang hancur, dan setiap kali pulang ke rumah, hatiku tak damai, Mas Ari selalu bersikap dingin kepadaku, dan masalah kami makin runcing, kami seolah bukan seperti suami istri lagi. Tapi hingga kini, alasanku bertahan adalah karena aku belum siap saja dengan hatiku sendiri. Ada berbagai pertimbangan lain, termasuk demi anakku juga.


“Mbak, saya ingin kasih kabar, semoga tidak kecewa ya,” chat-nya tiba-tiba padaku, 4 hari kemudian.

“Kabar apa, Mas Dewa?” tanyaku penasaran.

“Saya akan menikah 2 bulan lagi,” balasnya.

“Oya?” tanyaku kaget, sedikit terbesit rasa iri.

“Asal jangan dengan Si Halilintar ya!” pintaku.

“Nggak kok, saya akan menikah dengan yang lain, yang jelas dia lebih baik dan seiman,” jawabnya.

“Baiklah. Jika kau undang, saya usahakan datang,” jawabku juga.

Dewanto Achilles, mantan kekasih perusak rumah tanggaku, akan bahagia menikah dengan wanita pilihannya. Sedangkan aku, aku masih bergumul dengan masalahku hingga detik ini. Bayang-bayang kelam masih membentang di hadapanku.

—-Selesai—-

Sumber gambar: WAG Screenshot

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

22 Comments »

  1. Duh, jutek banget ya mbak Maya ini πŸ˜€

    Aku sering dimintai nomor whatsapp oleh orang asing, baik itu dari pembaca blog maupun dari akun-akun di media sosial yang nggak jelas. Untuk pembaca yang meminta nomor, dulu sih semuanya langsung kukasih. Lama kelamaan aku juga selektif memberi nomor whatsapp ke pembaca karena ada di antara mereka yang modus buat ngobrol nggak penting.

    Mas, aku sempat bingung membaca percakapan Maya dan Dewanto di atas. Kalimat yang diucapkan oleh orang yang sama ditulis dalam satu paragraf, mas. Kecuali ucapannya terlalu panjang, atau ada “jeda” di antara ucapannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s