Teknik Menulis Bebas

Para penulis, khususnya pemula, pasti pernah atau sering mengalami writer’s block atau hambatan saat menulis. Entah kekurangan ide atau karena terbelenggu dengan aturan penulisan yang baku. Teknik menulis terkadang menjadi masalah bagi penulis pemula. Penulis biasanya merasa bahwa tulisan mereka harus memenuhi standar tata bahasa yang baku atau sesuai dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Sebagai tips, jika ingin bisa menulis dengan lancar, sebaiknya lupakan sejenak soal EYD atau EBI dan berbagai aturan yang rumit soal penulisan.

Sebaliknya, bebaskan diri Anda untuk menuliskan apa yang ada di sekitar Anda, apa saja yang Anda alami hari ini atau minggu ini dan apa yang sedang Anda rasakan. Bayangkan sejenak jika menulis itu seperti berbincang atau mengobrol. Lakukan saja dengan santai tanpa perlu merasa terbebani. Obrolan tersebut sebaiknya tercurahkan dalam bentuk tulisan.

Teknik menulis seperti ini biasa disebut dengan teknik menulis bebas atau free-writing. Mungkin tidak banyak penulis atau bloger yang menyukai teknik ini, tapi saya sendiri sering melakukannya. Menurut saya, dengan teknik menulis ini, justru otak kita bekerja dengan lebih baik. Jika sebelumnya macet, otak kita menjadi sulit berhenti menulis. Sebelum memulai teknik ini, memang ada baiknya tentukan dulu apa topiknya. Jika sudah ketemu, lakukan teknik menulis bebas. Teruslah menulis seperti air yang mengalir. Teknik menulis bebas sangat membantu penulis yang mengalami ‘stuck’ di tengah jalan.

Bagaimana memainkan atau menerapkan teknik menulis bebas ini?

Pertama, lupakan dulu aturan-aturan yang baku. Memang banyak sekali aturan yang baku dalam dunia tulis menulis. Sebaiknya, lupakan ini dulu. Tuliskan saja apa yang ada dalam kepala Anda. Soal susunan itu dikesampingkan dulu. Banyak penulis profesional yang suka menulis secara acak agar tidak stuck. Menyusun tulisan lakukan nanti saja.

Kedua, tuliskan sesuatu yang sudah dikuasai. Seperti orang yang bercerita, orang yang tidak pandai mengarang akan kehabisan bahan untuk bercerita. Ini tentu saja berbeda dengan orang yang menceritakan sesuatu yang sudah dia kuasai sebelumnya. Pilihlah topik yang benar-benar Anda sukai dan Anda pahami. Saya pernah menyarankan ini kepada teman saya yang ingin belajar menulis. Dia suka dengan dunia binatang, lebih baik ceritakan dunia binatang karena dia paham betul. Jangan cerita soal politik. Karena dia tidak menguasai, itulah saran saya.

Ke tiga, jangan menyempurnakan dulu. Saya tahu bahwa setiap penulis ingin karyanya menjadi karya yang baik dan ingin melakukan yang terbaik untuk karyanya. Tetapi jika ingin menerapkan teknik menulis bebas, sebaiknya jangan berpikir untuk menjadi sempurna dahulu. Ceritakan saja semuanya terlebih dahulu baru nanti menyempurnakan. Menyempurnakan terlebih dahulu malah membuat tulisan kita tidak akan pernah selesai.

Ke empat, tidak perlu terlalu mendetail, tulis dengan bahasa yang sederhana. Saya sering menjumpai penulis yang entah dengan alasan apa senang menggunakan bahasa yang rumit untuk menjelaskan tulisannya. Ini justru tidak baik untuk si penulis itu sendiri. Tulisan kita akan dibaca oleh orang lain, bukan hanya oleh kita. Jadi, tulisan sebaiknya dibuat dengan sederhana dan mudah dipahami orang lain. Tulisan adalah media untuk menyampaikan pesan. Tentu Anda tidak ingin pembaca mengernyitkan dahi dan bertanya “Apa maksud tulisan ini?”

Terakhir, tidak usah memaksakan diri menyelesaikan tulisan dalam waktu yang cepat. Kita tidak sedang diburu waktu seperti saat ujian. Tulisan yang dibuat dengan tergesa-gesa malah hasilnya tidak terlalu baik. Berikan waktu untuk diri sendiri memperbaiki tulisan yang dirasa masih kurang tepat. Menulis, terlebih lagi mengedit, bukan pekerjaan sulapan. Dibutuhkan ketelitian dan sense yang cukup tinggi agar tercipta karya yang baik.

Bagaimana, apakah Anda ingin mencoba teknik ini? Atau sudah pernah mencobanya? Bagikan di kotak komentar.

Salam,

Desfortin

Sumber gambar : id.m.wikihow.com

13 Comments »

  1. Terima kasih sudah berbagi, Kak.

    Ya, writer’s block adalah masalah yang paling menyebalkan dalam aktivitas tulis menulis. Kalau sudah berhadapan dengan masalah ini, cukup rumit untuk menemukan kembali keinginan untuk kembali menulis. Kalau Ayu sendiri, Ayu bisa sedikit mengakalinya dengan banyak-banyak membaca. Membaca tidak mesti ‘buku’, bisa saja artikel ringan atau apapun yang bisa merangsang kembali keinginan untuk menulis atau mengungkapkan sesuatu dalam bentuk tulisan. Kadang untuk saat ini, menonton sesuatu bahkan bisa menimbulkan hasrat untuk menulis dan berbagi sesuatu.

    Tips yang Kakak bagikan juga adalah hal-hal yang Ayu praktikkan kalau ingin menulis. EYD itu masalah belakangan malah hahahaha. Ketika Ayu menulis, Ayu membayangkan diri sedang berbicara dengan para pembaca, jadi kadang bahasa yang dihasilkan dalam tulisan Ayu bersifat terlalu ‘bebas’. Tapi, semoga masih bisa dipahami oleh pembaca.

    Lalu, kalau sudah ada niatan untuk menulis, Ayu bukanlah orang yang bisa membatasi diri. Menulis ya menulis, biar saja se-natural itu. Ambil laptop dan menulis.

    Disukai oleh 2 orang

  2. teknik menulis saya masih suka-suka. Tapi, merasa puyeng duluan kalau ikut kelas menulis.
    Efeknya, setelah publish di blog dan dibaca ulang, kadang suka bingung sendiri 😳
    Tipsnya, sangat membantu, bakal dipraktekkan, mas. Terima kasih.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s