Cerpen : Kisahku yang Punya Indra ke Enam

Cerpen Aris Nohara (Desfortin Menulis, 06 Januari 2019)

Untuk membunuh rasa resah dan gelisah akibat gangguan makhluk tak kasatmata yang nyata bila berhadapan denganku yang memiliki indra ke enam, aku biasanya melakukan olahraga malam, salah satunya lari. Hidupku tak sebahagia kata orang, meski memang benar jika aku selalu unggul dalam materi. Itu pun karena kerja kerasku sendiri. Tapi apalah arti keberlimpahan ini jika aku tak punya teman dan malah ditemani makhluk-makhluk bermuka seram. Juga perihal ayahku yang tak pernah pulang ke rumah meski berkali-kali aku memintanya untuk cuti dari tugas kepolisiannya barang beberapa hari saja. Tetapi tetap, ia tak datang. Ia memang mencintai negaranya lebih dari rasa cinta terhadap keluarganya sendiri. Awalnya aku benci semua ini, aku benci ayahku yang seorang polisi, hingga perkataannya pada suatu ketika menyadarkanku bahwa ia melakukan segala sesuatunya juga untuk diriku.

Dia adalah sebenar-benarnya patriot, tak peduli meski sesiapa menyebutnya dengan berbagai macam nama nan menghala tak suka seolah dia durjana, yang nyata ialah sebaliknya. Hanya beberapa orang saja dan juga aku pastinya yang tahu seperti apa dirinya sesungguhnya. Manusia memang suka seenaknya, melihat dari luarnya saja lalu menilai tanpa pertimbangan seperti apa, bagaimana, dan mengapa.

Hidupku selalu berpindah-pindah, dari tempat satu ke tempat yang lain, kota yang ini ke kota yang itu untuk mencari kedamaian hati, hingga akhirnya aku jatuh cinta pada satu kota di Jawa Tengah bernama: Temanggung. Itu pun tak luput dari keberadaan makhluk-makhluk tak kasatmata tersebut. Pernah suatu ketika sebuah lukisan tua yang ada di kamarku berpindah tempat sedang aku tak pernah memindahkannya, lagi pula letaknya pun terlalu tinggi. Ibuku juga jarang datang ke rumah, kalau datang juga pasti tak akanlah sampai memindahkan lukisan di kamarku. Pernah juga waktu itu ketika aku terjaga malah bukan di kamar tidurku, tetapi di kamar yang lainnya; kamar tamu. Aku yakin betul aku tak pernah menginjakkan kaki di kamar itu pada malamnya, tetapi entahlah, kurasa ini perbuatan mereka.

“Non, kenapa tidur di kamar ini?” tanya asisten rumah tanggaku begitu ia melihat aku tidur di kamar yang hendak ia bersihkan. Aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal.

“Hehe, saya bosan tidur di kamar saya sendiri,” jawabku beralibi, sebab jika kuceritakan kejadian yang sebenarnya, ia pasti akan pamit untuk tak bekerja saat ini juga.

Pernah juga waktu itu, aku dan ibuku mendengar suara orang nyinden, padahal di perumahan mewah ini tidak ada seorang penyinden dan kebanyakan terisi oleh orang-orang kantoran dan pembisnis seperti aku. Hanya saja bagiku itu terdengar seperti sebuah tangisan yang menusuk-nusuk gendang telinga.

Dan yang terakhir adalah tiga sosok di sebuah bangunan sekolahan dekat masjid yang terus memandangiku ketika aku melintasi bangunan itu. Mereka menatapku tajam, mata mereka merah menyala, dan jika mereka sudah bermunculan seperti itu yang dapat aku lakukan hanya mempercepat laju lariku. Hingga suatu ketika salah satu dari ketiga makhluk itu mengejarku yang secepat apapun aku berlari pastilah kan terkejar, beruntung aku bisa sampai di keramaian yang imbasnya membuat makhluk tersebut hilang, lesap tanpa jejak.

Suatu ketika, karena aku sudah terlalu geram dengan gangguan-gangguan yang ada, aku menyempatkan diri mengunjungi rumah tokoh desa di dekat perumahan ini. Tak semudah yang dibayangkan, karena pekerjaan tokoh desa yang juga seorang petani itu membuatku tak pernah bisa menemuinya karena ia selalu berada di sawah, sepanjang hari. Tapi aku tak mau menyerah, bagiku gangguan ini haruslah segera dimusnahkan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku demi menunggui tokoh desa itu sepanjang hari dan akhirnya aku pun menemuinya.

Orang tersebut ialah seorang kakek yang bahkan sudah terlihat enggan ketika melihatku duduk di serambi rumahnya, ia pun berlenggang pergi meninggalkanku.

“Saya butuh bantuan Anda,” kataku pada orang tersebut.
Kakek itu menghentikan langkahnya.

“Aku tidak bisa membantu kamu, lebih baik pulang saja sana!” teriak sang kakek seraya pergi meninggalkanku.

Esok harinya, aku datang lagi pagi-pagi sekali agar sang kakek tak keburu menjalankan aktivitasnya. Beruntung sebab pagi itu kakek belum pergi ke sawah/ke ladangnya.

“Pergi! Jangan datang ke rumah ini lagi!” masih dengan ekspresi yang sama ia menghardikku.
Namun aku tak gentar.

“Tolonglah saya kek, saya diganggu makhluk halus,” kataku memelas.

“Aku tahu, sejak kemarin juga kau diikuti makhluk-makhluk itu,” kata sang kakek.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak kutemukan sesiapa, bahkan auranya pun tak kurasakan. Hal itu pula lah yang membuatku tersadar bahwa kakek ini bukanlah manusia biasa pada umumnya.

“Kakek punya indra ke enam juga?” tanyaku.

“Juga?” ia justru balik bertanya, dahinya mengernyit.

“Jadi ka-mu…,” kata kakek terbata sembari menunjuk ke arahku.

“Iya, kita ini sama,” jawabku.

Setelahnya sang kakek malah berubah 180 derajat begitu mengetahui bahwa aku dan dirinya memiliki kesamaan, ia mempersilakan aku untuk duduk di kursi ruang tamu bahkan menjamui ku dengan berbagai makanan ringan dan juga teh panas.

“Tapi kenapa kamu tidak bisa melihat ketiga sosok tersebut?” tanya kakek. Aku menggeleng sembari menjawab, “Saya juga tak tahu kek, bahkan auranya saja tidak bisa saya rasakan. Hanya pernah melihatnya beberapa kali saja di gedung sekolahan.”

“Ini aneh,” kata sang kakek.

“Boleh aku berkunjung ke rumahmu?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum, “Boleh sekali, silakan berkunjung kapan saja.”

“Oh iya, namaku Rusdi,” kata kakek seraya menjulurkan tangan.

Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diri, “Nama saya Indri, Kek.”

Setelah kami saling berkenalan dan aku menuliskan alamat rumahku pada secarik kertas, aku pun pamit. Sebab aku sudah harus berkencan lagi dengan bertumpuk pekerjaan yang aku tinggalkan selama ini.


Keesokan harinya…

Sama seperti setiap pagi yang kulewati, di mana aku selalu terbangun di tempat lain dan bukan berada di kamarku. Aku mulai berpikir nanti malam aku akan tidur di sini saja agar makhluk-makhluk itu tak perlu repot memindahkanku ke kamar ini. Saat itu pulalah suara ketukan pintu terdengar, aku menghampiri pintu.

Rupanya asisten rumah tanggaku yang ada di balik pintu.

“Ada apa, Mbak?” tanyaku.

“Itu di luar ada yang nyariin,” kata si Mbak seraya menunjuk ke arah pintu.

“Siapa sih, pagi-pagi begini sudah bertamu?” tanyaku menggerutu sambil berjalan mendekati pintu. Aku membuka pintu, dan sedikit terkejut melihat kakek Rusdi sudah ada di depan pintu.

“Kakek?” tanyaku.

Aku terkesiap melihat wajahnya penuh akan peluh, ini bahkan masih pagi, lalu apa yang membuatnya bisa berkeringat sampai seperti itu? Tanyaku dalam hati. Kakek menoleh, ia langsung menarikku ke luar rumah bahkan membawaku ke luar kompleks perumahan. Cengkeramannya begitu kuat, aku bahkan sampai meringis kesakitan. Namun tetap tak dapat melawan atau barang mengatakan kesakitan yang aku rasakan.

“Ada apa sih, Kek?” tanyaku.
Kakek melepaskan genggaman tangannya.

“Apa kamu mengalami hal yang aneh semalam atau pagi ini?” kakek Rusdi justru kembali bertanya.

“Iya, biasa Kek, saya berpindah tempat tidur,” jawabku.

Mendengar jawabanku, mata kakek mengerjap, kulihat bibirnya juga komat-kamit, dan ia menggumam. Sejurus kemudian secepat kilat tangannya mengusap wajahku, aku bahkan tak sempat mengelak. Tercium aroma bebunga yang tak kuketahui dengan pasti, seperti campuran antara mawar dan melati.

“Coba kamu lihat!” perintah kakek seraya menunjuk ke arah gedung SMA.

Aku terkejut bukan main, kulihat di sana lalu lalang orang-orang mirip dalam drama kolosal kerajaan zaman dahulu. Kulihat seorang mirip putri duduk di sebuah gazebo, lalu tiga orang yang biasa menatapku dengan tatapan mata yang merah menyala dan tajam itu kini tersenyum kepadaku, bahkan wajah mereka tampan. Mereka selalu memeriksa ketika seorang, dua orang datang untuk menemui putri, dari sana kuketahui bahwa mereka adalah para penjaga putri.

“Yang kamu lihat itu adalah, keputren,” kata kakek.
“Dan jika gedung SMA itu adalah keputren, kamu tahu di mana istana utamanya?” tanya kakek.
Aku menggeleng, mataku masih terpaku menatap betapa cantiknya sang putri.
“Lihat!” kata kakek menunjuk ke arah perumahan yang kutinggali.

Kembali aku terkesiap bukan main, kali ini kulihat sebuah kerajaan nan luas, di mana singgasananya terletak tepat di rumahku. Aku mulai paham sekarang, tentang suara orang yang nyinden, berpindahnya aku dari kamarku, juga tentang lukisan.

“Itulah alasan kenapa perumahan mewah itu sepi, beberapa orang mendapat gangguan seperti yang kamu alami,” kata kakek.

“Aku pun terkejut, tak kusangka bila gedung yang biasa kulewati dan perumahan itu adalah sebuah kerajaan. Selama ini kukira hanyalah sebuah tempat terbunuhnya seseorang, makanya jadi angker, ternyata lebih dari itu,” kata kakek lagi.

“Jadi saya harus bagaimana kek?” tanyaku akhirnya setelah tak tahu lagi hendak berkata apa.

“Sepertinya kamu harus pindah dari perumahan itu,” jawab kakek. Dahi ku spontan mengernyit.

“Jadi saya harus pindah lagi?” tanyaku lagi.

Kakek mengangguk.

“Dari pada kamu diganggu terus, kan?” lanjut kakek.

Aku menghembuskan nafas panjang, dan mulai lesu. Lagi-lagi aku harus berpindah rumah, aku bahkan baru satu bulan di tempat ini, si Mbak juga pasti protes bila tahu tentang semua ini.

“Aku pamit dulu,” kata kakek.

“Oh iya, mulai sekarang, kamu harus mencopot sendal kamu ketika memasuki perumahan itu. Sebagai tanda hormat pada kerajaan dan semoga mereka tidak menganggu kamu,” kata kakek.

“Baik, kek,” kataku.

Kakek pun pergi, sedang aku mencopot sendalku lalu berjalan menuju ke rumah. Aku pun mencari-cari alasan yang tepat untuk perpindahan rumahku selanjutnya agar Mbak bisa mengerti dan mau mengikutiku seperti selama ini. Andai saja ia tak disuruh ayahku untuk menemaniku, pastilah dia sudah keluar sejak dulu.

Kini semuanya juga terlihat jelas, kursi singgasana yang megah itu tepat ada di kamarku, kakek terlupa menutup mata batinku yang mungkin sudah dua ratus persen ini karena nyaris tak ada satu makhluk dan juga bangunan kuno yang terlewat pandangan mata ku. Untuk masuk ke kamarku saja kini aku teramat takut.

Aku memanggil Mbak, sekejab ia sudah ada di depanku. Aku akan bersiap menerima protes dan betapa penasarannya ia akan alasan mengapa aku sudah harus pindah rumah lagi.

-Selesai-

Sumber gambar : pexels.com


Aris Nohara (nama pena) lahir di Temanggung, 12 Juni 1996. Ia adalah seorang bloger yang aktif menulis Cerpen dan Cerbung di blog pribadinya (https://arisnohara.wordpress.com). Selain itu, ia juga gemar menulis flash fiction dan puisi. Kini, ia juga sebagai salah satu kontributor di Desfortin Menulis. Cerpen berjudul : “Kisahku yang Punya Indra ke Enam” ini adalah Cerpen perdananya (yang terbit khusus) di desfortin.com

20 Comments »

  1. Meskipun mistis tapi ada bagian yang membuat ku pengen ketawa😂

    “Aku mulai berpikir nanti malam aku akan tidur di sini saja agar makhluk-makhluk itu tak perlu repot memindahkanku ke kamar ini.”

    Si tokoh mungkin sudah lelah pindah mulu.
    Tulisannya Bagus, ngalir👍 tapi aku ngerasa kalau porsi dialognya kurang. Hehehe maafkan daku banyak komen. Semangat👍👍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sempat kaget dengan gaya menulis kakak Desfortin yang berbeda dari biasanya. selesai membaca tulisan ini, baru sadar maksudnya apa…

    Keren lo Mas Aris Nohara, semangat terus menulis dan memperbaiki diri. Saya jadi berpikir kalau saja saya punya indra keenam, mungkin saya akan berlaku seperti dalam cerita ini juga 🤣🤣

    Disukai oleh 1 orang

    • Oya, pdhal di depan tulisan ad loh ini Cerpen siapa, hehe…..
      Utk fiksi rata2 dari kontributor, skrg.

      Semoga bln dpan bisa colab bareng Cen-Cen bikin Cerbung.

      Thanks for the comment ya Yu.

      Oya, Yu, kita brtman kan di fb? Biasanya sy ksh promosi trus utk tiap tulisan yg brusan sy rilis.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s