Refleksi Akhir Tahun 2018

Beberapa jam ke depan, bulan Desember 2018 akan segera berakhir, dan kita akan memasuki tahun yang baru. Akhir tahun menjelang awal tahun sudah seharusnya menjadi momen untuk merenungkan banyak hal secara mendalam. Tujuannya tidak lain agar ke depannya, di tahun yang baru, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari yang lalu. Kalau masa mendatang dengan masa lalu sama saja, untuk apa kita hidup saat ini? Kehidupan adalah perjalanan yang seyogyanya kita bisa mengambil banyak pelajaran supaya kita tidak tersesat dalam perjalanan tersebut. Menjelang tahun 2019, beberapa hal ini mungkin layak kita pikirkan kembali. Tidak ada salahnya merefleksikan sejumlah hal agar kita tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang mesti dipertahankan.

Apakah kita sudah produktif dalam keseharian kita?

Sebagai manusia yang memiliki akal, kita bisa merefleksikan produktivitas kita sepanjang tahun 2018. Tuhan sudah menganugerahkan waktu dan kesehatan untuk kita, apakah kita sudah memanfaatkannya dengan baik? Sepanjang 2018 ini, apakah kita sudah lebih banyak mengeluarkan karya daripada mengeluh? Apakah kita lebih banyak bekerja atau bermalas-malasan? Dan apakah kita sudah layak untuk disebut produktif atau sebaliknya? Jika memang sudah produktif, cukup pertahankan pola hidup seperti itu. Di masa depan, kita pasti akan memetik hasilnya. Sebaliknya, jika belum, pikirkan bagaimana caranya supaya kita produktif.

Apakah kita sudah memanfaatkan waktu dengan baik?

Banyak orang yang mengira bahwa kemewahan adalah uang dan harta yang melimpah. Padahal, yang mewah bagi manusia tidak lain adalah waktu. Karena waktu tidak pernah bisa terulang. Kita hidup seakan-akan hanya diberi satu momen yang tidak akan terulang. Jadi, ini menjadi hal yang layak kita renungkan. Sudah seberapa baik kita memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah kita lebih banyak mengalokasikan waktu kita untuk berbuat kebaikan atau justru berbuat keburukan? Apakah kita sudah memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya seakan-akan esok kita akan mati?

Sudahkah kita bersyukur?

Mungkin karena sudah terlalu banyak Tuhan anugerahkan nikmat kepada kita sehingga kita jarang bersyukur atau alpa dalam mensyukuri nikmat-Nya. Kita lupa bahwa bisa menatap matahari keesokan pagi atau bisa menghirup udara dengan gratis adalah nikmat Tuhan. Kita lupa bahwa kesehatan adalah harta yang paling berharga. Harta sebanyak apapun tidak akan bisa kita nikmati jika badan kita merasakan sakit, bukan? Mengapa kita tidak memulai 2019 dengan menambah rasa syukur kita? Bukankah bersyukur mendekatkan manusia dengan kebahagiaan?

Apakah kita sudah melakukan kewajiban kita dengan baik dan menuntut yang pantas ?

Ada hak dan kewajiban. Lakukan kewajiban dulu barulah menuntut hak. Seharusnya memang begitu. Menjadi manusia yang tahu diri sangatlah penting. Jangan sampai menuntut hak terlebih dahulu tetapi kewajiban belum tuntas. Dalam lingkup keluarga, kita bisa berefleksi, apakah kita sudah menjadi anggota keluarga yang baik? Apakah kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai anak/ibu/suami/istri dengan baik baru menuntut hak?

Dalam pekerjaan pun demikian, apakah kita lebih sering menuntut gaji naik sekaligus menjadi orang yang sering absen dan bolos kerja?

Apa target kita di tahun 2018 sudah tercapai atau hanya euforia di awal tahun?

Nah, ini mungkin menjadi hal yang paling penting dibandingkan dengan beberapa poin di atas. Di awal 2018, setiap kita tentu punya resolusi meskipun tidak banyak. Di akhir 2018 ini, bukalah catatan resolusi awal tahun, seberapa persen atau seberapa banyak resolusi yang kita tuliskan sudah terwujud? Jika belum terlalu banyak, maka selesaikan segera. Jika sudah banyak, saatnya tetapkan resolusi yang baru.

Selamat mengakhiri tahun 2018, mari kita sambut tahun yang baru, tahun 2019, tentu dengan harapan dan doa terbaik. Semoga di tahun depan kita semakin lebih baik lagi. Amin.

Salam,

Desfortin


Sumber gambar : pexels.com

6 Comments »

    • Ya, syukur itu seharusnya dlm segala hal, tp bkn utk smua hal. Ttp bersyukur baik dlm suasana suka maupun duka, tp jngn bersyukur utk kedukaan.

      Selamat thn baru 2019, Gloria. Bersama Tuhan, nothing is impossible.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s