Cerpen : Maaf, Rani

Cerpen Cen-Cen (Desfortin Menulis, 20 Desember 2018)

“Maaf Ran. Barangkali ini kesalahan ku. Aku tak pernah berani jujur sejak awal. Maaf”

Tidak ada balasan. Aku berulang mengecek kembali. Hanya centang satu tanpa warna. Rani betul-betul marah.

……………………

..Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya..

Aku segera mengangkat. Bukan Rani.

“Hallo Mas, di mana?”

“Mas di rumah. Kenapa?”

“Nanti malam jadi kan? Lihat-lihat undangan?”

Aku terdiam.

“Halo, Mas?”

“Iya jadi. Nanti Mas jemput. Jam 7 ya.”

Tutt..tutt..tutt..

…………………………………….

5 bulan lalu kami bertemu pertama kali di sebuah rumah makan. Aku sedang duduk sendiri ketika tiba-tiba gadis mungil ini mengganggu makan siang ku.

“Permisi, boleh saya ikut duduk di sini? Soalnya tempat lain penuh.”

Aku menatapnya dan menatap sekeliling kami. Memang penuh. Ini jam makan siang.

“Ya boleh. Mari..” aku berlagak ramah. Makan kami berjalan dengan cepat. Ia sedikit berlari mendahului ku dan membayar makan kami berdua. Aku belum sempat berkomentar. Ia lebih dulu menghilang di balik pintu.

Dua hari kemudian kami bertemu kembali di tempat yang sama. Bangku nomor 12. Kali ini giliran ku yang meminta bergabung.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Gadis ini, entah kenapa, senyumnya manis sekali. Ia telah menyelesaikan makannya sementara aku baru separuh. Tapi kuputuskan berhenti. Jangan sampai kehilangan jejak lagi.

“Hari ini saya yang bayar ya..”

Dia tersenyum kembali. Aduh. Hari berikutnya kami secara sengaja kembali saling menunggu. Kadang aku sengaja menunda makan ku kalau ia belum datang. Kuminta Mas Pur, tukang parkir untuk menelpon kalau ia telah datang. Kadang aku membayar. Kadang dia membayar untuk kami berdua. Awalnya hanya sebatas itu meski sesekali kami bercerita tentang pekerjaan.

“Aku kerja di puskesmas dekat sini. Tiap hari makan juga di sini,” katanya tersenyum. Hari itu perjumpaan kami yang ke 10. “Kamu kerja di mana?” lanjutnya.

“Aku juga dekat-dekat sini. Jadi kuli di kantor,” kataku. Ia tertawa renyah. “Kamu makan dekat-dekat aku, apa tidak ada yang marah?” aku memancing. Ia mengambil minum, meneguknya dan menatapku dengan dalam.

“Untuk urusan makan, aku merasa boleh duduk dengan siapa saja,” aku melongo. Jawabannya tidak sesuai harapku. “Belum punya pacar?” aku mendesak. Ia tersenyum dan menatapku penuh arti, lalu beranjak pergi. Tinggal aku sendirian.

Aduh. Lupa lagi minta nomer telponnya. Lupa menanyakan namanya. Aku menggerutu pada diriku sendiri. Minta nomor telpon kok susah sekali. Tinggal minta, catat, lalu miskol, selesai. Kalau bertemu lagi aku pasti tidak akan lupa. Lagi.

………………………….

Malam minggu. Sejak tadi hujan tak juga berhenti. Sebenarnya tidak penting apakah hujan lanjut atau tidak, toh aku juga masih di rumah, tidak ke mana-ke mana. Kuabaikan ajakan Mas Cun untuk sekedar hangout menikmati beberapa gelas bir. Malam ini aku hanya ingin bersantai sendiri.

..Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya..

Nomor baru tertera di hp ku.

“Hallo..”

“Ya hallo. Kamu sibuk tidak, malam ini? Aku dapat nomor mu dari Mas Pur.”

Detak jantung ku melaju. Suaranya terdengar akrab. Perempuan itu lagi.

“Kenapa?”

“Aku perlu teman ngobrol. Boleh?”

“Eh..? Anu.. boleh boleh. Di mana?”

Ia menyebutkan nama sebuah kafe. Aku segera memesan grab. Hanya 10 menit.

Suasana nampak sepi. Hujan barangkali memaksa orang untuk lebih memilih berdiam diri di rumah. Lampu-lampu yang sesekali meredup, alunan lagu yang disetel setengah suara dan dentingan gelas yang beradu di tangan pramusaji menyambut kedatangan ku. Kafe berlantai dua ini seingat ku baru berdiri. Lumayan juga. Ada beberapa meja biliar. Sesekali mereka menghadirkan disk jokey.

Aku menyapu pandangan ke semua arah. Nihil. Barangkali ia ada di atas. Aku setengah berlari menuju tangga. Baru saja aku muncul, ia tampak melambaikan tangan.

“Hai..”

“Hai. Sendiri? ”

“Rame-rame. Ada tukang gorengan juga.”

Ia tertawa kecil. Suasana yang temaram tampaknya tak mampu membendung keindahan senyumnya.

“Eh, ayo pesan..” ia mengejutkan aku. Sepertinya ia belum memesan apapun. Aku melambai pada seorang pramusaji.

“Satu bir hitam dingin dan 1 kentang goreng.”

“Saya juga” ia sambil menatap ku yang terkaget dan tersenyum kecil. Barangkali ia memahami keterkejutan ku.

Come on. Just beer..” katanya. Aku mengangkat kedua bahu. Kami berbincang hangat seolah telah menjadi kawan lama. Malam ini menjadi akhir dari pertanyaan-pertanyaan ku selama beberapa hari ini.

Rani seorang dokter. Sebaya dengan ku. Tadi sore itu ia mendapat kabar, kekasihnya telah menikah dengan orang lain. Perbedaan keyakinan antara mereka telah menjadi beban selama hampir 7 tahun. Ia lega. Namun tetap merasa kehilangan. Bagaimanapun juga, 7 tahun bukan waktu yang sempit. Air matanya kerap tumpah dan beberapa kali aku menyodorkan tisu.

Sepanjang malam itu aku hanya lebih banyak mendengar dan sesekali berusaha untuk terlihat ‘normal’. Bagaimanapun kami bukan teman dekat, seorang wanita dewasa bercerita pada lelaki dewasa seperti ku, bukan perkara sepele. Kami bukan remaja kemarin sore. Sesekali ia meminta ku bercerita tapi entah kenapa lidah ku kaku setiap kali hendak bercerita tentang diri ku.

“Kamu tidak dicari pacar mu? Inikan malam minggu?”

“Santai aja. Aku malam ini bukan milik siapa-siapa kok.”

Aku menjawab diplomatis. Aku takut ia merasa tak nyaman dan akan menjauh. Sejujurnya, ada rasa nyaman berada dalam situasi ini.

Jarum jam telah berada di angka 11. Obrolan kami lebih banyak diisi dengan sepi. Musik yang tadi pelan kini berubah menjadi dentuman-dentuman yang sanggup menggetarkan rongga dada. Kami duduk semakin rapat. Secara perlahan suasana berubah menjadi ramai. Ia berteriak melawan dentuman musik ke arah telinga ku.

“Kita cabut aja gimana?”

Aku mengangguk. Bukan pula kebiasaan ku berdua-duaan larut malam dengan seseorang yang baru kukenal. Kami melangkah ke luar.

Thanks ya, kamu sudah mau ke sini dan dengerin cerita ku,” ia menatap ku dengan sayu.

“Oke.”

Ia setengah berlari menuju mobilnya dan aku berbalik ke atas, it’s party time.

……………………………….

..Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya..

“Hallo Mas..”

“Iya. Kenapa?”

“Aku sudah ajukan resign. Bulan depan aku sudah pulang. Sambil menunggu pengganti.”

“Oh iya.”

Tutt.. tutt.. tut..

………………………….

Pukul 11 seperti biasa kami kembali bertemu di tempat makan. Kali ini ia tampak lebih bergembira. Sesekali aku menangkapnya sedang menatap ku dengan penuh senyum.

“Kenapa?”

“Enggak. Kamu kok makan sendiri terus?”

“Besok kuajak sekalian seluruh karyawan”

Ia tertawa renyah sambil memukul lengan ku.

“Jangan..”

“Kenapa?”

Ia meletakkan sendoknya dan menatap ku. Aku melakukan hal serupa. Tiba-tiba ia tertawa sambil menutup mulutnya.

“Ayo ah, makan lagi. Aku duluan ya”

Ia langsung meninggalkan ku yang entah kenapa merasa seperti disiram air es.

Malamnya kami janji bertemu untuk nonton film terbaru. Aku berusaha menolak tapi jelas tak mampu. Ia tak sungkan menggandeng tangan ku. Aku tentu merasa kikuk. Tapi biarlah. Barangkali ini hanya akan membuatnya sedikit terhibur. Ia lebih banyak berbicara. Setiap kali ada adegan atau tokoh yang muncul ia selalu berbisik, entah anak ini maniak film atau bagaimana, ia bisa tahu banyak hal tentang film.

“Kamu beneran nggak punya pacar?”

Pertanyaannya tiba-tiba ketika kami masih dalam lift di perjalanan pulang. Aku terdiam pura-pura tidak mendengar.

“Eh, tadi apa?”

Matanya mendelik lalu melongos. Setelah itu kami lewati malam tanpa banyak bicara.

…………………….

Aku sengaja mengajak Fajar untuk menemani ku makan siang. Kami datang lebih awal. Rani menyusul tapi ia menunjukkan sikap yang berbeda begitu melihat aku duduk bersama Fajar. Kami melewati makan tanpa banyak bicara. Sebenarnya aku ingin mengenalkan Fajar padanya tapi kuurungkan melihat sikapnya. Betul saja, begitu sampai kantor aku melihat banyak sekali panggilan tak terjawabnya. Aku berusaha menelpon kembali.

“Kenapa?”

“Aku nggak suka kamu jodoh-jodohin. Menurut mu apa aku perlu belas kasihan semacam itu?”

“Bukan. Aku hanya ingin kamu kenal seseorang. Barangkali bisa jadi teman dekat mu.”

Bulshittt..”

Tut..tut..tutt..

Sejak saat itu kami tak pernah makan bersama lagi. Aku berusaha menghubunginya tapi ia selalu menghindar.

………………………

..Semua kata rindu mu semakin membuatku, tak berdaya..

“Halo”

“Mas, aku sudah beli tiket.”

“Jadi, kapan?”

“Minggu depan jemput aku. Nanti kukabari lagi ya. Mas sudah pesan gedung dan catering kan? Jangan lupa loh ya.”

“Iya sudah semuanya.”

Tut..tutt..tutt..

…………………………..

Aku sedang menikmati makan siang ku. Ini sudah hampir sebulan sejak terakhir kali makan bersama Rani. Entah berapa kali kucoba telpon, ia tak mau menjawab. Aku ingin ke tempatnya bekerja tapi rasanya agak berlebihan. Ah perempuan. Tiba-tiba datang satu rombongan besar yang nampaknya para dokter dan perawat. Barangkali mereka akan makan bersama. Mereka memesan dan duduk di bangku masing-masing. Aku celingak celiguk menoleh tapi Rani tidak kutemukan. Ehtahlah. Mungkin dia betul betul marah. Baru saja ketika aku hendak melanjutkan suapan, tiba-tiba sosok mungil itu muncul. Tapi naas, tempat duduk telah penuh dan yang tersisa hanya satu, tepat di hadapan ku.

“Hai Ran..”

Ia duduk tanpa ekspresi. Matanya mendadak sayu dan merah. Aku merasa tak nyaman dan bersiap pergi. Tapi ia menahan lengan ku.

“Duduk aja. Nanti aku marah,” aku mengalah. Kami duduk berdua tanpa berkata-kata. Hingga semuanya selesai dan kembali, hanya tersisa kami berdua. Dan ia pergi dengan cara yang sama. Tanpa kata-kata.

…………………………..

“Ran. Aku menyukai mu. Tapi maaf. Aku tak bisa. Aku sudah dimiliki oleh hati yang lain. Maaf selama ini membuat mu hanyut terlalu jauh. Maaf, undangan pernikahan ku ini kutitip. Ku harap kau datang. Aku tak ingin menambah beban di hati mu. Sehat selalu, Ran.”

Dua centang berwarna biru. Pesan ku dibaca. Setelah itu aku tak bisa mengirim pesan lagi.

~Tamat~

Sumber gambar : pexels.com


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis yang aktif menulis kisah fiksi. Cerpen ‘Maaf, Rani’ ini adalah Cerpen ke limanya (tulisan ke tujuh) yang terbit khusus hanya di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

7 Comments »

  1. Waduh,,, sorry.
    Tadi aku coba2 buka dari web dan bahasanya aneh.
    Ini barusan beralih ke aplikasi ternyata tidak ada yg aneh.
    Sekali lagi, maafkan komenku diatasi.
    Mungkin web yang kubuka tadi butuh pengaturan, sepertinya dia langsung menerjemahkan kalau ada bahasa asing.makanya tadi aku merasa bahasanya aneh🤭🤭🤭

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s