Cerpen : Kuyang

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 12 Desember 2018)

Hari masih sore ketika empat ekor burung gagak terbang melewati atas kepala kami bertiga. Aku, Sadan, dan Edi sedang duduk-duduk menikmati sore dengan kopi panas dan tentu saja dilengkapi durian bandar yang terkenal legit, manis, nan tebal. Pikiran ku melayang teringat cerita almarhum Datuk dulu, jika melihat gagak terbang melayang melintasi kampung maka akan ada pertanda buruk menimpa.

Jauhkan bala, kata ku dalam hati.

“Bang, pulang dulu. Nanti kami kembali, jam 8 atau 9,” Edi menyadarkan lamunan ku.

“Oh.. Oke. Jangan telat ya,” mataku mendelik. Edi tertawa. Mereka segera lenyap dari pandangan ku.

Sekarang musim buah durian. Di mana-mana orang beramai-ramai begadang di bawah pohon durian sambil menunggu buahnya jatuh lalu beramai-ramai pula berlomba mencari di antara semak belukar. Konyol tapi menyenangkan. Kadang buah yang nampak hanya sedikit tapi yang menunggu banyaknya bukan main. Kalau sudah begitu, kecepatan dan pengalamanlah yang bicara.

Kebiasaan kami memang menunggu durian yang jatuh dengan sendirinya, tidak dipetik seperti kebanyakan orang di daerah lain. Durian yang jatuh sendiri dari pohon rasanya memang lebih manis karena matang di pohon, sementara durian yang dipetik duluan cenderung hambar, maklum durian karbit.

Meskipun demikian, hampir tidak pernah ada keributan di antara kami. Alam dan kebiasaan yang diwariskan oleh para tetua kami telah mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain. Durian yang legit dan diperebutkan itu biasanya tetap diakhiri dengan makan bersama diiringi dengan gelak tawa. Begitulah kehidupan berputar pada masyarakat yang sederhana ini.


Jarum jam telah bersandar pada pukul 8 lebih separuh ketika pintu rumah ku diketuk, disusul suara tamu ku.

“Siap, Bang?”

“Hayuk…”

Aku menyiapkan sepatu bot, ini berguna ketika beradu kecepatan dalam hutan yang kadang beresiko melawan duri dan onak.

“Mau ke mana, Mang?” Yuli tetangga ku, menegur kami.

“Mau begadang, nunggu durian jatuh.”

“Oh. Semoga dapatnya banyak ya. Nanti saya bisa minta,” katanya. Yuli sedang hamil tua. Beberapa hari lagi mungkin akan melahirkan.

“Beres..” kataku.

Malam mulai pekat mengiringi gerak langkah kami. Ketika mulai keluar dari batas perumahan kampung, suasana yang tadi ramai mendadak sepi, berganti suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Aku berjalan paling depan sementara Sadan dan Edi mengikuti secara beriringan.

“Bang, kok malam ini rasanya beda ya?”

“Beda bibir mu dower. Sama saja.”

“Loh, bukan. Maksud ku, malam ini rasanya kok sama persis ketika kita ke Pulau Kambe dulu,” katanya menyahut.

“Ya sama. Dulu kita ke sana malam hari, lah sekarang kita ke sini juga malam hari. Sama persis dengan waktu itu. Sama-sama malam hari..” Sadan menyergah sambil tertawa. Edi mendengus kesal. Aku sendiri lebih banyak diam. Naluri ku menyetujui pendapat Edi tapi barangkali ini hanya perasaan semu saja.

Kami berjalan terus. Sesekali kami bertemu sesama pemburu durian, bedanya, mereka dalam perjalanan pulang dan kami baru saja memulai petualangan malam ini. Dari jauh ada sosok kang Darot.

“Loh baru jam 9 kok sudah pulang, Kang?”

“Iya. Sudah dapat lumayan,” ia menunjukan isi rambatnya. Beberapa durian berukuran sedang tampak bersarang.

Dapat segini kok sudah pulang, kataku dalam hati.

“Biasanya Akang ikut begadang?” tanya Sadan.

“Anu, si Jojon agak kurang sehat.” Si Jojon anak bungsu Kang Darot, masih kecil.

“Oh iya. Ya sudah. Mari, Kang!”

“Mari..”

Dalam perjalanan, si Edi kembali mengungkapkan ketakutannya.

“Coba lihat Bang, sudah berapa orang yang pulang. Jangan-jangan nanti hanya kita bertiga di sana. Waduh..”

“Halah. Ayo jalan!”

Kami berjalan dan akhirnya sampai ke sebuah komplek pepohonan durian berukuran besar yang biasa kami sebut “Dahuyan Waris”. Kurang lebih artinya adalah durian milik bersama. Pohon-pohon durian ini memang tak jelas pemiliknya. Tapi orang kampung telah terbiasa merawat dan menjaganya secara bersama-sama. Tidak kurang dari 20 pohon yang berjejer rapi dengan ukuran raksasa.

Tingginya barangkali tak kurang dari 20 depa dan lebarnya lebih dari ukuran pelukan orang dewasa. Inilah kompleks durian bandar yang selalu menjadi idola dan rebutan warga kampung kami.

Aku melihat-lihat sekitar, barangkali si Edi betul, tak ada orang lain nampaknya kecuali kami bertiga. Dan aku merasa terkejut bukan main mengingat malam ini adalah malam kedua setelah meninggalnya Mbah Sri, pantas tidak banyak yang berani keluar rumah malam hari. Aku ingin mengingatkan pada Edi dan Sadan tapi segera ku urungkan. Bahaya kalau mereka mengajak pulang.

“Duduk yuk!”

Edi menyandarkan tubuhnya pada akar pohon yang timbul di permukaan tanah. Asap rokoknya membumbung. Sepintas lagaknya ia mirip mafia-mafia yang sedang menyaksikan anak buahnya membagikan hasil rampasan. Edi memang gila pada mafia. Seluruh atribut “yang mirip” mafia selalu menyenangkan baginya. Topinya lebar, mengambil model koboy-koboy Amerika Latin. Sepatu yang ia kenakan sebenarnya sepatu bot murah biasa tapi ia bersikukuh bahwa model sepatunya adalah model yang biasa dikenakan mafia-mafia Italia. Aku ingin mendebatnya dengan menyodorkan film-film klasik mafia tapi kupikir tidak akan membantu.

Sesekali ia menodong buah durian yang menggantung di atas kepala kami dengan korek api, sambil mendesis “dor.. dorr.. dorr.”

Aktivitasnya berhenti ketika kami mendengar suara khas durian jatuh. Tanpa dikomando segera kami berlari mengikuti arah suaranya. Senter menyala menyorot semua arah. Belum sempat aku memperluas wilayah pencarian ku, si Edi sudah tertawa gembira dari jauh.

“Nanti kuajarkan kalian cara mengetahui tempat persembunyian musuh,” katanya sambil menenteng durian yang rupanya lumayan besar. “Ini cara kerja mafia, Bang,” katanya sambil melirik padaku. Aku dan Sadan tersenyum masam. Edi sejak kecil memang tidak ada lawan.

Kami serempak terdiam ketika suara gagak melintas rendah di atas kepala, mereka hinggap pada dahan pohon durian. Aku berinisiatif menyorotkan senter dan tampak empat ekor gagak sedang menatap ke arah kami. Bulu kuduk ku berdiri. Edi dan Sadan mendadak berada di samping kiri dan kanan. Sama-sama menahan rasa takut yang kini lebih kuat. Gagak selalu menjadi pertanda buruk dan itu menganggu benak kami.

Malam yang sepi menjadi semakin mencekam. Aku bahkan bisa mendengar tarikan napas kolega-kolega ku yang rupanya sedang kembung kempis.

“Kita pulang saja, bagaimana?” Sadan berbisik.

“Halah. Baru dapat satu kok pulang. Ya sabar dulu,” aku mencoba menenangkan mereka, “Ngopi yo..”

Kami mencoba acuh terhadap suara gagak yang makin gencar. Berturut-turut durian jatuh membuat kami semakin abai dan rasa takut hilang dengan sendirinya. Sebelas durian bersarang di karung milik ku, Edi dan Sadan masing-masing mendapatkan delapan biji. Lumayan.

Aku menyorot jarum jam, sudah pukul dua dini hari. Pantas dingin sekali. Edi tertidur dengan pulas. Sadan masih sesekali berdiri merenggangkan ototnya.

“Gimana? Pulang aja?”

“Ayo..”

Aku mencolek si Edi tapi mimpinya tampak terlalu kuat. Kugoncangkan tubuhnya dengan kuat. Ia menggeliat. Sorot senter kuarahkan ke matanya. “Yok pulang..”. “Ayo!”

Kami berjalan pelan memanggul durian masing-masing. Tidak ada pembicaraan. Kantuk dan dingin membuat kami malas berbicara. Tiba-tiba seberkas cahaya melaju di atas kepala kami. Aku terkejut ketika Edi menepuk pundak ku dan berguman, “Kuyang, Bang. Kuyang..”

Aku masih belum menguasai diri. Durian kami lempar entah ke mana, kami berlari secepat mungkin mengikuti cahaya tersebut. Tidak salah, itu kuyang yang telah meresahkan kampung kami. Ia mengincar bayi dalam kandungan maupun bayi yang baru dilahirkan. Pikiran ku bergerak cepat teringat sesuatu.

“Edi, kita ke rumah Yuli. Sadan ke rumah Bue Sodik. Cepat!”

Kami menambah kecepatan. Beberapa kali hampir terjatuh akibat salah injak. Kadang kami di depan, kadang kami di belakang. Dalam hati kami hanya satu, kuyang tidak boleh mendekati rumah Yuli. Kami sampai bersamaan. Kuyang tampak terbang di atas rumah, aku secepatnya menyalakan api dengan membakar sebuah kardus. Konon ia tidak mau mendekati api.

Bue Sodik, salah satu tokoh ilmu gaib di kampung kami, dan Sadan tergopoh-gopoh menghampiri. Cahaya itu masih terbang di atas rumah keluarga Yuli. Tuan rumah kaget melihat kami sedang sibuk di halaman rumahnya. Edi mendekatinya dan meminta mereka untuk mengurung diri ke dalam rumah.

“Berdoa saja di dalam. Tidak usah keluar.”

Aku dan Edi mengumpulkan daun kering, kertas, plastik, dan apa saja, agar api tetap menyala. Topi koboy Edi tak sengaja ku lempar ke dalam api. Ketakutan telah terbang jauh meninggalkan kami. Sementara itu Sadan tampak menyiram air pemberian bue Sodik ke sekeliling rumah.

Tiba-tiba cahaya itu turun. Kini jaraknya tak lagi jauh dari kami. Aku bergetar. Edi dan Sadan entah ke mana. Bue Sodik duduk bersila membacakan sesuatu. Cahayu itu kini tepat berada di hadapannya. Malam yang dingin kini makin bertambah dingin. Sekujur tubuh ku rasanya kaku tak mampu bergerak. Aku hanya sanggup memperhatikan rupa sosoknya; laki-laki berwajah tua, berkumis tebal. Ia terbang penuh cahaya tanpa tubuh. Hanya menenteng kepala dan organ dalam. Barangkali itu lambung atau jantung, aku tidak bisa menebak.

Mereka tampak berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang tidak kumengerti. Tapi cahaya api membantu ku melihat dengan jelas bulir bulir keringat nampak penuh di wajah bue Sodik.

“ARRGGHHH….ARRGGHHHH…”

Tiba-tiba ia berteriak. Melayang tinggi dan menghilang.

Mendadak aku merasa lemas. Dan tak ingat apa-apa.


Aku baru terbangun pagi hari. Rumah ku dipenuhi tetangga yang ingin mengetahui cerita tadi malam. Saat aku pingsan, Yuli ternyata melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu sehat dan selamat berkat kesigapan kami. Para tetangga riuh di sekitar rumah. Mengaitkan peristiwa ini dengan kejadian beberapa puluh tahun lalu. Seorang warga kampung pernah diusir karena diduga menjelma sebagai kuyang. Konon, tidak ada yang pernah bertemu lagi dengan warga tersebut. Salah satu dari mereka menanyakan ciri wajahnya pada ku.

“Apa yang kau lihat adalah lelaki tua berkumis?”

Aku terdiam. Menatap sosok yang bertanya. Mendadak aku merasa dingin dan sepi. Wajahnya mirip dengan apa yang telah kusaksikan tadi malam. Aku tak sadarkan diri lagi.

~Tamat~

Sumber gambar : pixabay.com


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis. Cerpen ‘Kuyang’ ini adalah tulisan ke enamnya (Cerpen ke empat) yang terbit khusus hanya di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

10 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s