Mahaga Panatau Tatu Hiang di Zaman Now

Oleh : Cen-Cen (Desfortin Menulis, 01 Desember 2018)

Sumber gambar: pexels.com

Panatau dalam bahasa Dayak Ngaju berarti harta benda, berasal dari kata ‘tatau’ yang berarti kaya raya. Keluarga yang dipandang kaya atau mampu akan masuk dalam kelas masyarakat “oloh tatau” yang kurang lebih berarti “orang kaya”. Selain itu ada pula ungkapan ‘oloh tatau’ yang berarti orang kaya atau orang berada. Mahaga secara harafiah dapat diartikan menjaga atau merawat. Mahaga Panatau berarti menjaga dan merawat serta mengembangkan kekayaan atau warisan dari nenek moyang.

Dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju zaman dahulu, pengertian panatau dapat berupa harta secara fisik; emas, kebun karet, ternak, dan lainnya. Termasuk benda-benda antik semacam Balanai, Garantung, Piring Malawen, dan seterusnya. Keluarga berada biasanya memberi penanda status sosialnya dalam masyarakat dengan ‘mahaga’ benda-benda tersebut. Tidak heran zaman dulu ada keluarga yang mengoleksi berpuluh-puluh gong atau berlusinan piring malawen maupun guci-guci antik. Itulah penanda status sosialnya. Warisan yang akan diterima anak cucu kelak.

Namun sebenarnya panatau bukan lagi terbatas hanya berupa harta benda melainkan dapat pula berarti seluruh warisan baik berupa budaya, tatanan adat-istiadat, benda seni maupun kerajinan tangan, termasuk warisan kuliner tradisional. Panatau dimaksud apabila tidak dijaga dengan baik maka akan hilang dan terlupakan. Kehilangan Panatau, apalagi berupa budaya merupakan sebuah kerugian besar. Anak cucu tidak bisa menyaksikan betapa hebatnya peradaban Tatu Hiangnya di masa lalu.

Panatau versi baru ini harus terus diwariskan kepada anak-anak yang akan menjadi penerus peradaban nenek moyangnya. Cara mereka hidup berdampingan dan menjadi sahabat dengan alam. Cara mereka mengelola lingkungan. Termasuk salah satunya adalah cara mengolah makanan tradisional. Ini penting. Agar anak anak kelak tidak jauh dari kebudayaan leluhurnya.

Makanan tradisional, meskipun alat dan bahannya sederhana namun lebih menjamin kesehatan. Tidak hanya itu, dalam pengolahannya pun tidak luput dari filosofi yang aduhai. Makanan tradisional kaya rempah-rempah, tidak mengandung pengawet dan pasti menyehatkan. Meski demikian penganan tradisional sudah mulai banyak yang jarang bisa ditemukan bahkan ada yang hilang karena beberapa faktor. Pertama, bahan baku pembuatan makanan tradisional jarang atau bahkan sulit ditemukan. Kedua, tidak ada penerus atau pengrajin makanan tradisional. Ketiga, terdesak oleh makanan modern yang instan yang lebih mudah dijumpai.

Berikut 4 sajian penganan tradisional Dayak Ngaju yang mulai asing bagi anak-anak zaman now.

1. Kenta

Kenta adalah makanan olahan yang dibuat dari padi ketan yang disangrai menjadi beras ketan namun memiliki tampilan yang berbeda dengan nasi ketan biasa. Ia disajikan bersama parutan kelapa muda. Bukan sembarang ketan melainkan harus dari padi ketan yang baru dipanen atau biasa disebut ‘behas taheta’ agar aromanya kuat dan rasanya masih segar. Beras ketan yang sudah tua biasanya lebih sulit diolah. Kenta hanya disajikan pada musim panen sebagai bentuk syukur atas panen yang berlimpah. Di masa depan kenta akan sulit diperoleh karena tinggal sedikit keluarga Dayak Ngaju yang berprofesi sebagai pamalan dan lahan pertanian yang semakin sempit.

2. Lamang

Lamang atau lemang dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Ngaju merupakan salah satu sajian khas yang biasa diolah hanya pada musim atau peristiwa tertentu, misalnya pada saat ‘pakanan sahur’ atau ‘manggantung parapah’ dan acara adat lainnya. Meski demikian penganan ini sesekali masih dapat ditemukan pada lapak penjual makanan-makanan khas.

3. Kopu

Kopu adalah sajian makan yang berbahan dasar singkong muda, parutan kelapa muda, kemudian ditambahkan gula dan garam. Dalam praktiknya pengolahan kopu cukup rumit karena singkong yang digunakan sebagai bahan utama harus direndam terlebih dahulu berhari-hari, biasanya di sungai atau kolam, baru dapat diolah menjadi penganan kopu. Pada zaman dahulu kopu merupakan makanan pokok pengganti nasi. Sekarang ini olahan kopu sangat sulit ditemukan karena proses pembuatannya yang rumit. Sama seperti kenta, kopu akan semakin sulit ditemukan bahkan terancam punah di masa yang akan datang.

4. Bilis Tanak

Bilis tanak terbuat dari bahan dasar ikan kecil (bilis) yang biasanya didapat pada musim tertentu. Bilis dimasak menggunakan bumbu lokal namun hanya menggunakan bara. Jika menggunakan api secara langsung maka tubuh ikan akan hancur. Sekarang sulit menemukan ikan bilis karena faktor alam yang tidak menentu.

Penganan tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya penganan tradisional Dayak Ngaju yang semakin jarang ditemukan karena bermacam-macam faktor, misalnya lahan pertanian berkurang, ekspansi lahan perkebunan sawit semakin banyak memakan ruang untuk pertanian. Selain itu jumlah petani semakin sedikit. Anak-anak muda Dayak lebih suka menjadi karyawan kantor dibandingkan menjadi petani tradisional. Penambangan emas tanpa izin, penggunaan alat setrum untuk menangkap ikan juga berperan dalam mengganggu ekosistem yang menjadi sumber dari bahan baku makanan tradisional.

Meski demikian semoga ada upaya dari pemerintah untuk menginventarisir dan mencatatkan resep-resep makanan tradisional secara serius agar tidak hilang begitu saja terdesak oleh sajian modern khas masyarakat urban. Karena kehilangan identitas budaya merupakan kehilangan yang paling berharga. [Cen-Cen]


Keterangan:

-Pamalan =Petani

-Tatu Hiang=Nenek Moyang


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis. Artikel opini ini adalah tulisan kelimanya di desfortin.com

8 Comments »

  1. Sang pemangku jabatan memiliki andil besar untuk melestarikan kuliner asli daerah. Dengan cara mengadakan berbagai kegiatan misalkan lomba membuat makanan itu atau setiap instansi wajib menyajikan menu itu.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s