Karungut, Riwayatmu Kini

Oleh: Cen-Cen

Sumber gambar: Youtube Yohanes H.

Identitas budaya adalah simbol sebuah eksistensi. Masing-masing kelompok masyarakat memiliki identitas budaya yang beragam. Keberagaman itulah yang membuatnya indah. Sebuah kelompok yang kehilangan identitas budaya akan kehilangan eksistensi.

Dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju, tumbuh salah satu bentuk kesenian yang biasa disebut Karungut. Karungut adalah salah satu kesenian identitas Suku Dayak Ngaju dan beberapa sub Dayak lainnya. Sebagaimana kesenian pada umumnya yang merupakan warisan peradaban nenek moyang, Karungut juga adalah warisan dari Tatu Hiang leluhur suku Dayak. Ia telah hidup bersama-sama sejak kebudayaan Dayak terbentuk ratusan tahun yang lalu. Bisakah ia mengalami krisis? Bahkan punah? Jawabannya, sangat bisa.

Barangkali kita menyangka ini pernyataan berlebihan tapi cobalah sejenak perhatikan setiap gawai yang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak, lalu jawablah pertanyaan ini; berapa banyak anak-anak muda Dayak yang bisa melantunkan Karungut. Atau pertanyaan yang sedikit lebih sederhana; kenapa Karungut selalu dimainkan paling belakang, kalah oleh dangdut koplo atau musik modern?

Saya pernah hadir di sebuah acara. Pendeng karamat. Tidak main-main. Ini salah satu ritual paling sakral dalam budaya masyarakat Dayak Ngaju. Membuat rumah bagi roh-roh para Tatu Hiang. Di tengah acara, tuan rumah ingin menyajikan karungut. Namun, tidak ada satupun di antara tempon gawi (pelaku acara) maupun para tamu yang memiliki keahlian bermain kecapi dan menyanyikan Karungut.

Tentu menyedihkan. Sebagai sastra lisan khas Kalimantan Tengah, karungut bukan sekedar musik biasa atau barisan kata-kata berpola a-b-a-b. Ia adalah hasil dari perenungan dan pengalaman yang diekspresikan melalui kata-kata. Semakin luas pengalaman hidup seorang tukang karungut, maka semakin seru syair yang dinyanyikan. Karungut juga adalah media untuk menceritakan pengalaman masa lalu dan menyampaikan nasihat-nasihat atau petuah-petuah. Ia juga bisa menjadi media penghibur bagi mereka yang sedang berduka atau jatuh cinta. Dalam suasana sedih, karungut dialunkan dalam lirik-lirik kesedihan. Dalam suasana gembira, karungut berisi lirik kegembiraan, begitu seterusnya.

Namun semua itu nyaris punah. Remaja Dayak masa kini sebagian lebih menyukai lagu-lagu Korea. Dan tentu saja koreografinya. Padahal karungut juga memiliki koreografi yang tidak kalah menarik yaitu manasai. Manasai adalah gerakan tarian yang diiringi karungut dan bisa dilakukan secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan sukacita. Anak-anak muda ini tidak bisa disalahkan. Mereka memang tumbuh dan berkembang jauh dari kesenian nenek moyangnya. Sekarang ini Karungut identik dengan sesuatu uang kuno dan kolot. Karungut urusan orang tua dan tentu saja tidak asyik.

Pendapat dan sikap demikian menjadi tugas besar bagi semua orang yang peduli terhadap budaya nenek moyangnya. Terlambat sedikit maka karungut hanya tinggal nama. Ia menjadi legenda yang tidak diketahui bentuk bahkan asal usulnya.

Bagaimana sikap yang seharusnya?

Berikan porsi yang cukup untuk menampilkan karungut pada setiap acara-acara formal maupun non formal. Karungut jangan hanya ditampilkan pada saat festival budaya. Tiap-tiap warga yang menyelenggarakan hajatan, syukuran atau apapun namanya, sebaiknya ikut menampilkan karungut sebagai penanda identitas.

Ajak anak-anak usia belajar untuk mengenal karungut sejak dini mulai dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Masukan dan pertajam karungut pada mata pelajaran muatan lokal. Buat mereka menyukai dan bangga pada budaya leluhurnya.

Kapan mulai? Sekarang. Amon dia wayah toh, pea tinai. Amon jia itah, eweh tinai. (Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi).

Semoga budaya kita tidak tenggelam digerus zaman. [Cen-Cen]

9 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s