Cerpen : Pamalan Terakhir

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 10 November 2018)

Sumber gambar: pexels.com

Apang Jun mengelap peluh yang mengalir deras di seluruh tubuhnya. Cuaca panas sekali meskipun harusnya memasuki musim penghujan. Sesekali ia mereguk air sejuk dari rambatnya, air sungai yang segar meskipun sudah tidak cukup jernih. Setahun terakhir, sungai sudah tidak seperti dulu lagi. Kotor. Meski demikian, menurutnya air sungai tetap lebih segar dibandingkan air isi ulang yang dijual tetangganya.

Ia mulai mengasah parang, alunannya seirama dengan kunyahan pinang muda di mulutnya. Apang Jun seorang penginang generasi terakhir, anak-anaknya sudah tidak lagi. Di kampungnya tidak ada anak muda penginang. Mereka takut gigi kotor dan jorok. Padahal tidak demikian. Gigi Apang Jun kuat dan kokoh, ia tidak pernah sakit gigi sampai usianya menginjak 67 tahun. Ia percaya, itu khasiat pinang muda dan sirihnya tentu saja.

Masalah gigi bukan soal sekarang. Ladangnya sudah tidak seproduktif beberapa tahun lalu. Padi yang dihasilkan ladang berpindahnya tidak lagi seberapa. Ladang berpindah memang begitu. Paling banter 5-6 tahun digunakan berturut. Ingin rasanya menebas di tempat baru, tapi sudah tidak boleh. Kemarin pak Kades wanti-wanti memperingati. Tidak boleh ladang dipindah-pindah. Tidak boleh membakar lahan. Sekeliling lahannya sudah diberi tanda logo perusahaan. Ada tulisan besar “Dilarang membakar lahan”

“Pak Kades, bagaimana bisa?”

“Saya tidak tahu, Apang Jun. Saya juga bingung,” kata pak Kades.

“Ini pasti karena musibah kabut asap kemarin,” ia menimpali. “Ladang kita banyak menimbulkan masalah,” lanjutnya.

Batin Apang Jun memberontak.

“Nenek moyang saya berladang sejak ratusan tahun lalu pak Kades. Kami selalu membakar lahan. Tapi tidak pernah kami disebut pembuat musibah,” suaranya meninggi. Ia merasa harga dirinya sebagai pamalan direndahkan. “Kami bukan kriminil. Tidak merampok atau mencuri. Kami bekerja di tanah milik sendiri.”

Pak Kades menatapnya dengan pandangan tidak suka. Jawaban itu memang tidak mengenakkan. Tahun kemarin memang kabut asap melumpuhkan seluruh aktivitas. Kabarnya asap sampai di Jakarta, bahkan sampai Malaysia.

“Ini aturan pemerintah. Kita lebih baik nurut daripada repot nanti berurusan,” ketus Pak Kades.

Semua terdiam. Semua Paham maksud pak Kades, berurusan berarti berhadapan dengan aparat bersenjata. Dalam hidup rakyat sederhana ini, gagal panen seringkali masih lebih untung dibandingkan dengan berurusan.

Apang Jun mengedarkan pandangannya ke seluruh lahan miliknya. Lirih suara gesekan dedaunan seolah ikut membatin, merasakan masgulnya hati Apang Jun. Ia telah turun temurun menyandarkan hidupnya dari berladang. Mulai dari nenek moyang, kakek buyut sampai Apang dan Indangnya, mereka semua telah mewarisi kehidupan yang lekat dengan alam. Bagaimana mungkin ia bisa.

Sayup-sayup ia membayangkan kehidupan di tahun berikutnya. Ia mungkin tidak lagi bisa menikmati nikmatnya beras hasil ladang sendiri. Tidak menikmati semarak musim manugal dan manggetem, tidak juga bisa berkumpul lagi bersama teman-teman sebayanya. Tidak ada lagi suara teriakan bersahutan mengusir monyet nakal yang biasa iseng mencuri jagung, atau suara kentongan yang meriah mengusik pipit.

Sepanjang jalan ke ladang tadi ia banyak bertukar pikiran dengan kawan-kawan. Mereka mengajaknya membuka lahan untuk kemudian menjualnya untuk kebun sawit. Perusahaan siap membeli. Per hektar dibayar 5 juta. Batinnya memberontak. Bagaimana bisa tanah leluhurnya hanya dihargai 5 juta. Tapi jawaban pak Kades menghenyak.

“Kalau tidak dijual. Kita tidak mendapatkan apa-apa. Karena mereka sudah punya izin dari pemerintah atas tanah kita. Jadi, setuju atau tidak setuju, dijual atau tidak, tanah kita pasti akan diambil. Hanya menunggu waktu.”

Semua terdiam. Perlahan para petani miskin ini beringsut pergi dan menyesali takdirnya yang sulit untuk berubah lebih baik.

Apang Jun melangkah gontai. Mungkin tahun ini menjadi tahun terakhir. Ia pun mulai berpikir untuk menjual tanahnya ke perusahaan sawit. Meskipun ditawarkan plasma juga percuma. Apang Jun tidak punya ketrampilan mengolah kebun sawit. Harga perawatannya terlalu mahal. Lebih baik lahannya dijual. Ia menatap sekali lagi, bangkit dan sedikit terhuyung. Kemudian berbalik pulang. Bayangan hitam menantinya esok dan seterusnya.

~Tamat~


Keterangan:

-Pamalan =Petani

-Apang = Bapak

-Indang = Ibu

-Manugal = aktivitas menanam padi di ladang kering

-Manggetem = Musim memanem padi.

***

Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis. Cerpen ‘Pamalan Terakhir’ ini adalah Cerpen ketiganya yang terbit khusus hanya di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , ,

6 Comments »

  1. Yg membakar lahan tuh petani atau oknum lain ya.. kadang saya greget karena di tempat saya sering sekali asap kabut dan asapnya bau bakaran pas musim panas. Napas jadi sesak. Keponakan teman saya bahkan sampai meninggal karena ISPA.

    Disukai oleh 1 orang

    • Ini sbnrnya imbas dari oknum lain yg bertanggung jawab. Ada juga mungkin lahan milik perusahaan yg terbakar yg pda akhirnya menyebabkan asap luar biasa.
      Klau petani di desa slma ini tdk pernah jd masalah, wong kebiasaan berladang kering sdh sjak lama ada.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s