Sepeda Baru untuk Anakku

Pada bulan November, ada beberapa hari yang merupakan hari bahagia bagi keluarga kami. Ulang tahun (kelahiran) anakku dan ulang tahun istriku, yang berselang hanya beberapa hari. Kemudian, ulang tahun adik iparku (Oking) pada awal bulan, juga ulang tahun keponakanku (Qia), anak pertama adikku; di minggu terakhir bulan ini.

Dan tepatnya hari ini, 9 November 2018 adalah hari ulang tahun anak perempuanku, Ruth Amora. Usianya kini genap 10 tahun. Ia sudah duduk di kelas 4 SD. Ia juga tumbuh sehat dan menjadi anak yang baik serta periang. Sebagai orang tua, tentu kami bangga dan bersyukur.

Terkait ulang tahun, sebagaimana beberapa keluarga lainnya, sesungguhnya keluarga kami tidak punya tradisi wajib untuk merayakannya (bukan karena alasan dogma agama sih). Aku sendiri sejak kecil hingga sekarang tidak pernah ada perayaan ulang tahun. Dan itu baik-baik saja. Baru ketika aku telah memiliki anak, tradisi ulang tahun di keluargaku mulai ada, walau tidak setiap tahun dirayakan. Bahkan untuk Ruth Amora, ulang tahunnya baru 3 kali dirayakan, yakni saat ia berumur 3 tahun, 4 tahun, dan 5 tahun.

Di ulang Ruth Amora yang ke-5 tahun, aku pernah janji padanya bahwa ulang tahunnya akan dirayakan lagi saat ia berumur 10 tahun dan 17 tahun. Tahun lalu, saat umurnya 9 tahun, aku tidak berada di rumah bersamanya karena saat itu aku masih dalam perjalanan dinas ke luar daerah. Dan aku hanya memberinya hadiah boneka. Untuk tahun ini, sesuai janji sebenarnya dirayakan. Tapi 5 hari lalu, tiba-tiba saja anakku itu bilang bahwa ultahnya kali ini tidak perlu dirayakan. Katanya cukup belikan ia sebuah hadiah saja. Aku cukup kaget. Saat kutanya kenapa, ia hanya bilang bahwa kami perlu berhemat, kebetulan juga pada minggu terakhir bulan ini kami akan ada acara syukuran keluarga. Jadi, maksudnya biar satu paket saja. Waw, pikirku. Padahal aku tidak keberatan kalau pun harus dirayakan hari ini; siap saja.

Setelah beberapa kali aku mencoba memastikan tentang keputusannya itu, akhirnya aku dan istri pun menyetujuinya. Untungnya, undangan kepada teman-temannya juga belum kami sebarkan. Maka sebagai hadiah, selain doa terbaik untuknya, aku membelikannya sebuah sepeda baru. Sepeda ini aku belikan beberapa hari sebelum tanggal ulang tahunnya hari ini, tapi baru aku serahkan kepadanya pada sore tadi.

Dan sebagai ayah, inilah ucapan dan harapku padanya, yang juga kutuliskan dalam sebuah amplop yang tergantung di sepeda barunya itu:

Selamat ulang tahun anakku yang manis. Hari ini, kamu genap berusia 10 tahun. Wah, sudah besar rupanya. Tinggal bersamamu dan melihatmu setiap hari, ayah jadi tidak sadar jika kamu sudah bertambah besar. Sayang, di hari istimewamu ini, usiamu bertambah. Setiap tahun, usia akan terus bertambah. Seiring usia yang semakin tua, maka kehidupan baru akan kamu hadapi. Maafkan ayah jika saat ini ayah belum bisa menjadi ayah yang terbaik yang bisa memberikan semua yang kamu inginkan. Ayah hanya bisa memberikan satu benda kesayanganmu yang sudah lama rusak, ayah belikan yang baru yaitu sepeda. Semoga kamu bahagia mendapatkan sepeda ini, Nak. Ayah baru bisa membelikan setelah sepeda kamu yang lama rusak. Bermainlah dengan sepedamu saat ini. Berbahagialah. Bersenang-senanglah.

Ruth Amora, anakku, mungkin bagi orang lain kamu biasa saja. Tetapi bagi ayah, kamu istimewa. Kamu selalu mendapatkan juara di kelas. Itu sudah cukup membuat ayah bahagia. Kamu tumbuh menjadi anak yang baik. Anakku, sepeda yang ayah berikan bukan sekedar untuk memenuhi keinginan kamu yang sudah lama terpendam. Tetapi, ada nasehat kehidupan di balik sepeda.

Ketika kamu belajar naik sepeda, beberapa kali kamu jatuh, bukan? Itu adalah hal yang biasa. Kamu belum lihai dalam naik sepeda dan mengendarainya dengan tertatih. Kini, kamu sudah pintar naik sepeda. Meskipun dulu ayah sempat khawatir kalau kaki dan tangan kamu lecet. Begitu juga dalam hidup, Nak. Saat kamu baru mulai belajar sesuatu, kamu akan merasa kesulitan dan harus adaptasi dengan keahlian barumu. Tidak ada orang yang langsung pandai melakukan sesuatu. Kita harus jatuh bangun dan belajar beberapa kali sampai akhirnya mahir, paham dengan apa yang kita kerjakan. Ingat ini baik-baik, maka kamu akan menjadi orang yang tidak mudah putus asa.

Saat kamu bersepeda, kamu harus terus mengayuhnya. Jangan tiba-tiba berhenti karena kamu akan jatuh dan terluka. Kamu pasti paham dengan hal ini. Ayah yakin. Dalam kehidupan, ini juga berlaku, Nak. Kalau kita ingin melakukan hal-hal yang berguna, kita harus terus melakukan banyak hal dan bekerja. Jangan berhenti sama sekali. Berhenti hanya akan membuat hidup kamu mengalami kemunduran bahkan berujung dengan tidak bahagia.
Bersepeda berarti menikmati setiap kayuhan kecil dengan kecepatan yang ideal. Jika terlalu lambat, kamu tidak bisa sampai ke tujuan. Jika terlalu cepat, kamu akan mudah tersandung. Jadi, sedang-sedang saja. Pun demikian dalam hidup. Janganlah kamu menjadi orang yang mudah mengambil keputusan terlalu cepat tanpa berpikir. Keputusan yang terlalu cepat diambil hanya akan membuat dirimu mudah melakukan kesalahan bahkan meskipun kesalahan itu sangat kecil. Nikmati saja proses kehidupan kamu.

Dan terakhir, jalanan memang tidak selalu mulus, Nak. Ada kalanya kamu harus melewati jalanan yang penuh dengan lumpur, batu, dan kerikil. Mungkin akan mengganggu perjalanan kamu. Tetapi begitulah kenyataan hidup. Hidup tidak selalu memberikan kemudahan. Sama seperti kamu yang tidak langsung bisa mendapatkan sepeda ketika sepedamu rusak. Butuh waktu untuk membeli sepeda yang baru. Saat dewasa nanti, kamu akan menemui kesulitan. Anggap saja kamu sedang bersepeda dan sedang melewati jalanan yang tidak rata. Jika kamu terus berjalan, suatu ketika akan bertemu dengan jalanan yang rata dan enak untuk dilalui. Jangan menjadi orang yang mudah putus asa, anakku.
Ingatlah selalu kebijaksanaan hidup yang diberikan oleh sepeda ini.

Have a happy and blessed birthday, my daughter. I love you.

Kinipan, November 9th, 2018

Your Dad,

Desfortin

23 Comments »

  1. Selamat ulang tahun, Ruth! Nama yang bagus ya. Semoga semakin tumbuh menjadi anak yang bijak, taat kepada orang tua, dan takut akan Tuhan.

    Btw, mas Desfortin.. Ruth beruntung punya Papa kayak mas. Kalau aku jadi Ruth, ketika dewasa nanti aku akan buka kembali surat2/tulisan yang mas Desfortin buat. Disitu pasti ada rasa bangga, senang, dan mungkin haru. Keren mas!

    Aku mau buat hal yang sama untuk anak-ku kelak. Hehe

    Disukai oleh 2 orang

    • Mksh, Mas Hendro atas ucapannya. Pokoknya diaminkan sja.

      Terkait surat itu, kmrin aku jg ada crta kpdnya ttg seorang anak di Inggris yg menghadiahkan kpd papanya di saat ultah papanya (saat umur papanya dah lanjut) dg membls surat ucapan ultah dr papanya saat ia msh kcil dg menyertakan surat aslinya itu dlm amplop. Mndengar crta itu, agaknya Ruth Amora hnya berdehem singkat, tp kemudian dia sgra simpan tu surat di lemarinya.

      Saya bilang kpdnya, bhwa di ultahnya kli ini ayah tak bnyak bicara, ap yg trtulis di surat itu, itulah pesan ayah utknya.
      Semoga ia tdk lupa.

      Sy ykin jka Mas Hendro niatkan, semua itu mungkin.

      Bbrp waktu k dpan, sy mlah ingin membuat surat kpdnya ykni smcam psan utk anakku saat usianya 17 thn. Kan sy msh punya jnji sekali lg utk merayakan ultahnya saat ia 17 thn nnti. Semoga sj tdk ada kndala.

      Trmksh skli lagi, Mas Hendro.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s