Satire, Perlukah?

Sumber gambar: pixabay.com

Untuk Anda yang sudah akrab dengan sastra atau literasi, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah “Satire”. Menurut Wikipedia, Satire merupakan gaya bahasa yang menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire berasal dari Bahasa Latin satira atau satura (campuran makanan). Saat ini, kita bisa menemukan dengan mudah tulisan jenis satire. Untuk bisa memahami apakah suatu tulisan itu bermakna satire, maka dia harus memiliki pemahaman yang cukup terhadap tulisan tersebut.
Untuk mengetahui apakah tulisan mengandung maksud satire untuk menyindir seseorang/kejadian maka bacalah tulisan tersebut dengan sangat hati-hati dan jangan membaca hanya di awal saja lalu melompat pada kesimpulan bahwa si penulis sedang menghina. Buruknya kualitas seseorang dalam memahami satire menunjukkan bahwa dia sedang setengah-setengah memahami suatu tulisan. Bisa saja komentator yang sedang marah ini memiliki pendapat yang sama. Hanya saja tulisannya mengandung satire yang terlalu halus.

Satire dikenal sebagai komedi kebijaksanaan yang ditampilkan sebagai bentuk humor. Tujuannya jelas, untuk mengejek. Satire bisa disampaikan lewat tulisan berupa prosa atau puisi atau secara lisan/pertunjukan misalnya lewat tarian atau seni lukis. Maka wajar saja jika satire hanya dipahami oleh orang yang bijaksana. Orang bodoh mungkin terlalu sulit untuk mengetahuinya atau memahaminya. Seperti yang sudah disebutkan, butuh kejelian dan kepandaian memahami tulisan atau pertunjukan satire. Lain satire lain pula sarkasme, sarkasme penuh dengan kata-kata kasar dan makian untuk menyampaikan maksudnya. Dalam beberapa hal, satire memberikan konotasi yang lebih positif dibandingkan dengan sarkasme. Satire lebih menyindir sedangkan sarkasme lebih menghina. Satire mendidik, sedangkan sarkasme tidak mendidik. Sarkasme melukai sedangkan satire tidak.

Apakah menulis atau berbicara dengan genre satire ini diperlukan?

Jawabannya bisa sangat tergantung dengan konteks. Satire bisa saja dibutuhkan jika maksud yang disampaikan terlalu gamblang. Dikhawatirkan orang yang menyampaikan bisa mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. Itu akan membahayakan si penulis atau si performer sendiri. Maka, dalam hal ini, satire mungkin dibutuhkan. Terlebih lagi jika pesan yang disampaikan berhubungan langsung dengan penguasa.

Apakah setiap satire itu baik? Tidak semua satire baik. Tergantung satire tersebut tujuannya berdasarkan berita yang benar atau hoax. Itu semua kembali pada maksud si penulis atau si penampil satire. Tetapi setidaknya satire lebih baik dibandingkan dengan sarkasme. Satire lebih mendidik dan lebih halus untuk dikatakan.

Satire menjadi tidak dibutuhkan ketika kebebasan bicara terjamin. Artinya, orang boleh berbicara apa saja tanpa harus takut direpresi oleh pihak penguasa atau pihak lain. Orang bisa dengan bebas menyampaikan pendapat tanpa harus takut dia akan dihukum penjara selama beberapa tahun. Satire bisa menjadi variasi dalam kondisi seperti ini tetapi tidak terlalu dibutuhkan karena si penampil dalam kondisi bebas tanpa tekanan dari siapa saja.

Di Indonesia sendiri, satire kadang masih diperlukan karena dalam praktiknya kebebasan berbicara belum terlalu dijamin. Ketika seseorang menyindir atau bersinggungan dengan penguasa, dia harus siap dipidanakan. UU ITE yang menyebabkan pemidanaan ini dimungkinkan. Sehingga tidak salah jika ada beberapa penulis yang menyampaikan kritiknya secara satire.

Ketika satire dibuat berdasarkan hoax atau berita bohong, satire tidak baik alias buruk. Satire seharusnya tidak dimaksudkan untuk menyebarkan berita bohong. Satire dalam kasus ini sebaiknya tidak dilakukan. Satire harus tetap dikembalikan pada marwahnya sebagai bentuk komedi kebijaksanaan, bukan sebagai sarana menyebarkan berita bohong. [Desfortin]

2 Comments »

  1. Kadang orang bodoh pura pura tahu mengenai satire, biar gak dibilang bodoh.

    Waktu saya masih kecil, ayah sering membawa koran Suara Karya, didalamnya ada karikatur yang menyindir nyinyir. Apakah itu termasuk golongan satire.

    Suka

    • Dlm ap yg sering org tulis, kdang ada unsur satire di dalamnya. Kadang.

      Jd, sy memahami satire sbgai gaya bahasa (majas) yg menyindir, apapun bentuknya, ntah itu lwat tulisan atau gmbar, trmsuk nyinyir. Tp ada nyinyir yg tergolong sarkasme.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s