Pelakor vs Pebinor

Sumber gambar: pexels.com

Belakangan ini, marak pembahasan mengenai perselingkuhan dalam rumah tangga. Meskipun pemberitaan dan pembahasan ini lebih banyak melibatkan public figure seperti artis, namun ternyata banyak orang biasa yang mengalami kasus serupa. Salah satu perselingkuhan public figure yang menggegerkan adalah ketika artis cantik Jennifer Dunn menjadi istri simpanan pengusaha Faisal Harris. Anak Faisal Harris, Shafa Harris, lantas melabrak Jennifer Dunn lalu dia memvideo tindakannya tersebut. Lalu, video itu viral dan memicu pembahasan di kalangan warganet. Jennifer Dunn mungkin bukan satu-satunya perempuan yang kebetulan menjalin hubungan dengan lelaki yang merupakan suami orang. Masih banyak perempuan yang mengalami nasib serupa. Di kalangan artis saja misalnya ada Mulan Jameela dan Mayang Sari. Kedua artis ini seringkali mendapatkan hujatan melalui media sosialnya.

Masyarakat umum dan warganet menyematkan istilah “Pelakor” atau Perebut laki orang untuk perempuan yang berhubungan dengan suami orang lain. Istilah ini mungkin terdengar biasa tetapi sangat merugikan marwah kaum hawa. Budaya patriarkis membuat seorang pelakor adalah satu-satunya penyebab kerusakan rumah tangga seseorang. Pada saat yang sama, sang lelaki seperti bebas tanggung jawab dan dia seperti boneka yang diperebutkan oleh kedua perempuan. Apakah dalam kerusakan rumah tangga dan munculnya pelakor, si lelaki tidak ikut berperan? Jika kita menjawab tidak ikut berperan dan hanya menyalahkan si perempuan, maka kita tidak adil sejak dalam pikiran. Sebaliknya, jika kita menjawab bahwa lelaki juga punya andil karena telah menyeleweng, maka kita sudah bersikap bijak.

Masuknya perempuan lain dalam rumah tangga seseorang tidak hanya disebabkan oleh si perempuan yang disebut pelakor tetapi juga karena niat lelaki untuk selingkuh. Itu sebab dikatakan bahwa selingkuh terjadi karena ada yang memikat dan ada yang terpikat, seperti yang pernah saya ulas dalam postingan saya terdahulu yang berjudul “Alasan Utama Pasangan Selingkuh“. Tidak mungkin pelakor bisa masuk dalam rumah tangga seseorang jika sang lelaki tidak mengizinkan. Tidak adil jika kita hanya menyalahkan perempuan tanpa menganggap sang lelaki juga salah. Jika selama ini kita menganggap bahwa laki-laki memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri tetapi ketika masalah orang ketiga datang, tiba-tiba lelaki digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya melawan godaan. Aneh, bukan?

Ya, memang aneh. Sama anehnya ketika seorang pebinor atau perebut bini orang masuk dalam rumah tangga seseorang. Pebinor cenderung lebih aman dari hujatan masyarakat banyak dibandingkan dengan pelakor. Mengapa demikian? Karena budaya kita yang memang lebih mengunggulkan lelaki dibandingkan perempuan. Jika perempuan merebut suami orang akan dianggap sebagai perempuan yang rendahan dan tidak memiliki harga diri. Tetapi jika lelaki yang merebut istri orang akan dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan seorang perempuan dari rumah tangga yang tidak sehat. Inilah pola pikir yang seharusnya diubah.

Suami yang menjadi korban pebinor atau perebut bini orang akan dianggap mudah mencari pengganti. Ini berbeda dengan istri yang menjadi korban pelakor. Padahal, dua-duanya sama-sama korban perselingkuhan pasangannya. Korban pebinor mengalami trauma yang relatif lebih berat karena tekanan orang-orang sekitar. Secara emosional, lelaki tidak bisa ekspresif seperti perempuan yang bisa meluapkan emosinya dengan tangisan, raungan, dan sebagainya. Emosi yang tidak dilampiaskan akan membahayakan fisik maupun mental. Suami korban pebinor akan dituntut tidak boleh lemah harus kuat dan jangan cengeng. Lelaki, bagaimanapun, tetaplah manusia yang harus melampiaskan emosinya.

Belum lagi lelaki itu mendapat cap sebagai lelaki yang gagal mempertahankan rumah tangga. Cap ini menyulitkan sang lelaki jika ingin membina hubungan baru. Perempuan baru yang datang dalam hidup sang lelaki akan berpikir ulang untuk masuk ke jenjang berikutnya.

Jadi, manakah yang lebih berbahaya, pebinor atau pelakor? Keduanya sama berbahaya dan sama-sama merusak kehidupan seseorang. [Desfortin]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s