Cerpen : Roh Leluhur

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 04 November 2018)

Gambar ilustrasi Cerpen Roh Leluhur

Sumber gambar: pixabay.com

Malam ini dingin sekali. Hujan sedang ganas-ganasnya mengisi awal bulan November ini. Semua orang tengah terlelap asik dalam mimpi masing-masing, diiringi rintik hujan dan nyanyian katak yang asik memadu asmara.

Tapi ada satu tempat yang masih terjaga. Aku, Edi, Sadan, dan Reo masih asik bermain kartu. Kami tidak terganggu dengan nyanyian katak dan hujan. Domino kami terlalu berharga untuk diabaikan. Berturut-turut mereka menghempaskan kartu ke lantai ubin ku.

“Set!!”

“Set!!”

“Set!!”

Sial. Aku kalah lagi. Ini kali kedua. Mataku kurang awas. Malam larut membawa lari konsentrasi ku. Harus kureguk lagi segelas penuh air putih sebagai sanksi. Perut makin kembung. Tidak kuhitung berapa kali aku buang air kecil. Gara-gara kunyuk bertiga ini. Edi, Reo, dan Sadan sibuk menertawakan kekalahan ku. Aku sebenarnya curiga, jangan-jangan mereka bersekongkol mengerjai.

Tiba-tiba suara memekik melewati samping rumah ku. Aku terdiam. Reo menempelkan telunjuk pada bibirnya. Kami saling pandang tak berani berucap. Mata ku mengisyaratkan ketakutan untuk mereka. Anak-anak muda penakut ini makin tertekan. Aku ingin mengintip tapi mendadak Sadan dan Edi menarik baju ku.

“Jangan, Bang!”

“Kenapa?” aku berbisik pelan.

“Abang ingat kejadian tempo lalu?”

Aku kembali duduk. Kejadian lalu membekas jelas dalam benak ku.

Madi, seorang pemuda bagajulan (urak-urakan), nekat mengintip ketika suara pekik itu muncul. Paginya ia ditemukan tewas dengan sekujur tubuh biru lebam. Menurut Mbah Karto, Madi diserang makhluk halus. Suara pekik tadi malam adalah penanda makhluk halus meminta tumbal. Atas desakan warga, Mbah Karto bersedia menjadi mediator antara warga dan makhluk halus tersebut. Kabar yang Mbah Karto bawa membuat kami terkejut.

“Makhluk halus itu adalah roh para leluhur kita. Mereka marah karena selama ini kampung kita terlalu berisik. Tiap malam para pemuda tidak karuan bergerombol main gitar sambil minum miras. Dangdutan hampir tiap minggu. Kampung kita terlalu rusuh,” kata Mbah Karto.

“Mereka terganggu. Apalagi selama setahun ini kita lalai, tidak pernah lagi melaksanakan upacara Pakanan Sahur. Mereka marah. Meminta korban,” lanjutnya.

Kami semua panik bercampur tegang.

“Lantas bagaimana, Mbah?”

“Biarkan mereka mengambil ternak sebagai ganti tumbal nyawa kita. Ternak bisa kita beli. Tapi nyawa sangat berharga.”

Serempak semua orang mengangguk. Setuju dan lega. Musibah dapat dihindari. Sejak saat ini, setiap minggu, setiap kali suara pekik itu berbunyi, besoknya satu hewan ternak akan hilang dengan darah berceceran. Kami maklum. Roh para leluhur meminta haknya.

Begitulah yang kerap terjadi belakangan ini. Kami telah terbiasa jika ada warga yang kehilangan ternaknya. Diam-diam aku bersyukur tidak memelihara hewan ternak. Minimal aku tidak rugi di depan. Bodo amat dengan roh leluhur.


Pagi-pagi kami berkumpul di depan balai desa. Mencari tahu pemilik ternak yang terpilih sebagai ‘sesaji’ roh para leluhur. Rupanya yang terpilih adalah sapi bali milik Pak Yayan. Sapi muda berusia 2 tahun lenyap meninggalkan jejak darah yang masih segar. Pak Yayan mematung tanpa ekspresi menatap Mbah Karto.

“Roh leluhur senang dengan sesajen mu,” ujar si Mbah. “Tidak perlu khawatir, sesegera mungkin para leluhur akan mengirimkan mu hadiah yang setimpal. Percayalah,” lanjutnya.

“Enak ya, jadi setan. Bukannya ternak sendiri malah tinggal ambil,” Edi berbisik di telinga ku. Mataku mendelik. Anak ini kalau bicara memang selalu seenak perutnya. Sadan dan Reo menahan tawa.

“Kalau mau, aku bisa mengantar mu menemui setannya. Barangkali dia perlu ajudan,” kataku. Edi tersipu. Ia masih terbayang peristiwa di Pulau Kambe beberapa waktu lalu.

Kami beringsut pergi. Aku dan Reo masuk hutan mengecek jerat babi hutan. Sadan dan Edi entah ke mana, barangkali ikut Pak Roy jadi kuli pasir. Anak-anak ini telah banyak berubah. Sekarang mereka giat bekerja. Apa saja yang halal dan menghasilkan uang.

“Bang, roh leluhur memang sukanya makan daging mentah ya?”

Aku tertawa dalam hati. Anak ini memang ada-ada saja.

Malamnya kami berkumpul kembali. Tanpa basa basi kami larut dalam permainan. Kali ini aku bertekat tidak mudah mengalah. Anak-anak ini harus pulang dengan perut kembung penuh air malam ini.

Sekitar pukul 11, suasana makin sepi. Mereka bertiga telah berencana beranjak ke tempatnya masing-masing. Aku baru saja hendak membuka pintu ketika suara pekik itu mendadak lewat depan rumahku. Kami serentak kaku. Aku mematung memegang gagang pintu.

Sementara Edi dan Sadan perlahan duduk kembali. Reo yang baru kembali dari belakang menatap kami dengan heran. Ia hendak bertanya tapi tak jadi ketika tangan Edi memberikan kode untuk menunduk. Mendadak wajahnya sayu dan lemas seperti ayam kurang makan.

Pekik itu tak kunjung beranjak dari depan rumah ku. Kami makin dibalut ketakutan yang tak berujung. Anjing menyalak beramai-ramai menambah suasana mistis malam ini. Duh Gusti. Suara auman berganti-ganti di sela pekik dan lirih yang masih meraung. Tidak ada suara lain selain napas dan detak jantung kami yang berlomba.

Lima menit berlalu. Aku hendak menyingkap gorden tapi Edi lagi-lagi menahan tangan ku.

“Jangan, Bang!” bisiknya bersungguh-sungguh.

“Ingat Madi, Bang.”

Aku mengalah. Pekik itu menghilang. Tiba-tiba mata ku menangkap sesuatu yang ganjil dari celah pintu. Tampak sosok dua orang sedang mendorong mobil tepat di depan rumah ku. Naluri ku mengatakan sesuatu yang tidak beres. Aku menyingkap gorden dengan cepat. Edi, Sadan, dan Reo tercengang. Dan kami lebih terkejut ketika melihat apa yang terjadi di balik gorden.

Di bawah cahaya yang remang-remang aku mengenal salah satu dari mereka. Mbah Karto. Ia dan seorang temannya tampak repot mendorong mobilnya yang terjebak lobang depan rumah ku. Kami saling tatap. Ada yang salah dengan yang kami saksikan. Suara pekik berasal dari mobil yang mereka dorong. Sudah tidak ada lagi rasa takut. Persetan dengan roh leluhur.

Aku membuka pintu diikuti oleh ketiga rekan ku. Mbah Karto terkejut. Tanpa dikomando ia berlari diikuti dua orang rekannya. Kami meraung. Melampiaskan amarah. Edi memecahkan kaca jendela mobil, dengan tangannya. Barangkali ia dendam akibat bulan lalu Induk Babi milik istrinya juga diembat setan sialan ini.

Reo dan Sadan sempat mencoba mengejar tapi mendadak berhenti melihat komposisi yang tidak seimbang, dua melawan tiga. Akhirnya mereka ikut merangsek masuk ke dalam mobil sialan itu. Isinya bermacam-macam. Tali temali, senjata tajam, dan macam-macam kaset yang berisi suara segala jenis setan. Kurang ajar.


Mbah Karto dan sindikat akhirnya ditangkap polisi. Selama ini Mbah Karto bersekongkol untuk menakut-nakuti kami dengan suara aneh yang diputar dari mobilnya yang konon adalah suara roh para leluhur. Ternak hasil jarahan dijual ke pasar kabupaten. Hampir saja rumahnya dibakar warga jika tidak aparat keamanan yang melerai.

Malam berikutnya kami berkumpul lagi. Kali ini dengan ceria. Tanpa ba bi bu kami langsung membagi kartu. Kali ini tanpa rasa takut.

“Bang, sudah ku bilang kan, roh leluhur tidak suka daging mentah.”

“Set!!!”

“Set!!!”

“Set!!!”

Aku kalah lagi.

~Tamat~


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis. Cerpen Roh Leluhur ini adalah Cerpen keduanya yang dimuat khusus hanya di desfortin.com

Kategori: Fiksi

Tagged as: , , ,

14 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s