Tim YIGI Berkunjung ke Kinipan

Pada tanggal 26-28 Oktober 2018, desa Kinipan (Kalimantan Tengah) mendapat kunjungan istimewa dari Tim Yayasan Indonesia Green International (YIGI). Sebuah yayasan independen yang sangat peduli terhadap isu ekologi atau lingkungan, khususnya tentang kelestarian hutan dan alam. Kunjungan tersebut merupakan satu rangkaian dari eco tourism (ekowisata) mereka dalam Indonesia Green Tour kali ini, yang agenda destinasinya sampai ke Kalimantan Barat dan Kuching, Malaysia.

Tim yang diketuai oleh Mas Yofie Kamale ini membawa serta beberapa orang turis mancanegara asal Perancis dan Swiss. Dalam hal ini, Tim YIGI bekerja sama dengan Animal Contact yang dipimpin oleh Mrs. Frans asal Perancis. Dipilihnya Kinipan sebagai salah satu destinasi ekowisata mereka, hal ini sejalan dengan isu lingkungan yang akhir-akhir ini tengah dihadapi desa Kinipan, yakni penyerobotan atau klaim sepihak atas sebagian wilayah hutan adat desa Kinipan oleh salah satu perusahaan swasta di kabupaten Lamandau, yang kemudian ini menjadi polemik yang cukup alot di antara kedua belah pihak.

Dalam kunjungan tersebut, saya berkesempatan mewawancarai Mas Yofie, the founder of YIGI, dan juga Mrs. Frans, the chief of Animal Contact. Intinya mereka mengatakan, bahwa kedatangan mereka, selain sebagai turis, adalah untuk memberi dukungan kepada masyarakat Kinipan yang saat ini sedang berpolemik dengan pihak perusahaan tersebut. Supaya masalah tersebut segera bisa teratasi. Mereka juga ingin memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa fungsi hutan itu sangat vital, karena itu harus dijaga kelestariannya. Bahkan harus dipertahankan dengan gigih manakala ada pihak lain dari luar yang berusaha untuk membabat atau mengganggu kelestariannya, apalagi kalau itu demi kepentingan dan profit pihak tertentu. Lebih lanjut, mereka berharap agar masyarakat Kinipan bisa bersatu padu, satu suara dalam mempertahankan apa yang menjadi hak mereka, dan jangan mau diadu domba.

Dalam kunjungan mereka kemarin itu, mereka juga ingin tahu lebih banyak tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat Kinipan.

Atas maksud kedatangan mereka, tentu warga Kinipan merasa gembira dan sangat menyambut baik hal itu. Bahkan sebelum mereka datang, karena seminggu sebelumnya agenda kunjungan ini telah diberitahukan kepada warga, maka warga Kinipan melalui panitia telah mempersiapkan acara untuk menyambut tim ini dengan sebaiknya.

Menurut informasi sebelumnya, Tim YIGI bersama para turis itu akan tiba di Kinipan pada hari Jumat, 26 Oktober 2018, pukul 14.00 wib. Namun ternyata sekitar pukul 14.30 wib mereka baru dapat tiba di desa Kinipan. Kehadiran rombongan ini lalu disambut dengan meriah sesuai dengan tradisi laman Kinipan, yakni sambutan secara adat yang dinamakan “Potong Pantan.”

Acara potong pantan merupakan acara adat untuk menyambut tamu penting atau istimewa yang baru saja tiba di lokasi. Di lokasi penyambutan dibuat sebuah miniatur pintu gerbang yang dihiasi sedemikian rupa, ada juga atribut adat, busana adat, dan minuman tradisional yang ditaruh di samping gerbang, lalu pada gerbang tersebut dipasang sejumlah batang kayu berukuran sedang sebagai halang rintang. Jadi, sebelum para tamu itu secara resmi masuk ke desa, maka mereka harus terlebih dahulu melewati gerbang tersebut dengan cara memotong kayu-kayu yang terpasang itu menggunakan mandau (senjata atau pedang tradisional suku Dayak) yang disediakan pihak penyambut.

Namun sebelum itu dilakukan, mereka perlu mengenakan busana adat yang disediakan dan juga sebuah mandau yang terikat di pinggang. Prosesi ini sambil diiringi dengan alunan musik tradisonal, yang disebut musik Kanyatn. Kemudian tamu akan ditanyai terlebih dahulu oleh petugas adat yang ditunjuk. Di sini terjadi semacam tanya jawab. Namun pertanyaannya menggunakan bahasa setempat (diterjemahkan), yang intinya menanyakan siapa tamu yang datang dan apa tujuan/maksud kedatangan. Setelah dijawab, baru kemudian pemotongan kayu tersebut dilakukan. Itu sebabnya disebut acara potong pantan.

Setelah kayunya berhasil dipotong, mereka akan diberi minuman tradisional, dimana minuman tersebut disiapkan (dituangkan) di dalam gading. Dan mereka harus minum dari gading tersebut. Setelah itu mereka diizinkan masuk dan duduk lesehan di alas atau tikar yang disediakan. Saat semua telah lesehan, pihak penata adat lalu mengajak mereka minum tos, dan diakhiri dengan menari bersama. Saat tarian berlangsung, musik tetap mengalun hingga tarian selesai. Begitulah sedikit gambaran tentang prosesi penyambutan dengan acara potong pantan, sebelum akhirnya para tamu dipersilakan menuju tempat acara selanjutnya atau juga tempat penginapan.

Kedatangan Tim YIGI bersama para turis ini sangat disambut antusias oleh warga Kinipan. Hal itu terlihat dengan banyaknya warga Kinipan yang datang ke lokasi penyambutan untuk menyaksikan kehadiran para tamu ini. Ini juga menjadi kesempatan langka bagi warga Kinipan baik tua, muda hingga anak-anak untuk bisa berfoto ria bersama para turis yang datang.

Berikut adalah beberapa gambar hasil jepretan saya dan teman-teman, mulai dari saat penyambutan, acara ramah tamah pada malam harinya, kegiatan trekking mereka kemarin, dan juga diskusi tadi malam yang digelar di rumah salah satu warga Kinipan.

Foto-foto saat penyambutan (acara potong pantan):

Foto-foto saat acara Bagonakng (ramah tamah):

Foto-foto saat Trekking di hutan Kinipan (sumber foto: Sigit & Buhing):

Foto-foto saat diskusi di rumah salah satu warga, tadi malam:

Dalam diskusi tadi malam, banyak hal yang disampaikan. Intinya warga Kinipan melalui Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Bpk. Effendi Buhing, mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka, dan berharap agar pihak YIGI dan teman-teman dari Animal Contact bisa membantu atau berkontribusi dalam mengatasi permasalahan yang terjadi saat ini. Pihak YIGI dan Animal Contact juga bersedia untuk memberikan bantuan, baik secara media pemberitaan (media sosial) maupun pendampingan secara hukum kepada warga melalui Komunitas Adat Laman Kinipan. Bagi mereka yang terpenting juga adalah komitmen warga Kinipan sendiri dalam mempertahankan hutan mereka, dimana mereka harus bersatu. Selain itu, keakuratan informasi tentang masalah yang terjadi juga sangat dibutuhkan agar mereka bisa membantu, khususnya dalam penyebaran informasi melalui media daring baik lokal maupun internasional. Supaya berita yang disampaikan bebas dari hoax atau propaganda.

Hari ini, Tim YIGI telah kembali ke Pangkalan Bun. Dari sana mereka akan terbang ke Pontianak untuk melanjutkan tour mereka ke wilayah Kalimantan Barat hingga Malaysia.

Semoga saja kehadiran singkat Tim YIGI selama beberapa hari ini dapat membawa dampak positif yang nyata, sehingga apa yang diharapkan warga Kinipan melalui Komunitas Adat Laman Kinipan dapat terwujud. Agar polemik tersebut segera mendapat solusi terbaik, dan tidak ada lagi klaim yang sifatnya sepihak dari masing-masing pihak yang berpolemik. [Desfortin]

8 Comments »

    • Yg bgtulah klau ekowisata, Mbak.

      Mslh hutan Kinipan sampe ke pusat loh mengurusnya, tp msh blum ngefek. Ntahlah knp. Pdahal pihak AMAN di Pusat pun bergerak. Smga dg hdirnya Tim YIGI ini ada dampak alternatif yg lbih baik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s