Cerpen : Gara-gara Togel

Cerpen oleh Cen-Cen (Desfortin Menulis, 24 Oktober 2018)

Sumber gambar: pixabay.com

Sudah seminggu, Edi, Sadan, dan Reo uring-uringan. Musababnya sederhana, 2 bulan berturut-turut tebakan togel para buruh tambang ini selalu meleset. Bahkan bukan hanya meleset tapi salah jauh. Jauh sekali. Padahal kurang apa, Edi bahkan sudah merelakan STNK motornya pada Mang Jun, rentenir sial yang selalu ingin menang sendiri, demi mendapatkan dana segar. Perjanjiannya ketat, sebulan tidak dilunasi, motor akan berpindah tangan. Padahal semua orang tahu, motor itu masih atas nama bapaknya.

Malam kemarin mereka grasak-grusuk main ke rumah ku. Awalnya kupikir mereka mau pinjam duit, seperti biasa. Rupanya kali ini bukan. Entah racun jenis apa yang merasuki otak kecil mereka.

“Bang, antarkan kami ke Pulau Kambe,” kata Edi. Napasnya berat. Matanya merah terlalu banyak begadang. Dua orang koleganya nampak tidak jauh lebih baik.

“Tolonglah, Bang. Sekali ini saja. Pokoknya begitu ini selesai, hutang ku pada abang akan kubayar 3 kali lipat,” Reo menimpali. Rambutnya acak-acakan tanda jarang bertemu cermin. Jarang mandi. Apalagi berkeramas.

Sadan lebih banyak diam. Aku maklum. Pemuda satu ini memang paling menderita dibandingkan dua rekannya tadi. Baru sebulan lalu ia ditinggal istri dan anaknya pulang ke rumah mertua. Sadan memang pegila togel. Maksud hati baik, ingin membahagiakan istri dan anak. Apa lacur, malah membahagiakan bandar dan kroninya.

Aku memang pernah ke pulau Kambe, diminta mengantarkan orang-orang putus asa mengadu nasibnya. Dinamakan Pulau Kambe karena bentuknya menyerupai pulau. Luasnya tidak lebih dari tiga kali lapangan bola. Seluruh sudutnya berisi pohon-pohon ukuran besar. Kambe artinya iblis atau setan. Angkernya bukan main. Kalau seseorang terlihat pergi ke sana, hanya satu tujuan; balampah. Atau mencari wangsit. Belum tentu kembali. Tidak semua orang berani ke sana.

Tiga kunyuk ini bermaksud mengajak ku ke sana. Bukan hanya mengantar tapi juga menemani mereka menemui nasib baiknya. Barangkali rezeki mereka tersangkut di antara ranting-rangting durian yang sedang berbunga.

“Edi, Reo, Sadan, dengarkan nasehat abangmu. Tidak semua orang yang berangkat ke sana lalu pulang dengan nasib baik. Banyak yang makin nelangsa. Makin menderita. Bahkan gila. Kalian mau jadi orang gila?”

Ketiganya saling pandang. Aku mengeluarkan rokok. Kubagi satu per satu. Asap membumbung di atas kepala kami seolah membawa semua beban melayang lalu hilang tanpa jejak.

“Kami sudah bulat, Bang. Saya ingin anak dan istri saya kembali. Edi ingin motor bapaknya selamat. Reo pun demikian,” pandangannya menghiba meminta belas kasihanku.

“Kami janji, Bang. Saya janji. Begitu kami pulang, begitu maksud tercapai, kami tobat. Stop,” Reo lirih menatap. Pandangannya sayu seperti vampir yang sudah lama puasa menghisap darah segar.

Giliran ku terdiam. Pemuda-pemuda rongsokan ini bukan orang lain. Mereka tetangga ku yang saban hari minta tolong padaku. Aku kenal anak istrinya. Kenal orang tuanya. Barangkali benar, ini yang terakhir kalinya. Tapi ada suara lain mengganggu. Suara yang akrab di telinga para penggemar dangdut. Judi, apapun alasannya adalah dosa. Bang Haji Rhoma dalam liriknya; Kalaupun kau menang, itu awal dari kehancuran. Suara Bang Haji dan rasa kasihan bertarung sengit dalam benak ku. Akhirnya iman dan akal sehat ku yang lemah kalah.

“Besok malam kita berangkat. Bawa apa yang perlu, secukupnya. Pukul delapan semua harus ada di dermaga.”

Mereka tersenyum penuh harapan. Barangkali di benaknya terbayang masa depan yang cerah. Secerah petromak di hadapan kami.


Pukul delapan kami hadir lengkap di pelabuhan. Dari sana berangkat menggunakan perahu kecil milik seseorang entah berantah. Perahu ini tua dan bocor sana sini sehingga satu dua orang harus sigap untuk membuang air keluar agar kami tidak basah kuyup dan tenggelam di tengah sungai Kahayan yang sedang pasang.

Aku duduk di depan dengan dayung di tangan. Reo bertindak sebagai juru mudi. Di bawah sinar malam aku melihatnya tersenyum simpul, ia telah melihat masa depannya akan jauh lebih cerah begitu nanti kami kembali. Hutang-hutangnya lunas. Bahkan ia telah berencana membuka usaha bola bilyard sepulang kami dari misi ini. Bocah gila. Sementara Edi dan Sadan siap sedia dengan rantang bekas di tangan, menimba air. Lagak mereka seolah hendak berangkat mencari harta karun yang telah diwasiatkan oleh para leluhur.

Perlahan-lahan kami melaju membelah gelombang-gelombang kecil. Suasana mencekam. Masing-masing tidak bersuara. Kami mengayuh di antara pepohonan besar. Suara monyet riuh menyambut kami. Bergelantungan di antara dahan-dahan dan menatap kami dengan nanar. Mereka tidak suka wilayahnya dimasuki oleh kelompok lain yang tidak dikenal.

Akhirnya kami tiba. Pohon-pohon yang lebih besar menyambut kami dengan sinis. Desir angin malam bersahutan dengan suara burung hantu. Bulu kuduk ku berdiri. Tiga kurcaci mendadak mengekor di belakang ku. Berjalan seperti berjunjit. Perjalanan kami berlanjut dengan berjalan kaki. Malam makin pekat.

“Ding, kita sampai.”

Ketiganya saling tatap. Nyalinya ciut.

“Kalian duduklah di sini. Ucapkan permohonan mu dan tunggulah pertanda.”

Ketiganya mengangguk. Tanpa komando mereka mengeluarkan bawaan. Sebuah piring yang telah diasapi lilin hingga hitam lalu ditutup kain putih terang. Mereka percaya, roh leluhur akan menuliskan nomor togel, yang akan membuat bandar tekor, pada piring kucelnya. Kemenyan, lilin, dan dupa dinyalakan. Asapnya menyebar ke semua sisi.

Aku mencari tempat yang cukup lapang. Tidak jauh dari mereka. Mata ku tak kuat menahan kantuk dan aku menyerah dibawa ke alam mimpi.

Malam terus berjalan. Sayup-sayup aku mendengar suara ranting beradu. Makin keras. Makin keras. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Angin mengamuk di sekeliling kami dan menabur dedaunan mati ke atas kepala. Suara burung hantu bersahutan. Suasana mencekam. Lilin yang tadi menyala kini mati. Sekeliling menjadi gelap.

“Arghhhhhhh….”

“Arghhhhhhh….”

Suara itu terus menggema berkali-kali. Aku melompat dari tidurku. Gelap. Napas ku cekat. Macet. Seperti ada yang menghalangi kerongkongan. Sekujur tubuh kaku dan dingin. Aku merogoh saku bermaksud menyalakan senter tapi tanganku tak mau bergerak. Kami seperti patung hidup. Tak kurang dari sepuluh menit mata kami menjadi saksi kejadian mistis yang mendebarkan. Seperti ada bayangan manusia berdiri di hadapan kami. Tidak hanya satu tapi beberapa orang. Mereka tampak berbincang satu sama lain. Sesekali menoleh pada kami yang kaku akibat ketakutan. Lalu sekejap mereka hilang tanpa jejak.

Perlahan suasana menjadi tenang. Sepi sekali. Tidak ada hembusan angin. Dedaunan hanya tersisa jejaknya. Aku bahkan mendengar suara napas ketakutan dari tiga orang kurcaci yang rupanya bersembunyi di balik punggung ku.


Jam menunjukkan pukul 5. Kami pulang. Ketiganya bersiul gembira menenteng piring hitamnya. Reo bahkan bertaruh ia melihat goresan-goresan dari balik kain putih yang membalut piringnya. Tidak salah lagi. Pasti itulah nomor togel yang akan mengubah masa depan mereka. Sadan dan Edi bergantian menenteng bungkusan piringnya. Langkah mereka tegap seperti investor yang baru saja pulang memboyong saham dengan harga murah.

Kami mendayung dengan cepat. Sebelum dilihat orang lain kami harus sampai di rumah. Dan membuka tabir tipis untuk melihat dengan jelas goresan-goresan ajaib ini.

“Bukalah, Bang. Abang kami izinkan ikut melihat nomornya sebagai bentuk terima kasih kami,” kata Sadan begitu kami tiba di rumah.

Reo dan Edi tampak lebih ceria. Bisik-bisik mereka terdengar jelas oleh ku, mereka berencana plesiran begitu nomornya terbuka.

Aku tersenyum kecut. Nafas ku masih belum teratur akibat kejadian semalam. “Bukalah, Di!” kataku.

Edi sigap. Ia tampak hati-hati mengeluarkan piring dari dalam tasnya. Benang putih penutupnya masih utuh. Napas kami kembali diserang. Tersengal. Seperti kekurangan oksigen. Edi menarik kainnya perlahan-lahan. Napas ku macet. Piring terbuka.

Edi, Reo, dan Sadan nampak pucat pasi. Wajah mereka kembali seperti sales yang dikejar target. Aku hampir tertawa tapi urung. Aku tak ingin menambah sakit hati mereka.

Piringnya memang tertulis jelas.

“KERJA KERJA KERJA”

~Tamat~


Cen-Cen (nama pena), lahir di Gunung Mas, 23 Juni 1992. Kini menetap di Kelurahan Kampuri, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bekerja pada salah satu SMP Negeri di kecamatan Kurun. Ia cukup aktif menulis di media sosial, dan sebagai salah satu kontributor di Blog Desfortin Menulis.

Kategori: Fiksi

Tagged as: ,

3 Comments »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s