Banyak Anak Banyak Rezeki?

Sumber gambar: dictio.id

Dalam kehidupan rumah tangga, apakah banyak anak berarti banyak rezeki? Ungkapan tersebut sering dilontarkan oleh orang-orang zaman dahulu. Tidak mengherankan jika orang tua dulu memiliki banyak anak bahkan hingga belasan. Mungkin orang tua zaman dulu mengira bahwa anak adalah pembuka pintu rezeki. Banyak orang berlomba memiliki anak. Mereka berharap si anak bisa membuka keran rezeki mereka sehingga mereka bisa mendapatkan kemudahan dalam hal finansial. Tetapi apakah tepat penafsiran seperti itu? Benarkah anak mempermudah rezeki orang tua dalam bekerja? Benarkah anak yang banyak akan menjadikan seseorang lebih sejahtera dan makmur dari sebelumnya? Jika benar, mengapa saat ini banyak orang yang punya banyak anak hidupnya sering tidak berkecukupan?

Sebagai manusia yang bisa berpikir, istilah โ€œBanyak Anak Banyak Rezekiโ€ bisa kita tinjau ulang kebenarannya. Pada zaman modern ini, rasanya kurang tepat jika masih menganggap bahwa anak yang banyak sebanding dengan rezeki yang banyak.
Bayangkan saja, sekarang harga bahan-bahan kebutuhan pokok semakin tinggi, belum lagi biaya rumah, belum lagi biaya pendidikan untuk si anak. Sebaiknya jika ingin memiliki banyak anak, kita wajib melihat kemampuan ekonomi kita terlebih dahulu. Sudahkah kita mampu? Jika mampu, tidak ada masalah. Meskipun sedikit kerepotan, setidaknya kita bisa menjamin makanan anak kita bergizi dan mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Tentu kita merasa sedih jika anak tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Kita bisa melihat fenomena sekitar kita. Menyedihkan bukan jika anak kita tidak memiliki angka kecukupan gizi dan pendidikan yang asal-asalan saja? Bahkan perhatian kita juga tercurah untuk saudaranya yang lain.

Jika dahulu orang tua mengatakan bahwa rezeki akan datang sendiri jika sudah ada anak, kita bisa maklum karena zaman dulu jumlah manusia belum banyak seperti sekarang. Sandang, pangan, dan papan masih sangat terjangkau. Terlebih lagi di daerah pedesaan. Makanan dan lahan sudah tersedia. Tinggal panen saja. Bagaimana dengan sekarang? Harga kebutuhan pokok sudah melangit dan harga tanah sudah tidak indah seperti dulu lagi. Bahkan jika ingin kredit rumah, bisa belasan hingga puluhan tahun baru lunas.

Itu baru soal ekonomi, bagaimana dengan soal karir? Mengurus anak-anak membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bagi ibu rumah tangga waktu penuh, ini tidak masalah. Tetapi bagaimana dengan perempuan karir? Mereka akan kesulitan membagi waktu. Bahkan, jika mereka menyewa seorang pengasuh sekalipun. Budget yang dibutuhkan untuk membayar baby sitter pasti tidak murah. Itu baru anak satu. Bagaimana jika banyak anak? Tentu semakin mahal. Konsentrasi ibu di tempat kerja akan terpecah jika mereka punya anak banyak. Mereka harus mengontrol anaknya di satu tempat. Belum lagi anak lain yang sudah sekolah.

Tidak ada yang salah dengan keinginan memiliki banyak anak. Tetapi kita harus bijak karena kitalah yang bertanggung jawab atas hidup mereka. Jangan sampai anak menjadi korban karena kekolotan kita. Lebih baik ikuti anjuran untuk program KB (Keluarga Berencana). Orang-orang berkecukupan biasanya tidak mempunyai terlalu banyak anak. Mereka cenderung lebih bahagia. Mengapa? Karena mereka bisa membahagiakan anak dan menjamin anaknya menjadi manusia unggul mulai dari makanan, pendidikan, hingga kesehatan. Perhatian orang tua tidak akan terpecah jika jumlah anak tidak terlalu banyak. Memang, anak banyak merupakan anugerah Tuhan, tetapi anak sedikit pun anugerah Tuhan. Terpenting ialah, kita mampu menjaga dengan baik dan bertanggung jawab atas anugerah itu. [Desfortin]

32 Comments »

  1. Tergantung sih. Kalau mmg berencana punya anak banyak berarti harus siap dari segi rencana keuangan dan kualitas didikan karakter dan hal baik lainnya yg mumpuni spya setiap anak tumbuh menjadi manusia yg bertanggung jawab bukan hanya utk dirinya tetapi jg lingkungannya.
    Kalau mmg tdk punya rencana modal sprti itu, mgkn lebih baik brfikir seribu kali utk punya anak bnyk. Bagaimanapun yg paling bertanggung jawab utk kehidupan anak itu hingga dewasa tentu orang tuanya. Tak mgkn dilimpahkan ke org lain kecuali anak2 itu kehilangan ortunya saat ada musibah maka tentu ada org2 atau instansi2 yg brtanggung jwb atas hal itu. Menurut sy sih bgtu Mas.

    Suka

  2. memang harus di rencanakan sebaik-baik nya, tapi ada juga loh mas orang tua yang punya anak lebih dari 10, namun tetap sukses menyekolahkan sampai kuliah, dan itupun keluarganya juga terlihat sederhana..
    Kadang kehidupan itu tidak bisa di pikir hanya dengan logika, karang banyak keajaiban yang tak mampu pikiran manusia menerimanya ๐Ÿ˜€
    Tapi tetep, lebih baik punya anak standar saja, 2 atau 3 itu udah lumayan

    Suka

    • Yup, terpenting hrs siap dan bertanggungjawab; bnyak ataupun sdikit. Klau kaya, blh sja, tp kdang perhatian jd tdk memadai.

      Intinya, apkah bnyak anak itu bnyak rezeki, itu aj. Ternyata, stlh diperhatikan tdk jg toh…

      Suka

  3. Aku setuju, banyak anak banyak rejeki mungkin berlaku jaman dulu ketika hidup lebih simpel, tapi rasanya jaman sekarang nggak juga yaa… yang ada semakin banyak pengeluaran kalau anaknya banyak hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  4. Aku setuju pernyataan ‘banyak anak banyak rejeki’. Dgn catatan anaknya sudah ‘jadi orang’ semua dan kaya raya. Jadi tiap bulan bisa kasih uang ke ortunya. Hehe.
    Tapi kalo ditanya mau punya banyak anak, kujawab nggak. Kasihan nanti kalo punya banyak anak, emak bapaknya kerja. Siapa urus anak? Anak diurus orang, enakan urus sendiri. Tapi kalo emak bapak nggak kerja, kebutuhan bakal tak tercukupi. Sekarang semua barang mahal. Sekolah mahal. Ongkos juga. ๐Ÿ˜†

    Disukai oleh 1 orang

  5. Ketika kakak aku lahiran…

    Kata Ibuku: Duh, nanti sekolahnya gimana? Mahal, pasti ribet juga ngurus 3 anak.

    Kata Bapakku: Asiikkk, cucuku nambah banyak!

    Wkwkwk, jadi tergantung masing-masing sih. Tapi biasanya perempuan itu lebih banyak alesannya untuk urusan anak. Cuma yak, setelah anak bayi itu beberapa bulan dan lucuk, toh Ibuku juga ikutan seneng dan nggak jadi nyesel nambah cucu.

    Suka

  6. Klo menurut saya ungkapan itu dapat dilihat dari prespektif berbeda.. Banyak anak itu bukan otomatis banyak rezeki bagi keluarga. Sebab rezeki masing-masing anak sudah melekat pada dirinya.. Jadi maksudnya masing-masing anak ada rezekinya.. Sebab rezeki masing-masing anak itu berbeda… Ada juga org yg banyak anak itu banyak rezekinya, ada juga org yg banyak anak itu rezekinya cukup ada juga yg banyak anak rezeki mereka sulit..

    Disukai oleh 1 orang

  7. Menarik Kak, Ayu jadi kepikiran hal lain yang mungkin masih ada kaitannya dengan tulisan ini.
    Fenomena sekarang yang Ayu perhatikan, terutama di kalangan teman-teman ya Kak ya…
    Banyak yang menunda untuk melangsungkan pernikahan dan fokus pada karir. Salah satu alasannya adalah ‘takut’ dan cemas. Terutama terhadap masa depan yang tidak menentu. Jangankan berpikir untuk memiliki banyak anak, memiliki keluarga atau rumah tangga sendiri saja masih menjadi soal yang entah kapan dan bagaimana menyelesaikannya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Yup, ada jg yg mmang takut dan cemas. Tp ad jg kebelet mau nikah, haha … kyak bbrp tmanku, dan itu parah bnget, krn hnya takut dikatain gak laku. Yg pnting, klau nurutku sih, sblum nikah emang mesti persiapan diri dg matang, baik scra fisik dan mental. Ap tujuan nikah atau brumah tangga. Itu dulu. Stlh itu jlas, urusan jumlah anak pun bkal lbih mudah disepakati.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s