Untuk Temanku yang Menikah Hari Ini

Hai temanku, apa kabar? Semoga engkau selalu bahagia dan sehat. Beberapa waktu yang lalu, kau menyampaikan undangan pernikahanmu kepada kami melalui Grup Alumni kita. Aku sejenak tertegun. Akhirnya, kau telah menemukan belahan hati yang tepat yang akan menemanimu dalam mengarungi hidup selanjutnya.

Aku turut merasa bahagia. Menurutku, berdua memang lebih baik daripada seorang diri, bila waktunya telah sampai. Teman, dulu kau sendiri. Bebas dengan kesendirianmu. Sekarang, kau tak lagi sendiri. Kau akan memiliki teman hidup, memasuki fase baru, menjadi pemimpin dalam keluarga kecilmu. Tentu tidak akan sebebas dulu.

Aku ucapkan terima kasih atas undangan pernikahanmu. Namun, aku minta maaf karena tidak bisa menghadiri acara yang akan mengantarkanmu dalam kehidupan yang baru itu. Jarak dan waktuku yang tak memungkinkan saat ini menjadi penyebabnya. Sekali lagi aku minta maaf. Semoga engkau maklum.

Sebagai teman, aku memiliki beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin hadiah yang aku berikan tidak terlalu mewah dan apa yang aku tuliskan ini sedikit klise, tetapi aku yakin bahwa tulisan ini nantinya akan sangat engkau butuhkan selama mengarungi rumah tangga bersama dengan wanita pilihanmu.

Wahai temanku, kau pasti sudah tahu aku telah terlebih dahulu menikah. Meskipun kerikil-kerikil hidup berumah tangga mustahil nihil, tapi aku merasa bahagia dengan kehidupanku bersama dengan istri dan anakku. Aku ingin engkau pun merasa bahagia dengan kehidupan pernikahanmu kelak.

Ingatlah, rumah tangga ibarat perahu yang dinahkodai dua orang di tengah lautan lepas. Ada orang yang berhasil menikmati perjalanannya di tengah laut. Ada pula yang harus karam di tengah laut karena gagal dalam mempertahankan kapalnya. Aku bersyukur sampai saat ini masih menjadi orang tipe pertama. Aku berharap yang sama terhadap dirimu.

Agar perahu yang engkau dayung bersama belahan jiwamu berlayar megah di tengah ganasnya ombak, ingatlah beberapa hal ini, teman:

Pertama, sampaikan kemarahanmu dengan baik.

Semua orang pernah marah. Siapa yang tidak pernah marah? Terlebih lagi dalam rumah tangga. Engkau selalu bersamanya setiap hari. Konflik tak mungkin dielak. Mungkin ada perkataannya yang menyakiti hatimu atau sikapnya yang tak sesuai harapan. Ketika itu terjadi, maka jangan sesekali engkau mengatakan bahwa engkau membencinya. Ketahuilah, hal itu bisa menimbulkan penyesalan kepadamu di kemudian hari.

Kedua, rumah tangga adalah soal kerja sama, bukan kompetisi.

Kau harus ingat bahwa rumah tangga adalah bergerak bersama, melangkah bersama, bukan bersaing. Aku tahu engkau adalah pekerja keras. Aku yakin dirimu akan menjadi suami yang bisa bertanggung jawab dan menafkahi istrimu. Laksanakan tugasmu sebagai tulang punggung. Tetapi, teman, istrimu adalah ibu rumah tangga. Dia adalah orang yang bekerja tanpa henti dan tanpa hari libur. Dia bekerja pagi hingga malam untuk memastikan kau dan anak-anakmu memakan makanan yang enak, kau bisa ke kantor dengan baju yang rapi dan wangi, anakmu bisa berangkat ke sekolah dengan bekal. Ya, dia adalah orang yang tidak akan meminta upah seperti karyawan. Dia memberikan tenaganya sepenuh hati. Demi cinta.

Maka, janganlah engkau menganggap bahwa engkau lebih dari istrimu. Kalian setara. Suami istri adalah partner, bukan saingan. Rangkul dia sebagaimana engkau merangkul temanmu. Ajak ia bicara. Sisihkan uang untuk dia. Satu bulan sekali atau satu tahun sekali, ajaklah ia makan di warung spesial atau kalau bisa restoran yang enak, belanja make up dan baju yang bagus. Buat hatinya tersenyum. Tanpa dia, engkau bukan siapa-siapa. Jika suatu saat dirimu sukses, dialah yang mengantarkanmu hingga titik kesuksesan.

Kalau suatu saat hatimu sudah tidak bisa lagi setia. Kau akan berpikir di luar sana banyak perempuan yang lebih cantik dari istrimu. Maka, dia juga bisa melakukan hal yang sama. Ada banyak lelaki di luar sana yang lebih kaya dan lebih baik darimu. Mengapa dia memilih dirimu? Maka, jangan sesekali menyia-nyiakan perempuan yang sekarang akan menjadi istrimu.

Itulah sedikit hadiah dariku. Bisa kau ambil atau kau abaikan. Terserah dirimu. Ini hanya hasil refleksi dari temanmu yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga 11 tahun lamanya.

Selamat menjadi raja dan ratu sehari, temanku. Selamat menempuh hidup baru, selamat berbahagia. Tuhan memberkati pernikahan kalian.

Salam dari temanmu,

Desfortin


Tulisan ini aku persembahkan untuk temanku, Ellias Pimping. Teman sekolah sejak SMP dan SMA, yang melangsungkan pernikahannya dengan wanita pilihannya, Seatri. Pada hari ini, Selasa, 16 Oktober 2018, di Desa Penahan Kec. Arut Utara, Kab. Kotawaringin Barat-Kalimantan Tengah.

8 Comments »

  1. Luar biasa kak, terutama untuk nasihat bagi yang memulai hidup baru.

    Jadi banyak belajar juga.

    Selamat untuk yang memulai hidup baru, semoga menjadi keluarga yang rukun dan sukses menjadi teladan bagi keluarga yang lainnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s