Hidup Tak Semudah Fiksi

Sumber gambar: quotez.co

Mungkin kita sering membaca kisah-kisah fiksi seperti novel, cerita pendek (cerpen), cerita bersambung (cerbung) atau dongeng. Kesan kitapun beragam saat membaca kisah fiksi. Entah itu senang, sedih, penuh harap, campur aduk atau kesan-kesan lainnya yang mungkin tak terkatakan.

Menurut KBBI, fiksi adalah cerita rekaan, khayalan, cerita yang tidak pernah terjadi. Banyak orang yang menyukai fiksi entah dalam bentuk bacaan atau bentuk tontonan seperti film, drama atau ftv karena ceritanya yang indah. Berbeda dengan fiksi, kehidupan kita nyatanya tidak semulus kisah fiksi tersebut. Hidup kita dihiasi dengan konflik yang solusinya tidak semudah membalikkan tangan.

Jika kita membaca kisah fiksi, maka solusi atas konflik yang dialami tokoh utama bisa dengan mudah ditemukan. Pada satu bab diceritakan konflik hebat yang dialami si tokoh utama lalu pada bab berikutnya, langsung ada solusi brilian untuk sang tokoh. Kisahnya biasanya berakhir dengan bahagia atau happy ending. Sedangkan hidup kita? Meskipun tidak sedramatis fiksi tetapi kesulitan sangat sering kita jumpai dalam kehidupan kita.

Apa yang menjadi bukti bahwa kehidupan kita tidak semudah kisah fiksi?

Pertama, konflik yang kita alami jauh lebih banyak

Ketika kita membaca fiksi atau menonton film, kita bisa menghitung berapa konflik yang ditampilkan di dalamnya. Dalam kehidupan, konflik tidak bisa dihitung secara konkret. Bisa jadi hal yang kelihatannya baik-baik saja berujung dengan konflik. Apa yang kita lakukan terkadang tidak sesuai dengan keinginan orang lain sehingga konflik itu tercipta. Beberapa konflik bisa juga datang sekaligus. Berbeda dengan fiksi yang menyediakan solusi untuk satu konflik. Namun hidup kita tidak begitu. Satu konflik atau satu permasalahan terkadang tidak cukup diatasi hanya dengan satu solusi saja. Itulah mengapa hidup kita jauh lebih kompleks dibandingkan dengan fiksi.

Kedua, dibutuhkan kerja keras ekstra untuk mendapatkan suatu hal

Pernah kan kalian membaca kisah si miskin dan si kaya yang saling jatuh cinta dan hal ini mengubah hidup si miskin secara drastis? Hanya dengan cinta dan wajah yang rupawan, si miskin bisa dengan mudah menikmati hidup yang serba berkecukupan. Kisah yang lain, si miskin yang baik hati menolong si tua yang kaya raya lalu si miskin diangkat menjadi anak dan mendapatkan warisan yang berlimpah ruah. Hal ini mungkin saja kita temui dalam dunia nyata tetapi sangat jarang terjadi. Kebanyakan dari kita harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak cukup hanya dengan modal wajah dan cinta saja, tetapi hasil kerja kita yang menentukan apa yang akan kita dapatkan.

Ketiga, kebaikan tidak selalu berbuah manis

Ada pepatah yang berbunyi β€œApa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.” Jika kita menanam kebaikan, maka hasilnya adalah kebaikan dan sebaliknya. Biasanya, ini hukum saklek yang ada dalam fiksi. Tokoh utama yang berbuat baik pasti akan mendapatkan kebaikan sedangkan tokoh antagonis yang berbuat jahat akan menuai hasil dari kejahatannya. Dalam kehidupan nyata kita, tidak selalu seperti itu, bukan? Seringkali kita berbuat baik tetapi kita malah mendapatkan cacian, hinaan dan bukannya mendapatkan pujian. Tetapi kebaikan harus tetap dilakukan dan kita harus bersabar.

Keempat, tidak selalu happy ending

Ini adalah pembeda antara kisah kita dengan kisah fiksi. Happy ending. Hidup dalam fiksi terasa indah karena akhir yang bahagia. Sedangkan hidup kita tidak selalu seperti itu. Kita tidak pernah tahu kapan ending atau akhir kehidupan kita. Apalagi menentukan happy atau tidaknya. Kadang-kadang kesulitan harus dilalui baru mendapatkan kemudahan meskipun kemudahan itu hanya sebentar. Kadang-kadang juga kemudahan harus ditempuh dengan cara-cara yang cukup pelik.

Mungkin ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari fiksi tetapi hidup kita jelas tidak semudah fiksi. Intinya, tetap semangat dan berjuang! [Desfortin]

31 Comments »

  1. Semangat! Terima kasih mas Desfortin untuk tulisannya.
    Setuju banget sama pendapatnya mas Desfortin, apalagi kalimat terakhir di nomor 3. Cuman masalahnya “ketahanan” untuk menjalani hidup dan berbuat baik kepada yang jahat itu sangat susah.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Tapi saya yakin bang, kalau kita tanam kebaikan akan kita tuai kebaikan pula, meskipun terkadang kita dapat sebaliknya, tapi saya yakin itu bukan hasilnya, hanya kita di uji untuk mendapatkan kebaikan yang jauh lebih dari yang kita bayangkan.. 😁

    Disukai oleh 2 orang

  3. Setuju mas, kita semua tahu hidup tak sepeti dalam fiksi tapi tetap saja orang suka membaca atau nonton fiksi, karena membuat kita terhibur sementara dari hiruk pikuk permasalahan di dunia yang solusinya tak semudah spt dalam fiksi. (halah ngomong apa sy ini kok muter2 kayak permasalahan di dunia yang tak ada ujungnya he he )

    Disukai oleh 1 orang

  4. Saya juga ingin berbagi quote tentang Pendidikan yang kebetulan baru saya pos di IG.

    Tes standar memberi tahu kita banyak tentang belajar sebagaimana acara tv memberitahu kita tentang kenyataan – Robert John Meehan

    Maka kita harus berhenti mengukur kesuksesan anak hanya lewat nilai, dan mulai melihat pada pembelajaran nyata, kreatifitas, pemecahan masalah dan sukacita penemuan.

    #eduid

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s