Cermin: Benci Bahasa Inggris?

Ijon tak suka Bahasa Inggris. Ia benci sekali. Entahlah apa penyebabnya. Mungkin waktu sekolah dulu, ia pernah mempunyai pengalaman buruk dengan Bahasa Inggris.

Setiap kali mendengar Bahasa Inggris, ia merasa tak bersemangat. Kalau ada film berbahasa Inggris di layar tv, seketika itu juga ia pencet remote control ke kanal lain. Pernah juga suatu ketika, anaknya yang kelas 7 SMP bertanya padanya tentang PR Bahasa Inggris. Sontak saja ia berujar, “Nak, ayah itu tidak bisa Bahasa Inggris karena dari dulu memang tidak suka. Jadi, maaf, ayah tidak bisa bantu.”

“Coba kamu tanya ibumu saja ya,” saran Ijon pada anaknya itu.

Anaknya heran, tak mengerti kenapa ayahnya seperti itu.

“Bahasa Inggris itu menyebalkan. Ayah tidak akan sebut satu kata pun yang menggunakan Bahasa Inggris,” kata Ijon kekeuh.

Baru saja ia mengucapkan itu, tiba-tiba anaknya bertanya: “Oya yah, ayah lagi ngapain dari tadi main hape terus?”

“Ayah lagi online nich,” jawab Ijon.

“Oya yah, aku mau beli shampo dulu ya,” pamit anaknya itu.

“Eh, tunggu dulu!” sela Ijon. “Ayah pengin nitip beliin shampo juga, sekalian untuk ibumu juga,” tambah Ijon seraya menyerahkan sejumlah uang kepada anaknya itu.

“Baik!” kata anaknya itu.

“Oya, ayah dan ibu merek shamponya apa ya?” lanjutnya lagi.

“Ayah Cl-ar, Ibumu R-joice,” jawab Ijon cepat.

“Sebentar yah, Udin mau tanya lagi. Mumpung masih ingat nich. Kalau kita mau mencetak dokumen sehabis ngetik di laptop, biasanya kita pakai apa, yah?” tanya Udin, anaknya itu.

“Ya, printer dong,” jawab Ijon lagi.

“Kalau ayah lagi nonton tv, alat yang ayah pencet-pencet dari jauh untuk cari channel tv itu apa namanya, yah?”

Remote,” jawab Ijon tidak sepenuhnya tepat. Harusnya remote control. πŸ™‚

Anaknya terus bertanya dengan beberapa pertanyaan lainnya. Seperti tentang alat untuk menelpon, istilah sepak bola dimana posisi pemain lebih duluan ke area lawan, dan istilah mengambil video dari internet. Sebenarnya Udin sengaja menguji sekaligus menyindir ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sepertinya Udin tak takut kualat dengan ulahnya itu.

Dan Ijon pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cepat dan cerdas, “Handphone, Offside, dan Download.”

“Eh, maksud kamu tanya-tanya itu apa Din? Apa hubungannya dengan beli shampo?” Ijon bertanya balik.

Udin pun menjawab sembari berlalu, “Yang ayah ucapkan barusan itu Bahasa Inggris, yah.”

Ijon kemudian hanya terdiam. Tak bisa menjawab sepatah kata pun, selain wajah konyol dan senyum tersipu yang dikulum. [Desfortin]


Note:

~ Cermin = Cerita Mini (Fiksi)

~ Sumber Gambar: scholastic.com

Kategori: Bahasa, Fiksi

Tagged as: , , ,

37 Comments »

    • Haha … ad loh org yg bgtu …

      Gak jg sih, susah2 gmpang aj. Kuncinya cintai dulu. Nah, klau dah cinta bhs. Inggris, psti bkal lbh gampang bljarnya. Tp dah bnci duluan, ya susah jd nya πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

  1. Nampaknya memang kita lebih suka belajar Bahasa (Secara umum) dengan cara yang santai, tidak formal dan memang melekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dulu, guru Bahasa inggris saya juga mengatakan hal yang serupa.
    Hal yang membuat kita takut untuk belajar ‘bahasa’, terutama Bahasa Inggris adalah persepsi atau bayangan bahwa Bahasa Inggris itu ‘jelimet’ Grammar-nya dan masih banyak lagi. Perspesi mengenai Bahasa inggris sebagai bahasa yang sulit dan susah untuk dikuasai itu masih menjadi benteng pertama mengapa kita malu dan tidak ingin belajar bahasa.
    Pendapat Ayu saja ini ya Kak…hahahahaha

    Disukai oleh 3 orang

  2. Saya dari SD sudah suka bahasa Inggris, gara-gara lihat film barat sih. Kayaknya keren sih bahasa mereka. Kesukaan saya semakin menjadi-jadi kala saya kenal musik-musik barat. Sampai sekarang saya masih suka dan ingin terus belajar bahasa Inggris, ya walau koleksi vocabulary belum seberapa.

    Eh, soal cerminnya. Ini ngingetin saya sama orang-orang yang katanya anti-barat dan antek2nya, tapi secara gamblang mereka memakai teknologi dan juga karya orang barat gitu.

    Disukai oleh 2 orang

    • Klau udah suka, biasanya emang dekat dg bisa dan ngerti.
      Sy mlah wktu udah SMP kls 2 bru suka, Mas Jalil.

      Mas Jalil yg sy suka saat nerjemahin lirik lagu berbahasa Inggris. Salut. Bneran. Bgus banget.

      Ya, bgtulah. Cerminnya emang ad sedikit satire ke arah itu jg sih πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

  3. Sebenarnya anak ini cerdas sekali. Secara tidak langsung ia mengajar ayahnya dan pembaca [saya] bahwa belajar bahasa inggris seharusnya lebih fleksibel dan dengan nada gurau. Memang ada guru bahasa Inggris yang ngajar hanya untuk memenuhi jam pelajaran dan tuntutan kurikulum sehingga cara mengajar sedikit otoriter gitu deh.. Susah memasukan seember air ke dalam sebotol minyak gosok sekaligus. Need some skills in how to do that..

    Disukai oleh 2 orang

    • Yup, dibuat gurau dg nada satire kdang gak mslh. Intinya, sgla cara yg fleksibel bisa dicoba. πŸ™‚

      Ad juga guru yg dmikian, memang. Bhkan ad jg dg tugas yg mmberatkan siswa. Capek dech.

      Setuju dech pokoke dg komentar Mas Lee Risar. Btw, gmn skrg bgs. Inggris Anda sdh mahir ya?

      Disukai oleh 1 orang

      • Demikian juga ada beberapa guru yang kurang renda hati gitu deh.. kalau diperbaikin oleh siswa dikira siswanya sok pintar padahl emang gurunya uda salah.. husss..

        Ah bahasa Inggris saya masih jatuh bangun hahhah masih belajar terus ni bro..

        Disukai oleh 1 orang

  4. Betul ya … dalam kehidupan sehari2 sebenarnya orang awampun sering mngucapkan kata dlm bhs Inggris.
    Btw, Waktu SMP sy suka pelajaran Bhs Inggris tapi saat SMA tak lagi menyukainya, itu krn gurunya tdk menarik cr mengajarnya. Jd menurutku faktor guru memegang peranan penting bg seseorang utk mnyukai bhs inggris arau tdk.

    Disukai oleh 2 orang

    • Bhkan penggunaan kata ‘shift’ hmpir tiap hr sy dengar dr para karyawan atau pekerja yg piket, lbih familiar dr trjmhannya.

      Btul, faktor guru itu trmsuk jg. Klau sy, gak suka bhs. Inggris itu wktu kls 7 SMP sj.

      Suka

  5. Salam kenal Desfortin! Ehm, kalau bahasa Inggrisku sejauh ini hanya ada masalah di bicara. Karena aku jarang sekali bahasa Inggris, karena jarang ada temen yang mau diajak ngomong bahasa Inggris secara penuh. Alhasil, aku mulai bicara bahasa Inggris dengan diri sendiri.

    Kurang seru memang, tapi aku juga belajar bahasa Inggris dari lagu yang kunyanyikan.

    Disukai oleh 2 orang

  6. Aku juga ngerasa Bahasa Inggris itu momok banget. Mungkin pas pertama belajar udah dapet guru gak asik. Jadi first impressionnya udah jelek hehe. Sekarang juga masih gak jelas bahasa Inggrisku, tapi alhamdulillah gak menghalangi keinginan untuk menjelajah. Selama bisa bahasa tarzan, mudah-mudahan aman hwhwhw

    Disukai oleh 1 orang

    • Btul, ksan prtma itu emang bgtu menggoda, eh… mksdnya ksan prtma itu punya andil utk menentukan ksan2 selanjutnya.

      Ah, Anda trllu merendah. Bisa ke UK dan nrjemahin sendiri hal2 terkait English, itu luar biasa lo..

      Sukses ya…Omnduut.

      How should I call you, actually?

      Suka

    • Oya?

      Ya bgtulah. Kyaknya krn d masa lalu itu guru bhs Inggrisnya gak keren, yg berimbas pd nya kemudian. Pmbljaran yg monoton dr si pngjar tak jrang membuat pmbljar jd bnci πŸ™‚

      Slam knal jg

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s