Sejarah Berdirinya Desa Batu Hambawang

Bagi sebagian orang mungkin pelajaran sejarah itu tidak penting, karena mempelajari sesuatu yang sudah lalu dan usang, bahkan orang yang telah meninggal. Bagi saya sebaliknya, belajar sejarah itu sangat penting. Banyak pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik dari sejarah, baik untuk hidup di masa kini maupun untuk hidup di masa yang akan datang. Di antaranya kita bisa belajar tentang semangat perjuangan dari para pendahulu dalam mencapai suatu tujuan. Dengan sejarah kita juga bisa tahu tentang asal usul, tentang hikmat di masa lalu, tentang kesalahan di masa lalu yang perlu kita hindari, dan seterusnya.

Perlu disadari memang, bahwa sekalipun sejarah itu penting, tapi pelajaran terpenting dari sejarah adalah orang tidak mau diajar oleh sejarah (the greatest teaching of history is that mankind doesn’t want to be taught by history), sehingga orang jadi abai terhadap sejarah. Itu sebab, kesalahan-kesalahan yang tidak perlu di masa lampau justru diulangi di masa kini.

Baiklah, saya kira pengantarnya cukup. Pada postingan kali ini, saya akan berbicara tentang sebuah sejarah. Bukan tentang sejarah besar suatu negara apalagi dunia. Tapi tentang sejarah desa. Ya, saya akan membagikan tentang sejarah berdirinya desa Batu Hambawang. Sebuah desa kecil di kecamatan Sematu Jaya, kabupaten Lamandau, provinsi Kalimantan Tengah. Sumber tertulisnya saya dapatkan dari dokumen milik desa setempat. Kebetulan saat ini adik kandung saya juga masih menjabat sebagai Sekdes di desa ini.

Hal ini saya bagikan, selain karena desa ini adalah desa kelahiran saya, juga untuk menghargai jasa para pendiri desa ini. Atau setidaknya juga sebagai arsip dan pengingat kepada generasi di masa mendatang tentang desa ini.

Tulisan ini cukup panjang sebenarnya, tapi saya telah mencoba untuk merangkum dan menulisnya ulang dengan lebih singkat.


Sejarah Berdirinya Desa Batu Hambawang

Pada sekitar tahun 1950, di suatu daerah yang sekarang menjadi Desa Batu Hambawang, di mana waktu itu masih merupakan hutan primer yang masih utuh, mulailah sebagian dari warga desa Kujan kecamatan Bulik kabupaten Kotawaringin Barat membuka lahan pertanian. Kemudian mereka menetap dan tinggal berpencar-pencar di pinggiran sungai Lamandau, tepatnya di daerah yang disebut Teluk Batu Hambawang, Langsat Babulu, Batu Dawak, dan Babola’a.

Dengan semakin bertambahnya warga dari desa Kujan yang tinggal di daerah itu, akhirnya sekitar tahun 1952, terbentuklah suatu “Dukuh” atau “Kampung” di sekitar daerah tersebut. Kemudian pada tahun 1958, status dukuh atau kampung tersebut direncanakan oleh Kepala Desa Kujan yang pertama, Gst. Hadri (alm), untuk dijadikan sebuah dusun baru yang bernama: DUSUN PEMBANGUNAN.

Selanjutnya, pada sekitar tahun 1960, datanglah 4 (empat) orang Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari desa Pasir Panjang, desa Kinjil, dan desa Kenawan. Mereka lalu menemui Kepala Desa Kujan, Gst. Hadri (alm) untuk meminta izin membuka lahan di daerah “Dusun Pembangunan” tersebut, dan Kepala Desa Kujan memberikan izin kepada mereka. Adapun 4 orang Kepala Keluarga tersebut adalah:

  1. TAMANGGUNG JAYA JULANG (alm)
  2. OBET (alm)
  3. EGONG (alm)
  4. RIMAI (alm)

Setelah mereka mendapatkan izin dari Kepala Desa Kujan untuk membuka lahan di daerah “Dusun Pembangunan”, maka selanjutnya mereka berladang dan menetap di daerah itu, saling membaur akrab dengan sesama warga desa Kujan.

Setiap tahunnya keluarga dari 4 KK tersebut selalu berdatangan untuk membuka lahan di daerah “Dusun Pembangunan”, sehingga pada waktu itu warga pun bertambah menjadi sekitar 25 KK, termasuk di antaranya warga dari desa Kujan yang masih tinggal di daerah itu.

Tahun demi tahun berlalu. Jumlah penduduk dari 4 orang KK tersebut pun kian bertambah dengan cepat, maka “Dusun Pembangunan” dinilai oleh Bapak Gst. Hadri memenuhi syarat untuk ditingkatkan statusnya menjadi sebuah RT (Rukun Tetangga), yang mana RT tersebut merupakan bagian dari desa Kujan.

Pada waktu itu, sebelum Bapak Gst. Hadri meningkatkan status Dusun Pembangunan menjadi sebuah RT, beliau lalu merubah nama “Dusun Pembangunan” itu menjadi “Dusun Batu Hambawang.” Adapun salah satu dasar beliau memberi nama Dusun Batu Hambawang pada waktu itu adalah, karena konon pada zaman dahulu kala di dekat Teluk Hambawang itu terdapat pohon asam Hambawang yang buahnya jatuh ke sungai Lamandau dan menjadi batu besar. Batu tersebut sampai sekarang masih ada, yang dikenal dengan nama Batu Hambawang.

Selanjutnya, pada tahun 1969, wilayah Batu Hambawang resmi dijadikan wilayah RT. 04 Desa Kujan oleh Bapak Gst. Hadri. Dan pada saat itu yang menjabat sebagai Ketua RT adalah Bapak OBET.

Secara geografis kondisi kampung saat itu masih sangat sulit untuk dijangkau oleh pemerintah daerah. Akses yang tersedia hanyalah jalan setapak. Bisa dibayangkan betapa sulitnya kehidupan saat itu. Melihat situasi tersebut, maka Bapak OBET dan Bapak UWANG alias Tamanggung Jaya Julang melakukan musyawarah dengan masyarakat Batu Hambawang untuk membangun jalan kampung secara swadaya, dan dengan meminta bantuan orang-orang dari “Panengkongan” (yaitu daerah Kumai) dengan upah berupa padi (mengingat kondisi keuangan warga saat itu yang sangat sulit).

Dengan modal keuletan dan kebersamaan seluruh masyarakat Batu Hambawang untuk bergotong royong, akhirnya jalan kampung Batu Hambawang pada waktu itu terbangun sepanjang ± 900 meter, walaupun belum sempurna seperti yang diharapkan.

Lalu, pada tahun 1981, PT. HPH ABTC dan PT. KORINDO GROUP, membuat Logpound di Batu Dawak, yang akses jalannya melintasi wilayah Batu Hambawang. Pada tahun itu pula Bapak OBET dan Bapak NGALIMAN (selaku tokoh masyarakat) meminta bantuan kepada perusahaan tersebut untuk memugar jalan Kampung Batu Hambawang sepanjang ± 900 meter itu. Jalan kampung tersebut lalu diberi nama “Jln. TAMANGGUNG JAYA JULANG” yang merupakan jalan poros kampung. Kemudian dibuat juga sebuah gang yang diberi nama “Gg. OBET”.

Di sisi lain, anak-anak dari warga Batu Hambawang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan formal kala itu. Mereka harus bersusah payah berangkat ke sekolah dengan menggunakan alat trasportasi air (PP), yaitu sampan. Karena pada waktu itu fasilitas pendidikan Sekolah Dasar (SD) yang bisa dijangkau oleh anak-anak Batu Hambawang hanya ada di Desa Kujan dan Desa Guci. Dan atas alasan itulah, akhirnya Bapak OBET mengajukan permohonan kepada Kepala Desa Kujan, Gst. Hadri agar bisa disediakan fasilitas pendidikan Sekolah Dasar di Batu Hambawang. Sekitar akhir tahun 1981, permohonan tersebut terealisasi.

Bapak OBET menjabat sebagai Ketua RT.04 Desa Kujan / Dusun Batu Hambawang selama 15 tahun (1969 – 1984). Dan pada tahun 1985 – 1994, digantikan oleh Bapak LIKAT (alm), yang adalah putra dari Bapak OBET sendiri. Masa jabatan Bapak LIKAT adalah selama 9 tahun. Dan pada tahun 1995 – 1998, Ketua RT.04 Desa Kujan / Dusun Batu Hambawang digantikan lagi oleh Bapak RANI JUL. (alm), putera kedua Bapak UWANG, yang masa jabatannya hanya 3 (tiga) tahun lantaran pada waktu itu beliau mengundurkan diri.

Kemudian pada tahun 1999 – 2002, Ketua RT.04 Desa Kujan / Dusun Batu Hambawang digantikan oleh Bapak UWIK. Masa jabatan beliau pada waktu itu 3 (tiga) tahun. Selanjutnya, pada tahun 2003, diadakan lagi pemilihan Ketua RT.04 Desa Kujan / Dusun Batu Hambawang, dan pada waktu itu Bapak UWIK kembali terpilih, menjabat sampai pada tahun 2005.

Jumlah penduduk dusun Batu Hambawang kian bertambah. Pada tahun 2003 menjadi sekitar 60 KK. Pertambahan penduduk ini dinilai oleh Bapak H. Hajeril (alm), Kepala Desa Kujan yang ke-6, bisa untuk dimekarkan menjadi 1 (satu) buah RT lagi, yakni RT. 06 (RT. 05 sudah ada di desa Kujan). Maka terbentuklah RT. 06, dan yang menjabat sebagai Ketua RT.06 Dusun Batu Hambawang waktu itu adalah Bapak RONDE. Masa jabatan Bapak Ronde 3 (tiga) tahun (2003 – 2005).

Dengan dimekarkannya wilayah Lamandau dari kabupaten Kotawaringin Barat pada tahun 2002 (yang diberi nama Kabupaten Lamandau), maka itu turut membawa angin perubahan yang lebih baik bagi Dusun Batu Hambawang. Hal itu terjadi di mana pada tahun 2005 Pemerintah Daerah Kabupaten Lamandau menerbitkan PERDA (Peraturan Daerah) Nomor 05 Tahun 2005 tentang Pembentukan Kecamatan Bulik Timur, Kecamatan Menthobi Raya, Kecamatan Sematu Jaya, Kecamatan Belantikan Raya, dan Kecamatan Batangkawa. Pada waktu itu masyarakat Dusun Batu Hambawang mendapatkan berita baik dan gembira sebagaimana yang terdapat dalam amanat PERDA tersebut. Dalam pasal 5 ayat 2 disebutkan bahwa, “Dusun Batu Hambawang yang sebelumnya merupakan wilayah administrasi Desa Kujan Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau, dengan ditetapkannya peraturan Daerah ini maka Dusun Batu Hambawang menjadi wilayah administrasi Kecamatan Sematu Jaya Kabupaten Lamandau dan selanjutnya akan ditingkatkan statusnya menjadi desa definitif”.

Lalu, pada tanggal 27 September 2005, Bapak UWIK dan Bapak RONDE mengundang tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh wanita Dusun Batu Hambawang untuk berkumpul di Balai Dusun Batu Hambawang guna menyosialisasikan Peraturan Daerah Kabupaten Lamandau Nomor 05 Tahun 2005. Adapun agenda yang dibahas pada waktu itu adalah : masalah penggabungan desa dan pelepasan desa, dan persetujuan pembentukan desa baru.

Pada waktu itu yang menjadi pimpinan rapat adalah Bapak RANI JUL. (selaku tokoh masyarakat). Dalam forum rapat tersebut beliau menyampaikan opsi pertanyaan kepada peserta rapat sebagai berikut :

  1. Apakah Anda setuju tetap bergabung dengan Desa Kujan Kecamatan Bulik?
  2. Apakah Anda setuju apabila kita membentuk desa baru dan memisahkan diri dari Desa Kujan?

Dari 2 pertanyaan yang telah disampaikan oleh Bapak RANI JUL. tersebut, ternyata peserta rapat menyetujui pertanyaan nomor 2 (dua) sebanyak 90 % dari jumlah peserta rapat (70 orang).

Setelah itu pada tanggal 13 Oktober 2005, kembali diadakan rapat tentang penunjukan Kepala Dusun Batu Hambawang yang difasilitasi oleh Camat Sematu Jaya yang pertama (Drs. MURIADI) dengan mengambil tempat di Balai Dusun Batu Hambawang. Dalam pertemuan rapat tersebut disetujui dan disepakati yang menjadi Kepala Dusun Batu Hambawang adalah Bapak RANI JUL., dan yang menjadi Sekretaris Dusun adalah Saudara ANTON.

Selanjutnya pada tanggal 30 November 2006, Kepala Dusun Batu Hambawang mengundang Kepala Desa Kujan untuk rapat di Balai Dusun Batu Hambawang guna membicarakan kesepakatan pemekaran wilayah administrasi Dusun Batu Hambawang untuk menjadi Desa Definitif. Pada waktu itu Kepala Desa Kujan dalam sambutannya menyepakati dan menyetujui adanya pemekaran wilayah Dusun Batu Hambawang untuk menjadi desa definitif.

Pada waktu itu roda pemerintahan terus berjalan meskipun belum stabil lantaran adanya berbagai kendala dan kesulitan, khususnya karena belum adanya bantuan dana stimulan dari Kecamatan maupun Pemerintah Daerah. Namun hal tersebut tidaklah menyurutkan semangat pemerintah dusun untuk mengantarkan Batu Hambawang menuju pintu gerbang kemandiriannya, yaitu “Desa Batu Hambawang yang definitif”.

Dan berita baiknya pula bahwa tahun 2006 – 2008 Pemerintah Daerah memberikan perhatian khusus kepada Dusun Batu Hambawang dengan memberikan bantuan sebagai berikut:

~Bidang Energi, yakni berupa PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sebanyak 114 Unit (tahun 2006).

~Bidang Pendidikan, yakni berupa Rehabilitasi dan Pembangunan gedung SD 1 Unit (tahun 2007); Pembangunan perumahan Penjaga Sekolah 1 Unit (tahun 2008); dan Pembangunan Perpustakaan SD 1 Unit (tahun 2007).

~Bidang Kesehatan, yakni berupa Pembangunan POLINDES 1 Unit (tahun 2008).

Pada tanggal 28 Juli 2007, Pemerintah Dusun Batu Hambawang mendapat undangan untuk mengikuti Reses / Kunjungan kerja DPRD Kabupaten Lamandau di Balai Desa Purwareja Kecamatan Sematu Jaya. Dalam forum reses tersebut Kepala Dusun menyampaikan kondisi Dusun Batu Hambawang yang masih berstatus sebagai Desa Persiapan dan sempat ditanyakan juga tentang langkah-langkah apa yang harus ditempuh untuk menjadi sebuah desa. Dan secara spontan salah satu dari anggota DPRD Kabupaten Lamandau menyarankan agar Kepala Dusun Batu Hambawang segera membentuk panitia Pembentukan Desa Batu Hambawang yang di-SK-kan oleh Kepala Dusun sebagai persyaratan untuk mengajukan Proposal kepada Bupati Lamandau.

Selanjutnya, pada tanggal 8 Agustus 2007, Kepala Dusun Batu Hambawang mengadakan musyawarah dengan seluruh masyarakat Dusun Batu Hambawang untuk membicarakan hasil reses kunjungan kerja DPRD Kabupaten Lamandau sekaligus membentuk “Panitia Pembentukan Desa Batu Hambawang”. Dalam forum rapat tersebut telah dipilih dan disepakati tentang Tim Panitia Pembentukan Desa Batu Hambawang dengan susunan pengurus sebagai berikut :

Ketua: NGALIMAN
Wakil Ketua: ARAFIK
Sekretaris: ANTON
Bendahara: RIDIE

Setelah dibentuknya tim tersebut, tidak lama kemudian pada tanggal 28 Agustus 2007, Ketua Tim beserta teman-teman membuat proposal tentang pembentukan Desa Definitif Batu Hambawang yang disampaikan kepada Bupati Lamandau. Perjuangan bagi tim tidaklah mudah untuk mengantarkan Batu Hambawang menjadi sebuah desa definitif, hal ini sangat membutuhkan tenaga dan pemikiran yang ekstra. Apalagi pada saat itu, proposal yang telah disampaikan oleh tim pembentukan desa kepada Pemerintah Daerah, belum mendapatkan respons yang positif, sehingga proses perancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan sebuah desa sedikit mengalami hambatan.

Namun hal tersebut dipandang oleh masyarakat Dusun Batu Hambawang merupakan suatu hal yang wajar dan rasional.
Pada bulan Mei tahun 2008, telah diadakan PEMILUKADA Kabupaten Lamandau, dan situasi politik pada saat itu sedikit mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Sehingga pada akhir tahun 2008, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Lamandau (Drs. EDI YAKUB) dan anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Lamandau (SADI, S.Pd) mengadakan kunjungan kerja ke Dusun Batu Hambawang dalam rangka mencari materi untuk penyusunan rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Lamandau tentang pembentukan Desa Batu Hambawang di Kecamatan Sematu Jaya.

Setelah sekian lama status Dusun Batu Hambawang terkatung-katung, akhirnya harapan yang diimpikan oleh masyarakat Dusun Batu Hambawang untuk menjadi sebuah desa definitif telah terwujud. Tepatnya pada tanggal 12 Januari 2009 lembaga eksekutif dan legislatif Kabupaten Lamandau mengadakan sidang paripurna DPRD yang bertempat di ruang sidang DPRD Kabupaten Lamandau. Hasil sidang tersebut menetapkan dan menyetujui Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Lamandau Nomor 05 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Desa Batu Hambawang di Kecamatan Sematu Jaya.

Dengan telah disyahkannya Peraturan Daerah Kabupaten Lamandau Nomor 05 Tahun 2009 tentang Pembentukan Desa Batu Hambawang, maka status Dusun Batu Hambawang pada waktu itu berubah statusnya menjadi Desa Definitif Batu Hambawang. Namun demikian, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Tim Pembentukan Desa Batu Hambawang pada waktu itu, antara lain :
~ Mengadakan pemilihan Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang yang masa kerjanya maksimal hanya 1 (Satu) tahun;

~ Mempersiapkan peresmian Desa Batu Hambawang dan sekaligus melantik Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang.

Setelah Peraturan Daerah Kabupaten Lamandau Nomor 05 Tahun 2009 tentang Pembentukan Desa Batu Hambawang di Kecamatan Sematu Jaya ditetapkan oleh Lembaga Eksekutif dan Legislatif Kabupaten Lamandau, maka pada tanggal 28 Februari 2009, Tim Pembentukan Desa Batu Hambawang kembali mengadakan musyawarah dengan seluruh masyarakat Desa Batu Hambawang untuk mengadakan Pemilihan langsung Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang. Dalam musyawarah tersebut, ternyata masyarakat Desa Batu Hambawang masih menginginkan Bapak RANI JUL. menjabat sebagai Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang.

Setelah pemilihan dilaksanakan, Tim Pembentukan Desa Batu Hambawang mengusulkan penetapan Pjs. Kepala Desa terpilih kepada Bupati Lamandau melalui Camat Sematu Jaya untuk dibuatkan SK oleh Bupati Lamandau. Pada bulan Maret 2009, Bupati Lamandau (Ir. MARUKAN) menerbitkan SK tentang penetapan Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang. Setelah terbitnya SK Bupati Lamandau tersebut, selanjutnya Tim Pembentukan Desa Batu Hambawang mempersiapkan untuk pelaksanaan peresmian Desa Batu Hambawang dan sekaligus Pelantikan Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang.

Tepatnya pada tanggal 3 Mei 2009, Desa Batu Hambawang diresmikan oleh Bupati Lamandau (Ir. MARUKAN) menjadi desa definitif sekaligus melantik Pjs. Kepala Desa Batu Hambawang, Bapak Rani Jul. Atas dasar itulah Pemerintah Desa Batu Hambawang kemudian menentukan dan menetapkan hari jadi atau hari ulang tahun Desa Batu Hambawang pada tanggal 3 Mei setiap tahunnya.

Acara penyambutan tamu saat peresmian (musik dan tarian tradisional)

Acara penyambutan saat peresmian (pencak silat & ikat tongang kepada Bupati/Wakil Bupati Lamandau)

Pelantikan Pjs. Kades (Bpk. Rani Jul.) oleh Bupati Lamandau (Ir. Marukan)

Penandatanganan BA Pelantikan/peresmian

Foto bersama pasca peresmian Desa BH & pelantikan Pjs. Kades

Salah satu ruas jalan desa di masa kini (Jln. Tmg. Jaya Julang)

Demikian sejarah berdirinya Desa Batu Hambawang ini dituliskan sebagai catatan / dokumen desa agar diketahui dan diingat oleh unsur terkait, juga bagi generasi selanjutnya.

Ditulis di Batu Hambawang pada tanggal 30 April 2014 oleh Sdr. ANTON (Sekdes Batu Hambawang sejak tahun 2006 hingga sekarang).

Narasumber:

1. Bpk. Ngaliman (Sepuh atau tokoh Masyarakat Batu Hambawang sekaligus Ketua BPD kala itu)
2. Rani Jul. (Tokoh dan Pjs. Desa Batu Hambawang)

Nama-nama Kepala Dusun/Desa Batu Hambawang:

1. Rani Jul. (Pjs. Kadus Persiapan tahun 2006 – 2008)

2. Rani Jul. (Pjs. Kades Definitif tahun 2009)

3. Arafik (Kades tahun 2010 – 2014)

4. Harsono, S.IP (Pjs. Kades tahun 2015 – 2016)

5. Uyap (tahun 2017 – hingga sekarang).


Nah, demikianlah sejarah berdirinya desa Batu Hambawang ini saya rangkum dan tulis ulang untuk dibagikan kepada pembaca semua. Semoga bermanfaat [Desfortin].

25 Comments »

  1. Wah, sejarahnya panjang juga ya mas.

    Tapi syukur lah dengan usia yang tergolong muda, sarana desanya semakin tertunjang, Semoga semakin diperhatikan oleh pemerintah terkait agar semakin maju.

    Disukai oleh 1 orang

    • Aslinya mlah lbih pnjang 😂

      Desa kmi ini tergolong lmban perkembangannya, dan diresmikan hmpir pling blkangan ktimbang desa2 lainnya di satu kecamatan, pdhal pling dulu pembukaan lahannya.

      Sy skrg msh berhrap agar jln beraspal menuju kcmatan sgra dibangun

      Suka

        • Sbnrnya males dibikin part2. Ini sy anggap yg ke2 mlah. Klau dibikin part2 bs mlah bikin bosan. Tp krn sy lbih dr seminggu gak posting, mkanya hr ini sy posting 2 tulisan sklgus utk tema yg sama.

          Entahlah kpn bisa diaspal, yg ada skrg sdh dilatrit sih, tp kan gak sebagus aspal :))

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s