Cerpen: Reuni di Bulan Mei?

Sumber Gambar: ganlob.com

Malam itu, aku baru saja tiba di kota Nanga Bulik. Mungkin sekitar pukul 21.30. Dan setengah jam kemudian, aku telah berbaring di atas kasur. Tapi mataku masih melek, belum mau tidur. Aku masih saja asyik memainkan smartphone androidku. Lama aku terpikat olehnya, sebelum akhirnya aku pun berlayar ke pulau kapuk dengan bunga tidur yang menyertai.

**

Di kamarku ini, hanya aku dan adikku Dicky. Dan gawai ini tentunya. Dicky sibuk dengan gawainya, begitu pun aku. Gawaiku ini juga sudah menjadi pendamping keseharianku sejak setahun lalu. Tanpanya duniaku serasa ada yang hilang. Mungkin aku telah kecanduan. Tapi, sudah 2 hari ini aku tak bisa membukanya. Pasalnya, sinyal wi-fi di tempatku tinggal acapkali memang menyebalkan.

Kulihat layar smartphoneku. Ternyata begitu banyak pesan yang sudah masuk. Tampak di bagian atas layarnya ada notif merah bertuliskan 999+ pesan yang masuk.

Aku lalu membukanya. Ternyata pesan yang masuk adalah dari grup-grup WhatSApp yang kuikuti, maupun pesan dari akun Facebook dan juga Twitter. Aku mulai membacanya satu-satu.

Dan yang terakhir yang kubuka adalah pesan di Grup WhatSApp Alumni SMP 1 Bulik Tahun 2001. Sudah ada banyak obrolan di sana tampaknya. Dari yang receh, kocak hingga yang serius. Yang mendominasi chat sepertinya Beem, Siska, dan Ningsih. Mereka bertiga termasuk yang paling sering meramaikan grup. Teman-teman yang lain terlihat hanya sesekali menimpali, sebagian lagi hanya menjadi silent readers, memilih untuk menjadi pembaca diam. Aku pun memperhatikan chat di grup itu satu-satu.

Dari sekian banyak obrolan aku sampai pada bagian ini, aku melihat ternyata teman-temanku telah membicarakan sebuah rencana reuni, tapi belum sampai pada kesimpulan. Dan aku membaca, Sofia menyebut namaku di sana, “Gimana kalau kita tunggu pendapat Rudi aja?”

Melihat itu, aku pun segera meresponsnya.

“Hai, Sof dan teman-teman, maaf baru nimbrung nich,” kataku menyapa mereka.

“Oke, Rud, kami kemarin lagi bahas tentang reunian untuk tahun ini. Bagaimana pendapatmu?” balas Tino pada chat ku itu.

“Iya, Rud.” Tambah Sofia.

“Aku pikir, kita perlu bentuk panitia terlebih dahulu,” tanggapku singkat, yang juga terkesan sok bijak. :))

Begitupun teman-teman yang lain lalu ramai mendiskusikan tentang rencana reuni itu lagi.

Pendek cerita, panitia pun dibentuk. Mereka menunjukku menjadi ketua. Sofia sebagai bendahara, dan Tira sebagai sekretaris. Awalnya aku menolak ditunjuk sebagai ketua panitia. Pikirku, ini tugas yang berat. Tapi tak seberat rindu versi Dilan sih. Karenanya kemudian aku pun menerimanya setelah ‘dipaksa’, ha ha ha …


4 bulan kemudian.

Pimping, salah satu rekan panitia reuni SMP 1 Bulik, mengirim pesan WA padaku, “Rud, jam 3 nanti kita ketemuan di BR yuk …..?!”

“Di BR (Bundaran Rusa)? Nongkrong di BR maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Iya, di BR. Aku di Nanga Bulik sekarang, gak ke mana-mana. Bisa, kan Rud?” jawab dan tanya Pimping sekaligus.

Tumben, pikirku. Biasanya yang kutahu, Pimping itu selalu sibuk. Tiap kali aku hubungi ia, dengan maksud menraktirnya makan atau sekedar hangout, ia selalu bilang sibuk, sibuk, dan sibuk.

“Lagi di kebun nich bro. Maaf, lain kali aja ya,” begitu ia sering membalas sms-ku. :))

Namun kali ini justru ia yang mengajakku. Dan kebetulan, saat ini aku juga memang sedang berada di Nanga Bulik. Karenanya aku pun tak menolak ajakan Pimping, “Ok, kita akan ketemu jam 3 nanti.”


Gimana rencana reunian kita, bro? Sekarang sudah bulan April. Apa perkembangan terakhir?” pertanyaan temanku itu terdengar agak ‘kurang bermutu’ di telingaku. Pikirku, bukankah seharusnya ia sudah tahu dari laporan yang telah kubagi di grup WhatSApp kemarin. Apa ia tidak membacanya? Atau ia sedang berbasa-basi?

Namun, aku tetap tenang sembari dengan sabar menjawabnya. Aku membatin, oalah … ngajak ketemuan ini rupanya cuma pengin nanya itu aja. Ah, Pimping, ngapain gak lewat WA saja?

Tapi bukan. Sepertinya bukan itu saja maksudnya. Dan ternyata benar, sesaat kemudian ia ingin menraktirku. Ya, dengan sebungkus es Asetehe dan juga camilan junk food di seputaran Bundaran Rusa. :))

Reuni memang semakin dekat. Tinggal 1 bulan lagi. Namun persiapan masih belum maksimal. Aku pun merasa perlu untuk memaksimalkan kinerjaku sebagai ketua. Karenanya dalam waktu dekat, mungkin minggu depan, aku akan mengajak teman-teman panitia yang berada di seputaran Nanga Bulik untuk mengadakan rapat final.


1 bulan kemudian.

Nanga Bulik (16/05/2017) – Acara reuni hari itu dimulai. SMP kami yang bersejarah itu, SMP 1 Bulik menjadi pusat kegiatan. Aku, Beem, Siska, Ningsih, Lisa, Risa, Pimping, Ratih, Sofia (si admin grup), Eka, Tino, Budi, Gotra, Yetriana, Naomy, Tira, Wina, Rediman, Saridah, Apriadi, Wasih, Arbani, Riki, Pance, dan teman-teman yang lain sudah sedia hadir di sana, kecuali Suprianus — yang masih sibuk dengan pekerjaanya itu, dan juga Norti—salah seorang teman kami yang juga masih sibuk dengan bisnis mobilnya.

Dan sengaja, kami saat itu hadir memang tanpa membawa pasangan masing-masing, kecuali Pimping yang baru saja menikah. Pun eks bapak/ibu guru kami yang diundang. Ada pak Helon, pak Imban, pak Irwan, pak Baning, bu Teni, bu Leni, dan bu Darmawati; mereka sudah hadir di sana. Acara juga dihadiri sebagian siswa yang sekolah di hari itu.

Saat itu suasana sukacita memang begitu kami rasakan, dan seolah melingkupi seantero ruangan.

“Hadirin yang kami hormati. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita sekalian,” sapaan pembuka dari MC terdengar jelas dan lantang yang disambut suara serentak para hadirin saat itu.

Aku yang duduk di deretan kursi paling depan bisa merasakan atmosfer bahagia dan melihat penampilan sang MC dengan jelas. Ternyata, Beem memang berbakat jadi MC. Perawakannya yang macho dan berisi serta kostum yang matching membuatnya tampil memukau dan berwibawa.

“Selamat datang, selamat bertemu kepada teman-teman semua yang sudah hadir dalam acara reuni saat ini,” lanjut Ningsih sebagai MC kedua yang mendampingi Beem saat itu.

Ningsih, atau aku kerap memanggilnya Nining, juga tidak mau kalah untuk tampil prima. Celana jeans kemeja pink dilengkapi kerudung kece yang dipakainya saat itu membuatnya terlihat eksotis di mata hadirin.

“Terima kasih atas kehadiran bapak/ibu dan teman-teman sekalian dalam acara ini,” ucap Nining melanjutkan. Suaranya yang renyah dan feminin itu sungguh membuatku berpikir, bahwa tak salah ia jadi MC bersama Beem untuk acara reuni kami itu.

Setelah MC membacakan susunan acara, pun aku memberikan laporan panitia, dilanjutkan pula oleh kata sambutan dari salah seorang eks guru kami, maka selanjutnya acara demi acara lainnya pun berjalan sebagaimana yang telah dirancang.

Berkat kolaborasi yang apik antara kedua MC, Beem dan Ningsih, maka acara reuni kami itu dapat berlangsung dengan baik dan penuh kesan. Dan akupun sebagai ketua panitia merasa puas.

Namun demikian, pasca acara sepertinya ada satu kejadian yang mengejutkan; hampir saja rusuh. Sebelum kami beranjak dari ruangan, tiba-tiba ada 2 orang lelaki yang berpenampilan aneh masuk ke ruang aula tempat acara reuni kami digelar.

Wajah mereka bersalut topeng, rambutnya urak-urakan, memakai celana jeans yang dibolong-bolong, di leher salah seorang dari mereka tergantung sebuah kunci replika mobil, dan yang lebih aneh serta menyeramkan lagi di tangannya ada sebuah golok yang terhunus, dan lelaki yang satunya lagi menenteng sebotol miras, ia tampaknya sedang mabuk.

Sumber Gambar: poskotanews.com

Sontak saja kami semua panik. Aku pun membatin heran, kenapa orang-orang itu bisa lolos dari pertahanan pak Satpam di pintu gerbang depan? Apalagi sejurus kemudian 2 lelaki asing itu berjalan pelan namun tampak bengis. Yang membawa golok itu mendekati Eka dan yang membawa miras itu menuju ke arah Tino. Entah apa maksudnya.

Eka yang saat itu masih duduk di barisan bangku saf kanan, dan Tino di saf kiri tampak bingung dan ketakutan, khususnya Eka. Mirisnya, aku dan teman-teman hampir tidak bisa berbuat apa-apa lantaran juga takut dengan aksi para begundal nekat yang membawa senjata tajam dan miras itu.

Untunglah, sesaat kemudian Beem seolah jadi bumper. Ia tampil bak pahlawan. Ia juga memegang sebuah golok terhunus — entah dari mana ia mendapatkannya — dan berusaha hendak menghadapi 2 lelaki tengik tersebut. Walhasil, suasana pun makin tegang.

“Siapa kalian? Mau jadi jagoan ya? Kalau berani, ayo sini, lawan saya dengan tangan kosong!” tantang Beem kepada mereka sembari melepaskan golok yang sempat dipegangnya tadi.

Kami pun kaget dan was-was melihat aksi Beem yang mau melayani orang-orang ‘tak waras’ seperti itu.

“Hei, Beem. Apa-apan kamu?” kata bu Leni, salah seorang eks guru kami itu.

“Jangan diladeni!” lanjut bu Leni.

Dua orang itu tanpa menjawab perkataan Beem sepatah kata pun, tapi sepertinya mereka pantang menolak tantangan tersebut. Dengan wajah sok jagoannya, 2 lelaki itu pun segera melepaskan golok dan botol yang ada di tangan mereka. Lalu terjadilah fight tangan kosong di antara mereka.

Beberapa kali pukulan Beem luncas, tak mengenai satupun. Begitupun sebaliknya, usaha para lelaki tengik itu bagai menjaring angin; tak satupun pukulannya yang mendarat pada Beem.

Wuih, ….hebat juga Beem; satu lawan dua, batinku. Suara teriak dan gaduh dari hadirin terdengar mengiringi aksi fight tersebut. Namun pada akhirnya, ketiganya hanya berakhir pada aksi saling dorong. Dan kami pun berusaha melerai mereka.

Melihat situasi ini, Tino justru sempat melayangkan tinjunya kepada lelaki bertopeng yang tadinya menenteng miras itu. Tepat mengenai bagian bahunya. Saat lelaki itu hendak akan membalas Tino, maka Riki dan Budi mem-blok keduanya. Eka pun masih tampak begitu panik, eks guru-guru kami panik. Pun kami semua. Kami heran, kok bisa ada orang yang berniat mengacau acara.

Ya, pada awalnya kami panik sekali, panik tingkat dewa sebelum akhirnya terkuak, dan topeng 2 lelaki itu pun terlepas. Ternyata, itu hanyalah bagian dari skenario drama yang telah dirancang oleh Beem dan Siska untuk surprise 2 orang teman kami yang tengah berulang tahun. What a f–cking crazy! umpatku.

Ternyata, Eka (Melina Eka Sari) dan Tino (Rea Martino) sedang berulang tahun hari itu, tanggal 16 Mei. Dan 2 lelaki bertopeng itu ternyata pula bukan lelaki semuanya, tapi seorang pemuda dan pemudi. Mereka adalah Suprianus (lk) dan Norti (pr) — 2 orang teman kami yang kami anggap tidak hadir itu. Mereka sengaja baru muncul di penghujung acara demi Eka dan Tino yang berulang tahun. Ha ha ha …

Kejutan itu benar-benar kejutan, karena banyak teman yang lain dan aku sendiri sebagai ketua panitia tidak tahu sama sekali akan skenarionya. Dasar Beem, Suprianus dan Norti, you got us. You played a prank on us. Kreatif sekali kalian. Kena kami semua, terkhusus Tino dan Eka. Untung saja tak ada penderita jantung saat itu. :))

Lagu selamat ulang tahun dan ucapan selamat serta doa dari hadirin saat itu pun membuat suasana yang tadinya tegang dan penuh emosi kini tenang kembali. Norti dan Suprianus yang sebagai ‘aktor’ dari aksi nekat itu tampak kemudian mengucapkan permintaan maaf dan selamat ulang tahun. Lalu mereka memberikan sebuah kotak kado kepada Eka dan Tino. Entah apa isinya.

Dan aura terharu sekaligus bahagia tampak di wajah Eka dan Tino saat mereka membalas jabat tangan dan ucapan selamat dari Norti, Suprianus, dan kami semua yang hadir saat itu. Termasuk diriku.

“SELAMAT ULANG TAHUN, YA TEMAN!” ucapku pada Tino.

“Terima kasih, Rud.” Balas Tino padaku.

“SELAMAT ULANG TAHUN, YA TEMAN!!” ucapku pada Eka, dengan intonasi agak lembut.

“SELAMAT ULANG TAHUN, YA TEMAN!!” ucapku pada Eka lagi, dengan intonasi yang lebih meninggi. Pasalnya, ucapanku itu seolah dicuekin olehnya. Padahal aku tahu ia tidak budek.

“SELAMAT ULANG TAHUN, YA TEMAN!!!” ucapku pada Eka untuk yang ketiga kalinya, dengan nada yang lebih keras lagi.

**

Dan ucapan-ucapanku itu akhirnya dibalas, “Kak…., kak…., bangun kak! Bangun kak! Kakak ngigau ya? Siapa yang ultah, kak?” suara adikku, Dicky membangunkanku dari pelayaranku yang dalam ke pulau kapuk. Jam sudah menunjukkan pukul 06.15. Aku pun terjaga. Ternyata kisah reuni tadi hanya sebagian dari bunga tidurku. :))

Selesai

31 Comments »

    • Ya, mimpi itu pun fiktif. Krn memang tdk ad sang pnulisnya mimpi kek gitu. Jd ini murni fiksi aj, 100% fiksi. Hnya nama2 lakon, grup WA dan yg ultah sj yg faktual. Kronologis dan seluruh konten lainnya fiktif belaka :)))

      Disukai oleh 1 orang

  1. Wkwkwk. Aku kira beneran. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Abis ngucapin ulang tahun keburu bangun ya? Belum sempat makan-makan dong? Dicky banguninnya kalau habis makan aja.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Selamat ulang tahun buat Kak Eka dan Kak Tino. Semoga kasih Tuhan selalu bersama kakak-kakak. 😳😳😳

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s