Kisah Receh di Hari Libur: Tekuyung-Tekuyung Batu

Hari itu, aku tidak pergi ke sekolah. Bukan karena izin atau bahkan malas, tapi karena memang hari itu adalah hari libur. Karena hari libur, harusnya aku bisa saja bangun kesiangan. Tapi aku tidak melakukannya, aku tetap bangun seperti biasa. Pasalnya, istriku juga tak ada di rumah. Saat itu ia masih ada agenda di kota Palangka Raya untuk ujian tugas akhir studinya pada esok harinya. Jadi, hanya aku, puteriku Ruth Amora, dan juga nenek yang tinggal di rumah.

Karena itu pula, sekalipun hari itu adalah hari libur, tapi aku tidak sepenuhnya libur. Selain harus beres-beres rumah seperlunya pagi itu, aku juga dimintai tolong oleh bapak mertua untuk mengantarkan suatu barang ke tempat kerjanya. Selepas itu, aku juga melanjutkan pembersihan (menebas rumput) lahan kebun karet kami yang sempat tertunda beberapa waktu sebelumnya. Maklum, kami tinggal di desa, jadi tak asing dengan yang namanya kerja di huma, di sawah, di lahan atau di kebun.

Adapun jarak kebun karet kami itu dari rumah adalah sekitar 700 meter. Aku ke sana menggunakan sepeda motor, ditemani oleh anakku dan juga anak tetangga. Sebenarnya aku berniat meninggalkan anakku di rumah bersama nenek. Tapi karena Amora tak mau tinggal, akhirnya kubawa saja ia ke sana. Juga seorang anak tetangga kami itu, namanya Dino.

Sebagai anak desa, Amora dan Dino enjoy saja ikut ke kebun. Mereka hanya ikut menemani, yang kerja menebas rumput tentu aku sendiri. Sebab aku tak mungkin menyuruh mereka ikutan bekerja, selain ini memang bukan pekerjaan ringan, juga karena usia mereka yang masih belia, masih anak-anak. Lagian, cuaca hari itu memang cerah dan makin siang makin terik. Untunglah, aku bekerja di bawah pohon-pohon karet yang rindang, jadi tidak terlalu terpapar oleh panas.

Ketika telah dekat jam tengah hari, usai aku bekerja di kebun itu, Dino tiba-tiba punya ide. Ia mengajakku mandi ke sebuah sungai — sungai Batang Kawa — yang tak jauh dari area kebun. Mungkin hanya sekitar 300 meter. Tampaknya ia hapal betul lokasinya. Dan idenya itu disetujui juga oleh anakku. Aku pun kemudian setuju. Aku memang merasa kepanasan juga saat itu, mandi di sungai tentu akan sangat menyegarkan.

Sebenarnya kata orang, mandi siang-siang itu tidak terlalu baik bagi kesehatan. Apalagi di bawah terik matahari yang cukup panas seperti siang itu. Tapi akhirnya aku nekat saja membawa mereka mandi. Aku merasa sangat gerah pun kelelahan siang itu. Pikirku, semoga akan baik-baik saja.

Singkat cerita, meluncurlah kami ke salah satu tepi sungai Batang Kawa. Karena jarak 300 meter itu cukup jauh, maka kami ke sana tetap menggunakan sepeda motorku itu. Dan akses ke sana memang bisa dilalui oleh sepeda motor. Syukurlah.

Setibanya di tepi sungai, setelah melihat-lihat situasi di sekitar sana, dan tentu setelah melepas sebagian pakaian yang kami pakai, kami pun langsung menceburkan diri ke air sungai. Tentu saja, rasanya segar sekali. Rasa panas yang kurasa bisa terbayarkan oleh segarnya air sungai siang itu. Dan puji Tuhan, tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Aman terkendali. Kami bisa mandi dengan puas hingga selesai.

Di sana, di lokasi kami mandi itu terdapat pula banyak hamparan batu sungai, karena memang tak jauh dari lokasi itu ada riam atau arung jeram. Nah, saat kami sedang berendam, anakku dan Dino beride lagi. Mereka bilang, ingin mencari tekuyung batu yang ada di sekitar batu-batu itu. Dan di lokasi kami mandi itu memang terdapat banyak tekuyung batu. Aku pun akhirnya ikutan mencari juga.

Aku dan Dino sedang berendam sambil memungut tekuyung di dalam air (Jepretan Amora)

Tekuyung batu atau siput sungai atau keong (batu) dalam Bahasa Indonesia biasanya melekat pada rongga-rongga batu di dalam air sungai. Habitatnya memang di sana. Jadi, kami hanya perlu memungutnya satu per satu jika ingin memperolehnya. Dan mencari tekuyung-tekuyung batu itu menjadi hal yang seru serta menyenangkan, khususnya bagi Dino dan Amora. Rencana yang awalnya cuma ingin mandi, berakhir dengan kegiatan mencari tekuyung-tekuyung batu.

Setelah berada di sana sekitar 1 jam, mandi sepuasnya, dan tekuyung batunya pun sudah lumayan banyak diperoleh, kami pun memutuskan untuk pulang. Rencanya aku akan memasak tekuyung-tekuyung batu itu di rumah. Lumayan sebagai menu tambahan.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung memasak tekuyung batu hasil perolehan kami itu. Tapi kami makan siang terlebih dahulu dengan menu yang sudah ada, sisa menu sarapan pada pagi harinya; tinggal sedikit dipanaskan saja. Tak ayal, kami memang sudah lapar saat itu.

Barulah, setelah makan siang, aku mengolah tekuyung batu yang kami peroleh itu menjadi sebuah masakan. Prosesnya cukup panjang memang. Pertama, harus direbus terlebih dahulu hingga airnya sisa sedikit. Ke dua, dagingnya dicungkil dari cangkangnya. Tahap ini prosesnya cukup lama dan perlu kesabaran. Bayangkan saja, aku harus mencungkil satu per satu tekuyung-tekuyung batu itu dari cangkangnya. Apalagi saat itu, Dino dan Amora hanya membantuku sesekali. Akulah yang harus menuntaskannya. Oya, untuk mencungkilnya kami memakai jarum pentol, pinjam jarum pentol milik nenek. :))

Sempat-sempatnya tekuyung batu ini aku hitung, jumlahnya 606 ekor loh (besar-kecil) :)))

Setelah menyiapkan bumbunya, maka selanjutnya adalah mengeksekusinya menjadi masakan tertentu. Dan sore itu, aku mengolahnya dengan cara ditumis saja, atau dibuat semacam sambal goreng. Tapi sayang tidak dibuat terlalu pedas karena anakku tidak tahan pedas. Dan aku juga ada menambahkan tomat serta terong. Berikut tampilannya.

Menumis bumbu

Daging tekuyung batu bersama tomat dan terong tengah dimasak

Menu tekuyung batu ala ala (versi amatir) telah masak dan siap saji

Masakan tersebut sebagai menu tambahan untuk makan malam kami hari itu. Meskipun sedikit dan diolah secara amatir, kata anakku rasanya ENAAAK! Ha ha ha …

Demikianlah tulisan receh ini dan kegiatanku di hari libur hari itu bersama Ruth Amora dan Dino. Meskipun tidak berlibur ke tempat wisata yang kece, tapi kami cukup berbahagia. Bahkan Amora ingin agar di lain waktu, kami mandi ke sana lagi sambil mencari tekuyung (siput) batu lagi. [Desfortin]

43 Comments »

    • Seger bnget, aplgi wktu itu lg kpnasan, gerah bnget.

      Iya, cuma 5 biji cabainya. Soalnya anakku gak terlalu mampu klau kepedasan, hee…

      Yah, bgtulah masakan amatir mbak.

      Suka

  1. Wah …. bapak rumah tangga yang baik, selain sebagai kepala keluarga ternyata mampu menggantikan peran ibu rumah tangga juga ….
    Masakannya tampak enak, tapi kalau ditambahkan irisan cabe merah tentu tampak lebih menarik mas.
    Tapi salut dengan kesabaran mas Des, kok ya mau2nya dan sempat2nya menghitung tempuyung kecil2 begitu. Atau mungkin itu gambaran sifat mas Des yang penyabar ya ….

    Disukai oleh 1 orang

    • Haha …ya, mau gak mau lah, kan istri gak ad d rmh, mbak..

      Iya, klau cabenya bnyak psti mnarik. Mklum koki amatir, hihi…

      Sbnrnya itu krn sugesti bloger aj sih kyaknya, kan biar ad ceritanya saat ditulis :))

      Disukai oleh 1 orang

  2. Gak receh mas Desfortin. Gak sama sekali. Kayaknya bahagia gitu, adem. Pasti menyenangkan sekali kegiatannya.

    Salut juga bisa berperan sebagai ayah dan ibu (untuk sementara). Pintar masak juga kayaknya. Hehe

    Disukai oleh 1 orang

    • Yah, soalnya gak smua org sih yg nganggap postingan bgini pnting, hee…

      Pstinya kmi sngat snang skli saat itu. Liat anak snang, sy pun snang mas.

      Ya, mau gak mau krn istri lg ga ad d rumah. Masak ala2 aj mas..hee…

      Mksh udah komen mas

      Suka

  3. Sejenis keong ya Pak Guru Tekuyung itu?

    Awas ada bidadari yg juga ikutan mandi di sungai..πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    Jadi pengen mandi sungai juga aku. Udah lama banget ga mandi sungai, klo pulkam biasanya pasti aku sempat kan mandi di sungai.

    Good posting and experience!!!πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Disukai oleh 1 orang

  4. Hallo Pak Desfortin,

    Saya sempatkan berkunjung ke blog bapak saat jeda istirahat di sini. Hmm, apakah tekuyung itu keong sawah ya? Di Jakarta biasa dijual. Mungkin perlu dibagikan resep tertulis dan langkah praktis memasak. Selama ini saya biasa beli yang sudah matang saja.

    Salam,
    Anna

    Disukai oleh 1 orang

    • Hello jg mbak Anna.
      Terima ksh sdh mau berkunjung. Klau gak smpat sih, gak perlu dipksain mbak :))

      Smcam Keong gitu, tp ini kmi sebut tekuyung batu/sungai atau keong batu/sungai..mungkin mirip jg ya, sy kurang tahu yg keong sawah ya.

      Sy gak berani share resep atau lngkah praktis msaknya, soalnya ini jg msak ala2..ini pun sy lakukan krn istri gak ad d rmh. πŸ˜€ ✌✌

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s