Small Knowledge Is A Great Danger

Sumber Gambar : thoughtco.com

Manusia diberi rasio atau akal budi untuk berpikir. Dengan rasionya manusia dapat memikirkan banyak hal. Dan rasio yang sehat itu penting untuk dimiliki seorang manusia yang bertanggung jawab.

Ketika rasio atau akal budi manusia berada di jalur yang benar, maka itu disebut pikiran yang sehat; pikiran yang benar. Sebaliknya, jika tidak berada di jalur yang benar, maka itu disebut pikiran yang sakit; pikiran yang tersesat. Begitu manusia bisa menyebutnya.

Mengapa bisa tersesat? Mengapa bisa berada di jalur yang benar? Karena ia memang berpotensi untuk 2 hal: sesat dan tidak tersesat. Benar dan salah. Tergantung manusia dalam menggunakan rasionya.

Apa dasar atau standar untuk mengatakan bahwa suatu pikiran itu benar dan salah, sesat dan tidak tersesat? Tentu itu adalah standar kebenaran. Tanpa standar kebenaran mustahil manusia tahu apa yang benar dan apa yang salah.

Benar dan salah adalah 2 realitas yang tak terpisahkan. Sesuatu dikatakan benar karena tidak terdapat kesalahan di dalamnya. Sesuatu dikatakan salah karena tidak ada kebenaran di dalamnya. Demikianlah 2 realitas itu saling beriringan, bagai gelap dan terang, bagai baik dan jahat. Keduanya mempertegas realitas masing-masing.

Di dunia ini, manusia satu sering melihat manusia lainnya belajar. Belajar tentang kebenaran banyak hal, tentang kebenaran ini dan itu. Itu bagus. Manusia harus setuju bahwa mereka memang harus belajar. Sebab manusia adalah mahkluk hidup yang hakikatnya tumbuh dan berkembang. Dan belajar adalah salah satu cara untuk maju dan berkembang.

Biarlah manusia menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Biarlah ia menjadikannya sebagai alat dalam mengarungi kehidupan demi menuju bahagia sejati. Dan bahagia sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki untuk memuliakan sang Maha Pencipta.

Karenanya manusia harus ingat, bahwa ia tak boleh sombong jika telah berilmu banyak. Sebab semuanya hanyalah anugerah semata. Ia harus tetap rendah hati dan terus belajar. Karena dengan begitu ia pasti akan terus maju dan berkembang.

Namun yang celaka adalah, manusia yang tahu sedikit tapi bergaya setinggi langit. Manusia yang merasa diri benar padahal tersesat. Manusia yang merasa berilmu tapi sebenarnya baru seujung kuku, tong kosong nyaring bunyinya. Walau begitu tapi banyak bicara lalu berani mengajar manusia lain, tidakkah itu berbahaya?

Manusia harus sadar, bahwa yang tak berilmu tak layak menjadi guru bagi manusia lainnya. Kenapa? Karena selain memalukan, ia juga berbahaya sekali; berbahaya untuk menyesatkan. Karena itu mustahil membahagiakan.

Manusia yang tahu sedikit tentang bahagia tapi banyak bicara soal bahagia itu bukan bahagia, tapi berbahaya sekali; berbahaya untuk menyesatkan. Sebab itu dikatakan, bahwa pengetahuan sedikit adalah bahaya yang besar. Small knowledge is a great danger. [Desfortin]

24 Comments »

  1. Tulisan yang menarik, Kak.

    Dalam dunia keperawatan, kami mengenal yang satu diagnosa keperawatan yang namanya ‘defisiensi pengetahuan atau kurang pengetahuan’. Diagnosa ini diangkat ketika Klien yang kami rawat menunjukkan tanda-tanda kurang pengetahuan terkait dengan penyakit yang Ia derita, penyebab, tanda dan gejala dan yang lebih penting adalah ketika Ia tidak tahu bagaimana melakukan perawatan sederhana untuk mencegah atau me-rehabilitasi sakitnya. Banyak kali, kami (terutama Ayu selama ini) menghadapi Klien dengan masalah yang seperti diatas, tapi yang lebih sulit untuk dirawat adalah mereka yang seolah tahu tentang sakit dan kondisinya padahal nyatanya keliru. Sulit sekali rasanya mengajarkan pendidikan kesehatan yang baik dan sesuai dengan standar ketika berhadapan dengan Klien yang gelasnya sudah penuh.

    Disukai oleh 4 orang

  2. Seorang profesor pernah bilang, tidak ada ilmu pengetahuan / teori / pendapat yang 100% benar atau salah. Yang ada adalah “to what extent it is right and to what extent it is not right”. Dan kita harus jujur mengakui itu. Di situlah kita bisa menghargai pendapat orang lain. Dan dari situlah ilmu pengetahuan / teori / ide berkembang untuk membuat agar not right menjadi right meski pasti akan ada lagi not right. Inilah yang diperbaiki baik oleh generasi ini maupun yang akan datang.

    Disukai oleh 2 orang

  3. Saya pribadi menjadi merasa perlu introspeksi, jangan2 selama ini saya termasuk orang yang sedikit ilmu tapi berani berpendapat atau mengajarkan kepada orang lain.

    tetapi dalam agama kami ada ayat yang artinya kurang lebih “hendaknya menyampaikan kepada orang lain meskipum hanya satu ayat”. Ya … tentu tdk sesederhana itu maksudnya, mungkin di situ satu motivasi spy sesama penganut agama saling mendakwah (mengingatkan)

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s