Berkunjung ke Istana Kuning di Kota Pangkalan Bun

Hari Kamis, 12 April 2018 yang lalu, saya kembali melakukan perjalanan PP : Nanga Bulik – Pangkalan Bun. Masih menggunakan alat transportasi yang sama, dan dalam misi yang juga sama seperti perjalanan terdahulu. Ya, agenda dinas rutin yang akan saya lakukan tiap triwulan sepanjang tahun ini. Hanya saja kali ini, saya akan tambah dengan satu agenda lain, yakni berkunjung ke sebuah tempat bersejarah—Istana Kuning.

Rencana awal keberangkatan saya adalah pukul 08.00 Wib. Tapi kemudian saya undur jadi jam 9, karena ada urusan lain yang harus saya kerjakan. Namun akhirnya saya baru bisa berangkat sekitar pukul 10.00 Wib, karena juga harus menunggu seorang teman yang mau menitip sesuatu pada saya.

Seperti biasa, saya ke Pangkalan Bun dari Nanga Bulik itu membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam atau lebih menggunakan sepeda motor. Dan saya tiba di sana pukul 12.15 Wib. Tepat sekali, ‘kampung tengah’ saya pun waktunya untuk diisi. Lagian, tempat misi yang saya mau tuju itu masih jam istirahat siang, baru pada pukul 13.00 Wib akan buka lagi.

Saya pun lalu makan siang di sebuah warung makan di seputaran Bundaran Pancasila-Kota Pangkalan Bun. Sebelumnya, saya menghubungi salah seorang teman saya, Pak Saad Rumadi melalui WhatSApp dan mengajaknya untuk kopdar sebentar, lalu berkunjung ke Istana Kuning setelah misi pertama saya selesai. Tapi karena yang bersangkutan masih ada tamu, katanya, jadi saya makan siang sendirian saja saat itu. Menu yang saya pilih adalah nasi rawon. Enak sekali!

Agenda makan siang selesai, dan waktu masih belum tepat pukul 13.00, maka saya pun istirahat sejenak sambil tetap menanyakan kondisi terkini teman saya itu. Saya sungguh berharap ia bisa menemani saya untuk ke Istana Kuning nantinya; tentu setelah urusan saya itu selesai.

Waktu pun hampir menunjukkan pukul 13.00 Wib sehingga saya pun harus segera meluncur. Setelah tiba di sana, saya langsung mengurus misi pertama saya itu. Dan syukurlah, tidak lebih dari 15 menit urusan selesai. Oh, senangnya. Berarti, waktu untuk misi ke dua saya itu bisa lebih panjang.

Singkat cerita, setelah itu, Pak Saad sepakat untuk ketemu dan menemani saya berkunjung ke Istana Kuning. Dan kami juga sepakat untuk langsung bertemu di sana.

Waktu itu, saya yang datang lebih awal ke Istana Kuning. Saat tiba di sana, saya melihat suasana di halaman depan istana cukup ramai, banyak anak muda yang nongkrong dan ber-swafoto di sana. Dan saya pikir, memang beranda Istana Kuning ini adalah tempat yang cukup asyik untuk bersantai bersama teman-teman, khususnya di sore hari.

Saya sengaja belum masuk karena masih menunggu kedatangan Pak Saad Rumadi, teman saya itu. Namun saya pesan tiket masuk duluan sembari juga saya melihat-lihat keadaan sekitar.

Tangga ke beranda istana dari arah utara (arah lapangan tugu)

Setelah menunggu sekitar setengah jam, Pak Saad pun datang. Senang bisa bertemu kembali dengannya. Setelah basa basi seperlunya, misi kedua saya itu pun dimulai bersama Pak Saad. Saatnya masuk ke Istana Kuning dan menguak ceritanya. Let’s go!

Istana Kuning Kesultanan Kutaringin

Istana Kuning dilihat dari Lapangan Tugu (Sumber Gambar : wikipedia.org)

Istana Kuning adalah sebuah tempat bersejarah yang berada di tengah kota CANTIK Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kini ia dijadikan sebagai objek wisata yang bisa disambangi baik oleh wisatawan lokal maupun manca negara.

Istana Kuning ini merupakan bekas istana Kesultanan Kutaringin atau Kerajaan Kotawaringin di masa lampau yang cikal bakalnya dari Kesultanan Banjar. Menurut sejarah yang tercatat bahwa Pangeran Dipati Anta-Kusuma (putra dari Sultan Banjar IV, Mustainbillah) adalah sultan pertama. Ia mendirikan kerajaan Kutaringin pada sekitar tahun 1650 atau 1673 di sebuah wilayah yang kala itu terdapat banyak pohon beringin yang berjejer seperti pagar (kuta=pagar; ringin =pohon beringin). Itulah sebabnya disebut Kutaringin, dan yang saat ini menjadi ibukota kecamatan Kotawaringin Lama di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Istana Kuning ini merupakan istana kedua dari Kesultanan Kutaringin sebelum pindah dari istana sebelumnya, Astana Al Nursari yang berada di kecamatan Kotawaringin Lama (sekitar 46,8 km dari kota Pangkalan Bun), saat Sultan Imannudin menjabat (1811- 1841). Istana ini merupakan kebanggaan sejarah dan budaya kerajaan Islam di Kalimantan Tengah.

Oya, mungkin sebagian dari pembaca saat mendengar kata istana kuning maka konotasinya istana ini serba berwarna kuning, sebagaimana juga istana Maimun di Medan yang didominasi warna kuning. Saya pun dulu pernah mengira seperti itu. Ternyata tidak (walau memang warna kuning itu adalah warna keramat bagi orang Kalimantan dan juga warna kesukaan sultan kala itu). Namun yang tampak kuning di istana ini hanya tulisan di beranda atau gerbang dan di sekitar replika singgasana Kesultanan Kutaringin yang berada di ruang utama (Dalem Kuning).

Istana ini secara arsitektur memang tidak megah, dibangun secara sederhana, dan terbuat dari kayu ulin yang sengaja tidak dicat untuk mempertahankan keaslian dan kealamiannya, meskipun Istana Kuning yang saat ini sebenarnya sudah direnovasi (sejak tahun 2.000). Karena pada tahun 1986, bangunan istana ini pernah terbakar. Hampir semua barang yang ada di dalamnya hangus terbakar; hanya beberapa yang terselamatkan.

Istana Kuning sebelum terbakar.

Memasuki gedung istana ini saya merasakan nuansa santai, sunyi, namun tetap eksotis. Pun sedikit kesan mistis. Di dalam ruangan istana ini sebenarnya tidak terdapat banyak barang. Yang masih terpajang di ruang utama (Dalem Kuning) adalah lukisan para sultan yang berjejer rapi (dari yang pertama hingga yang ke-15). Kemudian replika singgasana dengan motif kuning dan hijau; beberapa barang peninggalan, guci, moncong meriam, gong, foto-foto, dan juga sebuah kereta kencana.

Bangunan Istana kuning ini terdiri dari 4 gedung yang berbentuk serupa rumah panggung, yakni Bangsal (tempat penerimaan tamu kerajaan), Rumbang (tempat raja bersemedi), Dalem Kuning (pusat pemerintahan, dan tempat tinggal raja), dan pedahiran (ruang makan kerajaan). Konon, ini untuk menandakan istri-istri Sultan ke-IX, Pangeran Ratu Sultan Imannudin (1 China, 1 Dayak dan 2 Melayu).

Menurut info yang sempat saya kulik juga dari salah seorang penjaga istana sekaligus keturunan kerabat Kerajaan Kutaringin, Gusti M. Nasar, bahwa dulu, saat Sultan Imannudin memindahkan pusat kerajaan dari Astana Al Nursari ke Istana Kuning ini, konon ceritanya bahwa Sultan berlabuh di sebuah dermaga (pongkalan) milik seorang Mamak (panggilan hormat kepada orang Dayak) yang bernama Bu’un. Dan kemudian menjadikan wilayah Pongkalan Bu’un sebagai ibukota kerajaan. Bertolak dari kisah itulah penamaan Pangkalan Bun diambil.

Dan kala itu (27 Juli 1806) Sultan berikrar: “Kudirikan Negeri Sukabumi Kutaringin Baru Pongkalan Bu’un untuk Anak-anakku, Cucu-cucuku, Keturunanku, dan Orang-orang yang Mau Berdiam di Negeriku dalam Pangkuan Kesultanan Kutaringin”

Kalimat ikrar dan amanah itu juga merupakan bagian dari tulisan kuning pada papan hijau berpigura di dinding kayu balai kehadiran Istana Indrasari Karaton Lawang Kuning Bukit Indra Kencana (Istana Kuning).

Dan untuk masa kejayaan Kesultanan Kutaringin adalah hingga tahun 1948, karena pada tahun itu Pangeran Kasuma Anom II menyatakan bergabung dengan NKRI.

Para sultan sewaktu masih di Astana Al Nursari (Kotawaringin Lama)

Para sultan sewaktu sudah di Istana Kuning (Pangkalan Bun)

Replika Singgasana Kesultanan Kutaringin

Saad Rumadi dan Desfortin

Replika Kereta Kencana

Itulah sedikit informasi tentang Istana Kuning dan kunjungan saya kali itu. Selengkapnya, untuk mengulik lebih jauh tentang Istana Kuning dan sejarah Kesultanan/Kerajaan Kutaringin bisa dibaca di artikel ini, ini, dan ini.

Nah, setelah eksplorasi di dalam dan mengulik informasi secukupnya di sana, saya dan pak Saad pun menuju beranda istana. Di sana terdapat 4 buah meriam yang berjejer rapi dan masih kokoh terjaga. Tentu, sebelum kami berpisah satu sama lain —saya ke Lamandau dan ia kembali ke rumahnya di Pangkalan Bun — kami pun tidak mau melewatkan berfoto di sana. Terima kasih Pak Saad Rumadi telah menemani saya berkunjung ke istana ini.

Dan bagi Anda yang belum pernah berkunjung serta ingin tahu lebih jauh tentang Istana Kuning, silakan mampir saat berada di kota Pangkalan Bun. Saya yakin pihak penjaga Istana Kuning akan dengan senang hati menyambut Anda dan berbagi informasi yang diperlukan.

Dulu, saya pernah bersekolah di kota Pangkalan Bun (SMA). Namun ironisnya, selama 3 tahun saya SMA di sana, saya belum pernah mampir sekalipun ke dalam Istana Kuning ini, paling cuma lewat saja. Baru kali inilah saya bisa berkunjung sampai ke dalam, dan ini adalah kunjungan pertama saya. Semoga ini bukan kunjungan pertama dan terakhir. Saya berharap bisa ke sana lagi di lain waktu dan kesempatan.

Salam,

Desfortin

29 Comments »

  1. Bentuk kereta kencananya unik banget.
    Seluruh bangunan make kayu ya? Jadi semakin terlihat epik ya mas.

    Dari foto yang mas ambil, kelihatannya sih perawatan tempatnya cukup baik, terbukti gak banyak sampah.
    Semoga semakin dirawat ya oleh pemerintah setempat.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wah sekarang sudah dibuka untuk umum, ya… Waktu beberapa kali ke Pangkalan Bun, tempat ini tutup terus. Padahal pingin banget masuk kesana. Tapi kata istri, ga ada apa-apa di dalam karena istananya pernah terbakar dan semua barang didalamnya musnah.
    Oh ya, halamannya sendiri cukup bagus, tertata dan bersih.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Aaaaaaaak keren!! Pengen jalan-jalan ke sanaaaaaa 😭😭 Pasti asik banget. Sembari nambah wawasan soal sejarah kerajaan islam di nusantara, sembari berimajinasi dari nuansa istana yang eksotis dan indah. 😍

    Kalau kebakar itu karena apa ya? Bencana alam atau human eror atau ada perang?

    Btw, cikgu selfie. Cie 😁

    Disukai oleh 1 orang

    • Mamak itu sbnrnya panggilan sprti kpd pman/tante, tp ini tdk brlaku utk smua Dayak. Hnya Dayak yg d skitar sini sj.

      Tp klau seorang Dayak itu msuk Islam mka ia dipanggil Nyaga…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s