Pemakan Sinyal

Sumber Gambar : pixabay.com

Hari sudah gelap. Mentari telah kembali ke peraduannya. Denging nyamuk-nyamuk pun mulai terdengar. Sesekali gigitan-gigitan nakalnya membuatku risih. Tanganku pun bereaksi dengan memukulnya berkali kali dan suara ‘aduh…aduh’ terpaksa keluar dari mulutku.

Sudah 1 jam lebih aku menunggui sinyal ini. Ya, di area wi-fi gratis milik bersama di kampungku ini. Namun nampaknya belum ada tanda-tanda sinyal itu datang. Sebenarnya sinyalnya bukan hilang, sinyalnya ada, tapi pesan yang ingin kukirim lewat WA ini tidak bisa terkirim. Entahlah kenapa. Seolah sinyalnya sirna, enggan untuk bersahabat. Akupun mulai kesal, ada apa sih? Hanya itu gumamku.

Rasanya ponselku tak ada masalah. Memang bukan merek yang canggih sih, tapi juga bukan murahan. Yang jelas, baru kali ini seolah koneksi sinyal wi-fi ini tidak normal sama sekali. Ingin rasanya kumaki. Dasar kep–r–t. Inilah susahnya kalau hidup hanya menumpang sinyal.

Namun aku masih sabar dan setia menunggu. Ya, menunggu dengan duduk di sini. Lalu berdiri lagi. Duduk lagi. Berdiri lagi. Begitulah yang kulakukan berulang-ulang seperti orang yang senewen dan gundah gulana. Menyebalkan sekali. Apalagi nyamuk-nyamuk nampaknya semakin berbahagia karena suguhan darah tersedia di sekitar mereka dengan gratis.

Waktu terus berjalan. Rasanya sudah hampir 3 jam berlalu aku menjadi seperti kambing congek di area wi-fi gratis yang katanya milik bersama ini. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Dan seperti kata Dilan, “Rindu itu berat, kamu tak kan sanggup, biar aku saja.”

Tapi kataku, “Bukan rindu yang berat, Dilan, tapi menunggu. Menunggu itu berat, apalagi untuk sesuatu yang tak pasti. Waiting is a boring thing, kalau gak sabar bisa-bisa sinting.”

Ya, sabar itu memang senjata supaya tidak jadi sinting. Sabar itu juga cara supaya tetap tenang dalam situasi yang sulit. Memang, sabar pun ada batasnya. Apalagi sudah selama ini. Tapi selagi bisa, pilihlah sabar. Karena sabar itu subur.

Karena itu aku tetap sabar. Ini semua karena pesan WhatSApp yang harus aku kirim malam ini juga. Ada pesan yang begitu penting untuk keluargaku nan jauh di kampung seberang sana.

Gigitan-gigitan nyamuk di kulitku kini semakin terasa gatal. Semoga ini bukan Aedes Aegypti, dan semoga juga daya tahan tubuhku kuat. Nyamuk-nyamuk ini memang menyebalkan. Pengin rasanya aku usir mereka ke neraka saja. Tapi aku memang bodoh, harusnya aku membawa racun nyamuk sewaktu berangkat ke sini karena sudah tahu bernyamuk, tapi awalnya aku ingin sebentar saja di sini, andai sinyalnya normal dan pesanku sudah terkirim, maka aku akan segera pulang.

Di malam ini, malam yang sepi, kecuali suara nyamuk dan binatang malam yang kian berdenging dan bersahut-sahutan, aku masih sabar menanti. Semoga ada keajaiban terjadi.

Dan, selang beberapa menit aku terus menunggui koneksi sinyal internet ini, terdengar dari kejauhan sana, ada suara-suara orang yang sedang ngobrol lalu tertawa cekikikan, kedengarannya seperti beberapa anak muda. Entah tengah ada kesenangan apa mereka itu. Justru aku yang sedari tadi menanti di sini, jangankan tertawa senyum pun rasanya berat.

Aku tak tahu persis siapa anak-anak muda itu. Kalau dari suara sepertinya aku bisa tebak, tapi hanya menebak tentu tidak bisa akurat. Karena saat ini memang gelap, kecuali cahaya temaram beberapa lampu jalan yang menyala di sekitar. Tapi yang pasti, dan aku yakin itu, mereka juga sedang berinternetan. Bedanya, mereka kedengarannya begitu riang gembira sementara aku, aku kesal sekali dengan situasi ini. Sinyalnya ada, tapi tak dapat terhubung, sehingga tak satu pun pesan-pesan WA ku ini terkirim.

Aku sebenarnya termasuk awam dalam hal IT. Pengetahuanku tentang aplikasi Android dan dunia internet boleh dibilang sangat parah. Karenanya, aku kerap merasa begitu konyol dan bodoh, bahkan dibodohi.

Sembari aku terus menulis ini, terdengar lagi suara-suara tawa dari anak-anak muda itu. Kali ini bahkan lebih keras lagi. Seolah terdengar seperti meledek, entah meledek siapa. Dengan pikiran dan asumsi negatifku aku lalu merasa tersinggung. Mereka seolah sedang menari-nari di atas penderitaanku. Aku kesal setengah mati. Tapi apa boleh buat, aku tak berdaya, hanya bisa kesal seorang diri, menyerapah pun seorang diri.

Karena aku telah memilih sabar, maka aku tetap diam saja. Dan berkat kesabaranku itu, entah bagaimana persisnya terjadi, selang beberapa detik setelah mereka tertawa itu, dan sepertinya mereka pun akan segera beranjak pergi dari area sinyal ini, tiba-tiba pesan-pesanku yang pending sedari tadi kini bisa terkirim dengan deras laksana dirus hujan, disambung dengan beberapa bunyi notifikasi beberapa akun medsosku yang lain.

Puji Tuhan, koneksi pun kembali normal. Dan orang-orang itu kini tengah beranjak pergi. Sembari pergi, salah seorang dari mereka — dengan bahasa lokal tentunya — kira-kira berkata seperti ini, “Labuh tam hunitn, lanjut tam ba wi-fi an nan, kami jadiam. Kami nak pulakam, ha ha ha ….” (Artinya: yang mau lanjut silakan, lanjutkan main wi-fi sepuasnya, kami sudah selesai. Kami mau pulang nich, ha ha ha…..).

Ada apa tadi itu sebenarnya? Begitu tanyaku dalam batin. Apa ini ada hubungannya dengan anak-anak muda tadi? Apa hubungannya? Siapa mereka itu? Dan apa yang telah mereka lakukan sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu membuncah di kepalaku.

Dengan rasa penasaran bercampur kesal aku lalu mencoba menghubungi seorang temanku di kota lain dan bertanya padanya tentang hal ini. Temanku itu cukup paham tentang wi-fi dan jaringan internet. Menurutnya, mungkin saja hal itu terjadi karena ada pengguna lain yang memakai aplikasi khusus untuk ‘mencuri’ sinyal.

Dengan aplikasi itu, pengguna bisa seolah menyedot sinyal, sehingga pengguna lain yang tidak memakainya tidak berdaya, bahkan koneksinya bisa diblok/diputus oleh pengguna aplikasi itu. OMG! Kalau begitu adanya berarti aku telah dibodohi dan menjadi salah satu korban pada malam ini.

Apa nama aplikasi itu? Sebenarnya aku tak suka menyebut namanya, tapi demi tulisan ini dan demi pengetahuan maka kusebut. Aplikasi itu bernama netcut. Sebenarnya aplikasi ini bisa dimengerti jika berada di pihak yang tepat, admin misalnya. Tapi akan kacau jika berada di tangan orang yang “jahil”. Ya, begitu yang aku tahu berdasarkan jawaban dari temanku itu. Kalaupun ada aplikasi lain yang sejenis aku tidak tahu.

Lalu, apakah anak-anak muda yang tertawa gembira di dalam kegelapan tadi itu memang menggunakan aplikasi tersebut? Atau, ada pengguna lain sebagai pelakunya? Entahlah. Mungkin iya, mungkin tidak. Yang pasti, bagiku, mereka yang tidak adil atau lebih tepatnya curang dalam menggunakan fasilitas bersama, seperti wi-fi gratis ini, aku menyebut mereka orang-orang egois, para begundal, para pemakan sinyal.


Catatan:

~ Ini bukan cerita fiksi, tapi true story, mungkin bisa juga disebut curhat ala fiksi.πŸ˜€

~ Kalau pembaca ada tanggapan, atau ada cara jitu untuk menghadapi / menangkal pengguna internet yang curang seperti kisah (curhat) di atas, tolong dibagikan ya di kolom komentar.

Terima kasih sudah membaca.

Salam,

Desfortin

37 Comments »

  1. Keren mas penyajiannya, berasa kayak baca cerpen atau novel..

    Wah saya jarang make wifi bersama gitu mas, karena jaringan seluler disini lumayan bagus, jadi urusan internet saya masih mengandalkan sinyal dari ponsel.

    Btw, kalau ada aplikasi seperti itu, mungkin ada juga cara buat ngakalin, tapi saya juga kurang paham. Heeee

    Disukai oleh 2 orang

  2. Mantap mas..
    Pemuda itu sama dengan nyamuk dan binatang lainya pada saat itu(hehe menurutku sih)
    Pemuda itu menggigit dan berdenging seperti binatang tadi.

    Ambil positifnya aja mas, bahwa anda mendapat pengetahuan dan pengalaman baru tentang wifi😁

    Kalau teman saya pernah pakai apk WiFi Block fungsinya sama seperti itu & WiFi MAPS untuk menampilkan Password wifi yang terkunci πŸ™

    Disukai oleh 2 orang

    • O gitu ya? Sy sih klau ada itu aplikasi yg utk menangkalnya. Klau sy ikutan pakai sejenis net cut jg berarti sy egois sprti para pmuda itu jg…πŸ˜€πŸ˜‚

      Tp Mksh atas responnya ya.

      Suka

  3. sering banget mas dulu waktu jaman masih suka wifi di kampus, kalo lagi rame dan wifi lemot gak kaya biasa, pasti mata langsung menjelajah wajah manusia-manusia di sekitar, mencari siapa biang keroknya, solusinya waktu itu cuma satu, pindah ke wifi deket pos security yg hanya org tertentu yg bisa ke sana, yg harus kenal sama satpamnya haha

    Disukai oleh 2 orang

    • Intinya mereka itu egois mbak. Pngen dpt sinyal sendiri. Kan klau pakai net cut itu, dianya jd gak lemot sinyalnya.πŸ˜‚πŸ˜‚

      Ya, tega benar org2 yg mndahulukan kpntingan diri sendiri itu, mbak..

      Disukai oleh 1 orang

  4. Saya pernah dengar itu,tp baru tahu nama aplikasinya setelah mas Desfortin tuliskan.
    Di sekolahku dulu sering tjd, sinyal lemah banget, ada yg bilang katanya ada anak2 (siswa) yang tahu cara mencuri sinyal, tapi saya tak mencari tahu, karena wkt itu sy sering pakai pls data jadi tak ambil pusing. he he he
    Tp sekarang sdh lancar sinyalnya,mungkin anak yg “nakal” itu sdh lulus lgpl paswordnya sring diganti

    Disukai oleh 2 orang

    • Prnh nglami jg ternyata ya.

      Syikurlah klau udah lncar wi-fi di tmpat Anda itu skrg. Klau di sini, blm bgtu lncar mbak. Bhkan cenderung makin limit, slain mmang bnyak pengguna, jg krn yg pakai netcut itu bnyak skrg, dari anak kecil ampe yg udah dewasa.

      Sedih saya.πŸ˜…

      Wi

      Disukai oleh 1 orang

  5. Salam dari Palangka Raya Pa Desfortin yang rajin menulis,
    sudah menjadi jurnalis sosial itu lebih baik karena dapat menyampaikan pengamatan apa adanya
    tetap menulis dan berkreasi Pa, sampai bisa bergabung dengan kami di kota Kabupaten yang tidak terkendala dengan sinyal …
    Milikilah sahamnya agar tidak ada dimakan pulsanya …

    Salam Narablog

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s