Ada Cinta di Pondok Abah (Bagian 2)

Sumber Gambar: slideshare.net

Untuk membaca kisah sebelumnya (Bagian 1), klik DISINI.


Malam itu, mungkin sekitar pukul 22.30, suasana di Pondok Abah sudah mulai hening. Sebagian penghuni telah terlelap. Ada juga beberapa yang masih mengotak-atik gawainya. Aku sendiri masih berleyeh-leyeh sembari asyik dengan ponsel pintarku.

Saking asyiknya dengan ponsel, hingga tak kusadari ada seseorang yang masuk. Maklum, ruangan para pasien di Pondok Abah itu seperti bangsal terbuka, jadi pintunya tidak dikunci dengan rapat, siapa saja bisa keluar-masuk dengan mudah. Untungnya, keamanan masih selalu aman terkendali.

Ternyata seseorang itu adalah Arie. Ya, ia adalah Arie Kunthung. Pria tampan dan ramah yang pernah berobat di Pondok Abah itu. Ia kembali lagi setelah 4 hari dari tempat kerjanya. Menurut pengakuannya, si Bos di tempatnya kerja itu memintanya untuk terapi lanjutan.

“Hai, bang. Apa kabar? Ketemu lagi kita, bang.” Dengan wajah ceria Arie menyapaku sembari kami saling berjabat tangan. Aku tidak kaget kalau ia akan datang lagi hari itu, karena kemarinnya ia telah memberitahuku melalui WA bahwa ia akan ke Pondok Abah lagi.

“Mas Arie. Kok datangnya malam-malam? Sejak siang kami nungguin lho, mas. Apalagi si itu, he he …” kataku dengan nada bercanda dan sedikit mengarang sembari jari telunjukku menunjuk pada Dewi yang telah tidur pulas, tak jauh dari posisi kami.

“Iya, bang. Tadi kami baru berangkat dari base camp sudah pukul 07.00 malam. Dan si Bos pengin aku terapi lanjutan, biar pulih total katanya,” kata Arie menjelaskan.

“Terapi di sini lagi?” tanyaku singkat.

“Tidak, bang. Malam ini pun kami harus lanjut perjalanan ke Pangkalan Bun. Tapi ceritanya aku mau mampir dulu ke sini, bang. Sopirnya masih menunggu di luar,” begitu jawab Arie.

Aku hanya mengangguk.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ia akan terapi lanjutan di sebuah Rumah Sakit swasta di kota MANIS Pangkalan Bun. Si Bosnya pengin dia benar-benar sembuh total. Wajar sih, aku pun berasumsi bahwa kinerja besar, gaji pun besar. Tentu perusahaan akan merugi kalau Arie digaji besar sebagai koki sementara kinerjanya tidak seimbang, bila ia tidak sehat total.

Obrolan aku dan Arie mungkin berlangsung selama kurang lebih 5 menit. Ayahku yang juga telah tidur tak jauh dariku tampaknya tidak mendengar obrolan kami.

Sementara Dewi, yang sudah tidur sedari tadi juga tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Tampaknya ia telah jauh berlayar ke pulau kapuk. Untungnya, dengkur tak bersamanya kala tidur. Jadi, tidur manis tetap menjadi miliknya. Beda dengan aku, yang setiap malam bagai pesawat terbang yang sedang mengudara, ha ha ha …

Melihat Dewi yang tak bangun-bangun, sepertinya gelagat Arie mulai lain. Tingkah usilnya muncul. Aku maklum, mengingat Arie hanya mampir sebentar di Pondok Abah itu, karena ia harus lanjut perjalanan malam itu juga. Adalah rugi kalau ia mampir tapi Dewi tak tahu.

Akhirnya tidur Dewi pun terpaksa harus terganggu. Dengan tingkah usilnya, pipi Dewi yang indah itupun dicubitnya nakal. Sontak saja Dewi pun kaget dan terbangun. Tapi karena kemudian ia tahu bahwa itu Arie, ia tak marah. Yang ditunggu-tunggu datang sih, he he …

“Eh, kamu. Baru datang ya?” sapa Dewi kepada Arie sembari ia bangun dari posisi tidurnya.

Arie hanya tersenyum. Lalu meminta maaf karena telah membuat Dewi terjaga di malam yang telah larut itu.

Entah apa percakapan mereka kemudian, aku tidak jelas. Maksudku, aku tidak mau kepo. Aku biarkan mereka saja. Aku pun kembali asyik dengan ponselku malam itu. Perhatianku teralihkan oleh beberapa medsosku, blog wordpress, dan grup WA yang kuikuti. Jadi aku tidak lagi begitu memperhatikan mereka. Hanya sesekali aku melirik, dan terlihat mereka sedang terlibat obrolan asyik, entah apa itu. Yang jelas seperti ada candaan-candaan mesra di antara mereka. Itulah young people zaman now. Emang young people zaman old, beda ya? Ah, forget it.

Malam semakin larut. Entah jam berapa saat itu, sebelum akhirnya Arie pamit padaku. Sepertinya sudah sangat larut malam. Aku pun tak fokus lagi, mataku sudah mulai mengantuk.

“Bang, aku pamit ya bang. Besok pagi, aku harus terapi soalnya. Jadi malam ini harus sampai,” sambil bersalaman kembali, Arie pamit padaku dan Dewi.

“Ok, Mas Arie. Hati-hati ya! Semoga terapinya sukses, dan Mas Arie juga bisa sembuh sesuai harapan,” itulah kata-kata harapku pada Arie yang disambutnya dengan ‘amin’ dan ‘terima kasih’.


Keesokan harinya, seingatku sore hari, menurut kabar dari WA Arie, ia telah diterapi di RS tersebut. Ia bercerita bagaimana proses terapi yang dilaluinya yang begitu sakit itu. Entah bagaimana dan sesakit apa, aku pun sulit membayangkannya.

Aku pun kembali menjalani hari-hariku di Pondok Abah itu seperti biasanya, mengurus ayahku yang sedang sakit dan diterapi. Selama berhari-hari di sana, tentu itu adalah sebuah pengalaman yang akan selalu kukenang dalam hidupku; ayah pernah mengalami sakit itu.

Tak banyak aktivitas yang kulakukan di sana. Pada jam-jam makan, aku melayani ayah untuk makan. Setiap hari menunya hanya sayur bening dan nasi putih tok. Selebihnya mencuci pakaian, membantu ayah ke toilet, membantu ayah minum obat, membeli air minum, dan mandi tentunya.

Siang berganti malam, malam berganti siang. Begitulah aktivitas utamaku selama di Pondok Abah kurang lebih 8 hari itu hingga akhirnya ayah dibolehkan pulang pada beberapa hari lalu.

Sejak saat itu, aku tidak tahu lagi tentang Arie dan Dewi. Hanya kabar sesekali melalui media sosial atau chat pribadi lewat aplikasi WhatSApp.

Dan kemarin, pada saat aku sudah di rumah, Arie memberi kabar melalui WA-nya bahwa terapinya berhasil dan tangan kirinya sudah bisa digerakkan seperti semula. Puji Tuhan. Senang sekali aku mendengarnya.

Bersamaan kabar gembira tersebut, Arie pun memberitahuku bahwa ia telah jujur pada Dewi.

Jujur? Jujur bagaimana maksudnya? Kamu sudah nembak Dewi, gitu? Aku membatin.

Ternyata, Arie jujur tentang perasaannya pada Dewi. Ya, perasaannya yang belum ia ungkap selama ini. Mungkin itu tak mudah baginya, mengingat status TTM mereka selama ini.

Lewat pesan WA-nya itu, Arie menuturkan curhatnya padaku, kira-kira begini.

“Aku mau jujur sama kamu, Wi.” kata Arie pada Dewi.

“Iya, ngomong aj, mas,” ucap Dewi dengan rasa sedikit deg deg an juga. Sepertinya ia berharap akan hal itu, dan ia siap andai Arie mengungkapkannya dengan jujur.

“Jujur, aku merasa nyaman sekali sama kamu, Wi. Aku senang sekali mengenalmu. Kamu juga cantik dan baik. Tipe aku banget,” Arie menyampaikan kejujurannya.

Mendengar itu, Dewi tersipu malu bercampur suka. Karena ia pun merasakan hal yang sama, ia naksir dengan Arie.

“Namun, …., ” kata Arie melanjutkan. Baru kata itu yang terucap. Dan kata ‘namun’ membuat rasa nyaman Dewi sedikit terganggu.

“Namun apa, Mas Arie?” sela Dewi penasaran.

“Maafkan aku ya, Wi. Tapi aku harus jujur,” lanjut Arie lagi.

“Ngomong aj, mas,” Dewi seolah tegar, namun aku yakin ada secercah kecewa di lubuk hatinya. Jika boleh, ia tak suka kata ‘namun’ dari Arie itu.

“Aku bukan pria baik-baik, Wi. Masa laluku sangat kelam. Aku tak pantas untukmu. Aku tak seperti dugaanmu. Lagian, aku sudah punya cewek lain, Wi. Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi, gimana dong ya. Masa aku mengkhianati pacar aku. Gak mungkinkan aku punya 2 kekasih sekaligus? Maafkan aku, Wi,” begitu kata Arie menjelaskan semuanya pada Dewi. Aku pun sedikit tak menyangka. Itu artinya, selama ini Arie coba-coba cari hiburan lain – atau apalah namanya itu – karena jauh dari sang pacarnya itu.

Wah, kalau pacarnya itu tahu dengan ulah Arie, yang terkesan playboy itu, apa jadinya ya? Aku bergumam dalam hati.

Mendengar itu semua, sekali lagi, aku yakin Dewi kecewa, harapannya pupus. Sekalipun menurut curhat Arie padaku kemarin itu sebenarnya Dewi sudah menduga kalau Arie sudah ada yang lain. Entah itu benar atau tidak, aku tidak tahu pasti. Asumsiku, rasa kecewa itu mustahil nihil.

Begitulah kisah Arie dan Dewi yang sempat kutuliskan. Semua bermula di Pondok Abah. Pondok yang menampung banyak jeritan dan derita dari mereka yang ingin sembuh. Ternyata di tengah derita para pasien di pondok itu, ada saja kisah yang dapat dituturkan, selain kisah receh tentang kura-kura dan ikan gabus itu, juga kisah Arie dan Dewi ini.

Mungkin friendzone Arie dan Dewi akan berakhir atau tetap, aku tidak tahu. Kabar terbaru yang kuterima, bahwa malam Minggu kemarin itu, Arie dan Dewi ketemu lagi di sebuah tempat di kota Pangkalan Bun. Entah dalam rangka apa. Perpisahan terakhir, malam mingguan, atau ada urusan lain? Entahlah.

Dari cerita ini, meskipun sepertinya berakhir dengan tidak indah, Dewi yang terkesan diPHP-in oleh Arie, atau Dewi yang mungkin gampang jatuh cinta pada pria, mungkin pembaca bisa menilai, Arie dan Dewi itu tipikal pria dan wanita seperti apa.

Aku berharap agar Arie dan Dewi bisa mengambil keputusan terbaik demi kebahagiaan dan demi masa depan mereka. Namun, aku tetap berkeyakinan, selama janur kuning belum melambai, selama hasrat belum sirna, selama cinta masih bermakna, hati terdalam manusia siapa yang tahu. Segala kemungkinan itu mungkin, dan kalau jodoh tak akan kemana. Setuju?

Selesai

Kinipan, 19/03/2018

Salam,

Desfortin


Catatan di balik layar:

~ Kisah ini adalah berdasarkan cerita nyata (bukan fiksi).

~ Kecuali beberapa dialog di bagian akhir memang adalah imajinasi penulis (berdasarkan curhat Arie).

33 Comments »

  1. Duh ….kasihan Dewi, menurutku sdh di PHP in oleh Ari, kalau sdh punya cewek lain, ngapain malam2 saat singgah Dewi dibangunin. Hmm ….tapi mungkin banyak ya cowok seperti Ari, meskipun sdh punya cewek atau bahkan istri, bisa saja kalau ada yg bening di luardan ada kesmpatan mengatakan “aku merasa nyaman sama kamu” he he
    Tp untuk kasus Ari betul jg yang mas Des bilang, sepanjang belum ada janur kuning berbagai kemungkinan masih bisa terjadi

    Disukai oleh 1 orang

  2. Akhirnya dilanjut juga, Mas. Tapi sayang ya, sad ending. Dan fiks, saya nggak suka banget sama sikapnya Mas Arie. Pantes aja dia ragu dan nggak segera bilang tentang kejelasan hubungan mereka ke Mbak Dewi.
    Yah, tapi sudah terjadi. Semoga aja Mbak Dewi bisa cepet move on.

    Disukai oleh 1 orang

    • Kbarnya terbaru, mreka mlah jdian mas, jd klimat terakhir dari 2 tulisan ttg kisah ini blm terpatahkan kyaknya, πŸ˜€

      Ya, ini bkn fiksi…d bgian akhir (catatan di balik layar) ada kok sy ksh note, hee…

      Puji Tuhan, ayahku sdah bs beraktivitas lg, tp blm bs yg berat2 sih, bs 1 tahunan mungkin bru pulih total.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Baca ginian bikin baper sendiri. Hahaha.
    Tapi bener sih, selama janur kuning belum melambai, siapa pun masih milik bersama #eh. Hahaha.
    Semoga aja balikan lagi deh πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

  4. Jadi dapat bahan tambahan setelah baca ini. Perasaan emang suka bolak balik. Tapi menurutku, kalo emang suka Dewi yang perjuangan. Harus siap melepas. Tapi, ya, mau gimana lagi, cowok tampan mah jarang yang jomblo. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ˜Œ

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s