Ada Cinta di Pondok Abah (Bagian 1)

Sumber Gambar: slideshare.net

“Hari ini, aku harus balik ke tempat kerja. Semoga kita ketemu lagi ya,” kata Arie kepada Dewi, beberapa jam sebelum kepergiannya itu. Dewi tak banyak bicara, hanya diam sembari menyeka air matanya yang pelan namun pasti menetes ke pipi indahnya itu.

Aku, yang duduk tak jauh dari mereka, menyaksikan hal itu merasa ikut terharu. Entah sejauh apa batinnya berkecamuk, tapi yang pasti ada seraut wajah sayu yang tampak, seolah ia tak rela melepas kepergian Arie.

Arie adalah salah satu pasien di Pondok Abah ini. Ya, Pondok Abah, begitu kami biasa menyebutnya. Ini adalah sebuah klinik pengobatan alternatif yang sangat terkenal di sini, khusus menangani pasien yang patah tulang atau luka-luka.

Arie, sebulan yang lalu mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor. Kaki kirinya lecet, sebagian wajahnya memar. Lengan kirinya patah, itu yang cukup parah. Karena itu, ia pun berobat di Pondok Abah ini, sama seperti aku juga.

Aku? Bukan, bukan aku yang sakit sebenarnya. Tapi ayahku. Aku di sini sedang mendampingi ayahku yang sedang sakit dan dirawat di sini. Ayahku juga mengalami patah tulang karena kecelakaan sepeda motor beberapa waktu lalu. Aku sudah empat hari di Pondok Abah ini mengurusnya bersama adikku. Aku juga berharap agar ayahku segera pulih dan bisa cepat pulang. Menurut Abah, seminggu lagi ayahku sudah bisa diijinkan pulang. Syukurlah.

Selama 4 hari inilah aku berkenalan dengan Arie dan Dewi, makanya aku tahu sedikit kisah mereka. Oya, Dewi di sini juga mendampingi kakaknya yang juga sedang mengurus anaknya berobat di sini, dengan sakit yang hampir mirip, kaki kanan anak tersebut patah akibat ditabrak sepeda motor, begitu katanya.

Arie dan Dewi sama-sama single. Mereka sebenarnya juga ketemu dan berkenalan baru di Pondok Abah ini. Yang menariknya, sepertinya dalam kebersamaan selama beberapa waktu ini, jauh sebelum kedatangan kami, mereka sepertinya menaruh simpati pada masing-masing, khususnya Dewi.

Aku, bahkan pada awalnya menyangka, bahwa mereka itu pasangan yang sedang pacaran. Tapi kemudian aku tahu, mereka tidak pacaran, hanya TTM (Teman Tapi Mesra), ha ha …

“Gak tahu juga ya, aku dan Dewi itu dekat banget. Kami sering curhat,” kata Arie suatu ketika padaku, saat kami pergi menuju tempat pemandian umum di sekitar Pondok Abah ini.

“Padahal, aku gak ada bilang cinta atau nembak dia lho, bang. Tapi kesannya kami itu begitulah. Banyak juga yang beranggapan kami pacaran,” lanjut Arie sembari kami menuju tempat pemandian itu, di suatu sore yang sejuk.

“Saya juga sempat beranggapan begitu, Mas Arie,” begitu kataku. Aku tak banyak komentar. Hanya anggukan-anggukan ringan, kadang tertawa, dan kata ya … ya… ya …, itu saja yang terucap. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Aku senang melihat Arie bercerita dengan lepas, apa adanya.

Arie, menurutku, laki-laki yang baik. Ia ramah dan selalu ceria, sekalipun ia mengalami sakitnya itu. Bukan karena ia sekarang sudah mulai pulih, maka ia begitu, ya, aku yakin itu. Wajar jika orang sepertinya mudah punya teman. Sifat bawaannya memang ramah dan supel. Aku senang berkawan dengan orang yang punya kepribadian seperti itu. *Jika engkau kebetulan membaca tulisan ini, Arie, sekali lagi, terima kasih karena bisa berkenalan denganmu. Terima kasih juga atas pertemanan ini. Nice to meet you.

Aku juga bisa mengerti jika Dewi kemudian merasa nyaman ataupun menaruh simpati pada Arie. Karena Arie, selain tampan, ia juga memang baik, tipikal lelaki yang perhatian dan bertanggung jawab.

Oya, selain itu, Arie juga punya skill menarik, ia jago masak. Dan memang, ia punya pengalaman kerja sebagai koki resto di Jakarta. Sekarang pun ia masih sebagai koki, tapi di pulau Borneo. Ia bekerja sebagai koki pada salah satu perusahaaan tambang di Kabupaten Lamandau, kabupaten dan tanah kelahiranku. Beberapa kali ia pernah menunjukkan foto-fotonya di tempat kerja lewat ponsel pintarnya. Ia juga banyak bercerita tentang dunianya itu.

Luar biasa, sekalipun lengan kirinya kini tidak senormal dulu, tapi ia masih diperlukan oleh si Bos di tempat kerjanya. Bahkan pembiayaan selama ia berobat di Pondok Abah ini ditanggung perusahaan.

Namun hari ini, Arie akan kembali ke tempat kerjanya. Menurut Abah, ia sudah bisa pulang. Siang ini ia akan dijemput oleh utusan dari perusahaannya. *Sampai ketemu lagi, mas Arie. Sukses menyertaimu.

Lalu, bagaimana dengan Dewi? Dengan nada bercanda aku berkata pada Dewi, “Kamu gak ikut sama Arie, Wi?” Dewi hanya tertawa saja mendengar kelakarku itu. Untuk saat ini mustahil Dewi bisa ikut dengan Arie, selain belum dihalalin, juga karena status mereka yang masih TTM. Tapi entahlah di masa depan, selama masih single, selalu ada kemungkinan. Kalau jodoh pasti tidak akan kemana. Ha ha ha …

Runtu, 09/03/2018

Salam,

Desfortin

42 Comments »

    • Haha…sy jd bingung jg, ada kbar si Arie bsok mau balik k sini lg, katanya disuruh bosnya terapi lanjutan lg..wah ceritanya sy pun jd penasaran gmn slnjutnya, πŸ˜€πŸ˜€

      Suka

  1. Penasaran sama kelanjutan cerita tentang mereka, Mas Desfortin. Kalau baca dari tulisan ini sih, Mbak Dewi pasti nunggu Mas Arie nembak atau nglamar. Hmm, sepertinnya Mas Arie harus lebih peka πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

    • Ya, sy juga penasaran. Aplgi klau kabarnya hr ini Arie mau balik lg ke Pondok Abah lg, pdhal blm seminggu lho dia balik k tempat kerjanya, si bos kyaknya minta dia ampe pulih total, krn tangan kirinya itu waktu dia balik itu memang blm bs digerakkan sprti semula, entahlah, sy jg ragu klau tangannya bs pulih total.

      Iya, kyaknya bgtu. Sy liat sih si Arie bkannya gak peka, tp msh ragu atau blm siap sja utk memilih Dewi, mungkin ada pertimbangan lain, lgian ini jg memang di rantau org kok, dlm keadaan sakit fisik pulak.

      Disukai oleh 1 orang

      • Kalau tangannya nggak bisa pulih total, bisa berpengaruh sama kerjaannya berarti. Wah, terus gimana itu?
        Hmm, berarti mereka bakal ketemu lagi ya, Mas? Semoga dengan pertemuan mereka kali ini bisa meyakinkan Mas Arie tentang keputusannya untuk tetap di tahap friendzone atau hubungan yang lebih serius lagi πŸ˜€

        Disukai oleh 1 orang

        • Td mlm Arie dtng lg dan si Dewi terbangun, haha…tp kyaknya ttp btah mereka dg TTM aja..

          Tp td mlm jg ia lnjut prjlnan lg, trnyta mau terapi k RS, bkn k Pondok Abah ini, krn si bos emang pngen kayaknya dia pulih total, sehingga krja bs total dan gaji pun total, mungkin bgtu.πŸ˜€ Skrg dia jd koki dg mengandalkan tngan kanan, sehingga klau yg berat2 ttp hrus dibantu org lain.

          Td sy dpat kbar lwat WA klau si Arie, tulangnya itu, setelah di rontgen di RS, katanya ada yg retak, πŸ˜‡πŸ˜…

          Disukai oleh 1 orang

  2. Balik lagi diauruh bosnya, Siapa tahu mas arie
    Mau pindah kerjaan jadi koki-nya mba dewi. Hehe

    Ditunggu kelanjutannya mas desfortinπŸ–οΈ

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ohh …. jadi cerita ada cinta di pondok abah yang lalu itu nyata to mas? sy kira fiksi
    Jadi “aku” di situ mas Desfortin? Jika iya, gmn kondisi ayahnda? Apa sdh semakin membaik patah tulangnya? Semoga sdh ya …Aamiin

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s