Menyoal Uang Kembalian

Sumber Gambar: bali.tribunnews.com

Kemarin saya belanja di sebuah toko. Lebih tepatnya toko sembako. Tokonya cukup besar dan lengkap, bisa dikatakan semi swalayan. Bukan baru sekali saya belanja di toko tersebut. Ini sudah yang ke sekian kalinya, dan beberapa di antaranya saya mengalami hal yang hampir sama; soal uang kembalian.

Kemarin itu, saat saya akan menerima uang kembalian (angsulan), jumlah nominal yang mesti saya terima adalah Rp31.000,00, tapi yang kemudian saya terima saat itu adalah uang tunai senilai Rp30.000,00. Untuk uang seribunya saya hanya diberi sebuah kue. Jadi, angsulan yang saya terima adalah uang Rp30 ribu + sebuah kue.

Itu dia. Itu yang ingin saya bagikan saat ini. Pengalaman seperti ini sebenarnya juga pernah saya alami beberapa kali di beberapa toko lain, pernah saya menerima kembalian berupa permen atau wafer. Dan yang cukup sering itu adalah permen. Saya yakin, beberapa dari pembaca juga pernah mengalami hal serupa. Betul?

Kebiasaan penjual atau sebagian toko yang memberi uang kembalian berupa barang (kue, permen dll), itu yang membuat saya kurang setuju dan kadang kesal. Kalau saya tidak terima angsulan berupa barang tersebut, tentu saya merasa rugi. Tapi saya terima pun kadang saya tidak ikhlas, karena saya memang tidak sedang perlu barang tersebut. Mau protes, saya orangnya gak enakan. Saya juga tidak mau ada masalah atau konflik. Akhirnya hanya bisa mengomel lewat tulisan ini saja. πŸ˜‚

Dalam benak saya sering bertanya, kenapa si penjual tidak nanya dulu, apakah pembeli setuju atau tidak. Bukan apa sih, tapi kebiasaan tersebut kurang beretika. Bahkan terkesan pemaksaan, seolah hanya penjual saja yang mau dimengerti. Berapa pun jumlah uang sisanya, mestinya harus dikembalikan dengan uang juga, tidak dengan barang lain.

Memang, sebagian penjual ada juga yang beralasan tidak ada uang receh. Tapi bagi saya, itu tetap bukan menjadi alasan untuk pembenaran. Penjual atau pedagang sudah seharusnya menyiapkan uang receh atau uang kembalian yang sesuai.

Dan menurut saya, cara-cara seperti itu membuktikan bahwa pihak penjual tidak memahami pelanggan atau konsumen. Kita tahu bahwa pembeli adalah raja, jadi perannya sangat penting. Dan tentu itu juga bukti bahwa penjual tidak sepenuhnya mengerti tentang marketing. Maunya menang sendiri. Padahal, dagang itu masalah marketing, dan marketing itu selalu tentang pelayanan yang baik kepada pelanggan.

Hal ini nampaknya sepele. Tapi jika dibiarkan, saya pikir ini bisa merugikan salah satu pihak. Dan kalau kita ingin mengacu pada undang-undang perlindungan konsumen, tentu hal tersebut adalah sebuah pelanggaran.

Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (pada pasal 15) mengatakan bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen.

Bahkan pelanggaran terhadap pasal ini bisa berujung pidana. Tidak tanggung-tanggung, pelanggar bisa dipidana 5 tahun penjara atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Memang, penerapan pasal ini tidak serta-merta mutlak bisa diterapkan dalam kasus seperti yang saya alami di atas, karena unsur “menawarkan barang/kue/permen” di sini tidak terjadi. Maksudnya, karena pengembalian kue atau permen diberikan begitu saja oleh penjual tanpa bermaksud β€œmenawarkan”. Namun yang jelas bahwa tindakan memberi angsulan dengan barang, bukan dengan uang, itu tidak sesuai dengan kewajiban penjual terhadap pembeli, secara psikis pembeli bisa merasa terganggu.

Apalagi kalau kita merujuk lebih jauh pada peraturan lainnya, dalam hal ini Undang-Undang nomor 23 Tahun 1999, yang kemudian direvisi dalam Perppu nomor 2 tahun 2008 atas undang-undang tersebut.

Berdasarkan peraturan tersebut, bahwa semua transaksi yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia harus menggunakan rupiah, sekecil apa pun transaksinya (Pasal 2). Pelanggaran terhadap peraturan ini bisa diancam dengan pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 3 (tiga) bulan, serta denda sekurang-kurangnya Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp. 6.000.000,00 (enam juta rupiah).

Tentu saja ancaman tersebut berlaku jika pembeli atau konsumen keberatan dan melaporkannya kepada pihak terkait (ke YLKI, ke Disperindagsar, atau ke kepolisian). Jika tidak ada keberatan, maka tidak ada masalah.

Namun yang jelas, bahwa cara pengembalian uang kembalian seperti yang saya alami di atas jelas tidak bisa dibenarkan. Dan undang-undang yang ada itu mestinya menjadi rambu-rambu bersama. Untunglah selama ini belum ada pembeli atau konsumen yang sampai memidanakannya atau melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait.

Karena itu, sudah seharusnya para pedagang atau pelaku usaha memperhatikan hal tersebut, agar tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan. Pembeli merasa puas atas layanan penjual dan penjual pun bisa untung secara elegan. Karena penjual tanpa pembeli apalah artinya, begitu pun sebaliknya, pembeli tanpa penjual maka mustahil ada transaksi. Jika tidak ada transaksi mustahil ekonomi terjadi.

Nah, jika Anda mengalami hal yang seperti saya alami di atas, apa yang mungkin Anda lakukan? Diam saja, protes, mengadu ke pihak terkait, atau dongkolnya ditahan sendiri? Atau, ada pendapat lain? Bagikan di kolom komentar.

Salam,

Desfortin

70 Comments »

  1. Di minimart franchise ternama awalnya juga seperti itu, saat ini udah ga ada lagi. Setiap uang kembalian ttp diberikan uang recehan.
    Kalau menurut pemifikiran saya, mereka mencoba mendapatkan keuntungan lebih dari praktek2 seperti itu. Sungguh kurang tepat! Harus ditindak tegas dengan aturan-aturan yg tepat agar konsumen tidak dirugikan. πŸ‘ŒπŸ‘

    Disukai oleh 2 orang

  2. Kalo aku pasti komplain bang. Karna kalau uang kita kurang dan cuma punya permen aja, mereka kan gak mau terima dilengkapi dengan permen atau kue kekurangannya.
    Jadi aku nolak banget, kalo perlu biar aku sediakan uang penggenap. Biar gak kebiasaan.

    Dulu sih segan, tp lama-lama enek juga. Mana yg ditawarin gak enak lagi.

    Beberapa waktu yg lalu, kasus kayak gini pernah viral di market yg pake maret-maret, efeknya sekarang mereka nyiapin uang receh. Bahkan ke pecahan Rp.100.
    Walaupun pecahan kayak gitu kadang susah belanjainnya lagi, dan sering hilang.

    Disukai oleh 2 orang

  3. Dulu sering banget dapet permen trus lama-klmaan prakteknya diganti ama donasi, awalnya aku malah seneng tp kok lama-lama curiga juga hahha πŸ˜… mulainya curiga gara-gara temen kembalianya 600 gtu (cukup gede nominalnya) dan kasirnya bilang “kembalian d donasikan ya”, temenku tiba-tiba tanya “boleh, tapi didonasikan kemana ya?” Eh bukanya di jawab malah kmblian tmnku dikasihkan, kenapa ga dari awal aja pikirku πŸ˜…πŸ˜…

    Disukai oleh 2 orang

  4. Di indomaret saya pernah uangnya kurang berapa ratus rupiah gitu terus mbanya bilang gpp bawa aja πŸ˜… not only once.

    Kalau angsulannya jadi permen atau apa asal saya suka gpp. Cuma kalau seseringan besok2 bawa uang pas dah. Tapi setuju si

    Disukai oleh 2 orang

  5. Pernah beberapa kali mengalami hal serupa, Kak. Tapi saya orang yang memang ceplas-ceplos dengan lugunya. Setiap kali saya diberi kembalian dalam bentuk barang yg tidak ada niatan mau saya beli, saya akan langsung bertanya pada si pembeli. Kadang saya memang agak keras klo soal uang kembalian, maklum uang meskipun hanya 500 perak pun sangat berharga saat ini.
    Tpi, kadang tergantung penjualnya juga. Kadang kalau saja membeli sesuatu di warung keluarga, hal seperti ini banyak kali terjadi. Kadang saja bawa guyon aja, Kak. Sambil pasang gaya memelas 🀣🀣

    Disukai oleh 2 orang

  6. Saya sendiri sebagai kasir toko memang saya akui sering memprakterkan hal tersebut, tapi kondisinya karena sedang tidak ada uang receh, dan sebelum memberikan sisa kembalian dengan barang, biasanya selalu saya nawarin konsumen mau atau tidak, kalau tidak mau biasanya mereka lebih memilih menitipkannya disini untuk belanja di lain waktu.

    Sebenarnya gak enak juga sih mas ngasih kembalian bukan dengan uang, ya kadang dilema sendiri.

    Disukai oleh 2 orang

  7. Ada fakta menarik di Jerman. Jika supermarket tidak bisa memberi kembalian karena mungkin tidak ada recehan yang cukup, maka belanjaannya malah digratiskan. Saya kurang tahu apakah itu memang aturannya atau hanya demi menjaga nama baik supermarketnya.
    Gara-gara kejadian ini ada juga yang nakal, belanja sedikit (kurang dari 10 euro) tapi bayar pakai uang kertas 500 euro an.
    Jadinya ya setiap supermarket pasti menyiapkan uang kembalian berapa pun juga.
    πŸ™‚

    Disukai oleh 2 orang

      • Kelihatannya memang ada aturan bahwa supermarket wajib memberi kembalian yang sesuai. Mengenai kebijakan menggratiskan belanjaan itu mungkin kebijakan supermarket demi menjaga nama baik. Maklum persaingan antar supermarket sangat ketat. Nama jelek sedikit pasti pelanggan pada kabur.

        Disukai oleh 1 orang

  8. Saya sering dapet kembalian yg bukan uang, misalnya belanja kembali 500 dikasih Masako. Tp yang saya suka dr banyak penjual di sini mereka nawarin dulu. ‘Mau dikasih ini ga’

    Kalau langsung dikasih uang plus barang (permen atau wafer), sya belum pernah Mas Des. Kalaupun kejadian barangkali saya akan mentolerir seperti Mas Des juga. ‘Ya sudahlah, kali saja nanti pengen permen’

    Disukai oleh 2 orang

  9. Klo dari segi konsumen, pasti merasa dirugikan. Tetapi klo ngeributin uang 1000 rupiah mah nggak penting bagi saya. Yang lebih penting dagangnya dapat jualan, kitapun nggk rugi rugi amat masih dapat barang seperti permen dll.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s