Cerita Perjalanan PP: Kota INDAH-Kota MANIS

Beberapa waktu lalu, saya ada urusan di kota MANIS, Pangkalan Bun. Ini sebuah perjalanan PP (Nanga Bulik-Pangkalan Bun). Sebenarnya urusannya sederhana, yakni hanya untuk mencetak Rekening Koran (RK) di salah satu bank di sana. Kenapa mesti ke Pangkalan Bun? Karena di kota INDAH, Nanga Bulik belum ada bank tersebut. πŸ™ˆπŸ˜‡

Saya berangkat dari kota INDAH sekitar pukul 11.30 wib, menggunakan sepeda motor. Saya ke sana dengan salah seorang teman guru dari sekolah lain. Kebetulan ini memang urusan sekolah juga. Kami masing-masing menggunakan sepeda motor, dan tentu dengan misi kami masing-masing.

Tiba di kota MANIS pada sekitar pukul 14.00 wib. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan, dengan kecepatan sedang tentunya.

Sesampainya di sana kami langsung disambut oleh hujan deras yang membuat kami terpaksa harus berteduh, dan berharap agar hujannya segera reda. Namun, karena hujannya awet dan saya khawatir bank-nya tutup, maka saya kemudian harus segera meluncur ke bank tersebut, dengan pakai mantel tentunya. Tapi teman saya itu masih menunggu hujan reda.

Singkat cerita, saya pun sampai di bank tersebut lalu mencetak RK-nya. Sesingkat itu. Ya, begitulah; lancar tanpa kendala berarti. Hujan pun reda, kami kembali bertemu.

Sebelum agenda selanjutnya dan kembali, kami cari makan di warung dulu untuk mengisi kampung tengah, karena kami belum makan siang sejak berangkat dari kota INDAH. Setelah makan saya menemani teman saya itu dengan urusannya itu. Selang beberapa waktu urusan pun kelar. Dan waktunya kami harus kembali.


Saat akan kembali ke kota INDAH, langit tampak mendung. Matahari semakin condong ke barat, dan seolah akan segera tertelan bumi. Yang akan jadi masalah selanjutnya, hujan akan kembali mengguyur bumi. Gelapnya malam yang akan kami terobos ditambah hujan yang menyertai tentu itu bukan perkara mudah. Apalagi di beberapa titik di jalanan tadi ada banyak lobang bertebaran di sana-sini, pertanda bahwa jalanan yang menghubungkan 2 kabupaten ini kurang terawat dengan baik.

Setelah setengah jam perjalanan kembali, betul saja, hujan pun kembali turun mengguyur kami. Meskipun dengan mantel yang terpasang, tapi mengendara di bawah hujan deras tetap saja rasanya tak senyaman saat tanpa hujan. Selain pandangan mata yang tidak jelas, kami pun tidak bisa melaju dengan kecepatan normal.

Beberapa saat kemudian, entah bagaimana ceritanya, saya ketinggalan jejak teman saya itu. Mungkin karena banyak kendaraan lain yang juga lewat. Seolah dia melaju dengan kencang hingga saya tertinggal jauh di belakang. Saya pun kemudian berusaha mengejarnya.

Tak lama berselang, sepertinya saya berhasil mengejarnya. Saya yakin di depan itu motornya. Syukurlah, akhirnya bisa iring-iringan lagi. Saya tetap mengambil posisi membuntuti di belakang untuk sekian waktu dengan jarak kira-kira 20 meter. Hingga akhirnya saya harus tancap gas karena melihat tas teman saya itu tersembul keluar tidak terlindung mantel. Saya berniat untuk memberitahunya.

Setelah saya mengambil posisi sejajar dengan motornya, saya pun menegurnya. Eh, anda tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata di luar dugaan saya, itu bukan teman saya itu, ternyata itu orang lain, saya salah identifikasi dari tadi, ha ha ha πŸ™ˆπŸ™ˆ dan untunglah, kami tak saling kenal jadi malunya saya tanggung sendiri, dan saya pun tancap gas mendahuluinya, tapi setidaknya saya sudah sok peduli (sekalipun orang tersebut mungkin heran). πŸ˜€

Lalu, kemanakah teman saya itu? Apakah dia tak menanti saya? Saya yakin dia sudah jauh di depan sana.

Saya terus berusaha mengejar tapi tidak ketemu-ketemu. Akhirnya saya pun harus menikmati perjalanan pulang ini tanpa teman saya itu. Lagian, kalau saya tambah kecepatan lagi, dengan kondisi hujan dan malam seperti ini, saya takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Ini pun beberapa kali saya menabrak lobang. Kalau tidak salah ingat, ada sekitar 5 kali dan satu diantaranya hampir membuat saya celaka.

Namun syukurlah, saya pun akhirnya bisa sampai di kota INDAH, Nanga Bulik dengan selamat, dan itu sudah sekitar pukul 21.00 Wib. Artinya hampir 3 jam perjalanan, jauh lebih lama ketimbang waktu keberangkatan sebelumnya.

Keesokan harinya, saat saya bertemu dengan teman saya itu, saya baru tahu kalau dia sempat nyasar waktu itu, entah bagaimana ceritanya kok bisa begitu, ha ha … makanya, saya pun kemudian sempat bercanda, makanya jangan ninggalin teman kalau perjalanan bareng apalagi malam seperti itu.

Lain kali, saya tidak mau mengulangi perjalanan seperti itu lagi, apalagi untuk misi sesederhana itu. Makanya, dari cerita perjalanan ini, ada 3 hal yang menjadi catatan saya:

  1. Perjalanan malam menggunakan sepeda motor apalagi dengan kondisi hujan dan jalan seperti itu (sekalipun beraspal) tidak aman.
  2. Perjalanan PP, kalau tidak memungkinkan, jangan dipaksakan demi alasan keamanan (menginap bukan pilihan yang salah), dan harusnya kami berangkat lebih pagi.

  3. Kalau bepergian bareng teman supaya jangan ada yang meninggalkan yang lainnya. Berangkat sama-sama, pulang pun sama-sama (haha…bagian ini bercanda aja kali ya).

Demikian cerita perjalanan PP yang tidak selancar harapan ini saya tuliskan. Semoga ada manfaatnya, dan Terima kasih sudah membaca.

Salam,

Desfortin

30 Comments »

  1. Saya selalu penasaran akan bagaimana kondisi jalan di pulau-pulau besar seperti Sumatera atau Kalimantan. Dilihat dalam tulisan ini, jalan-jalannya panjang dan sepi, bahkan di kejauhan masih bisa melihat jalan, hehe. Jalan seolah menghilang di kejauhan. Rumah pun sepertinya hanya satu-dua ada di tepi jalan, ya. Saya suka, haha. Sepertinya suasananya berbeda dengan kota besar yang padat penduduk. Cuma memang kudu tetap hati-hati kalau jalannya banyak lubang. Syukurlah perjalanan lancar dan semuanya tiba dengan selamat.

    Disukai oleh 3 orang

  2. Syukurlah kalo perjalananya lancar mas, walau harus menerobos hujan dan jalanan berlubang.

    Ya, harusnya bawanya boncengan aja mas satu motor. Biar di jalanan sepi ada temen gitu. Dan andai nyasar bareng-bareng. Hheee

    Disukai oleh 1 orang

  3. Pangkalanbun, salah satu kota yang masuk daftar untuk jalan-jalan dan singgah. Ada beberapa teman dekat yang tinggal disini dan sampai sekarang masih belum kesampaian untuk datang berkunjung.
    Akhir-akhir ini memang cuaca tidak baik untuk perjalanan, terakhir kemarin dari Ampah ke Banjarmasin hujan seharian. Syukurlah kalau urusan lancar dan tidak ada kendala yang berarti, Kak.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Waduuuhhh…
    Aku paling gak bisa bawa motor kalo hujan bang.
    2x paksa bawa, 2x jatuh.
    Pernah jg sih terpaksa dan selamat, tapi capek banget.
    Gak berani kencang, lambat aja yg penting motornya gerak.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Wah … bagus2 semboyan kota di Kalteng Ya… ada MANIS,ada INDAH ada apa lgi mas ?
    Btw,jalan mirip yang mas Des lalui PP Bulik Nanga- Pangkalan Bun, itu dulu sering juga kami lewati dari Kota saya ke Palu sbg ibu kota Provinsi Sulteng, tapi sy tak pernah naik Motor melainkan naik travel. Tapi itu dulu, sekarang sdh halus …Alhamdulillah
    Semoga di sanapun juga akan halus nantinya ya … Aamiin
    Ohya masih ada sih jalan2 lubang2 begitu tapi dari kota saya ke salah satu kecamatan di wilayah kabupaten kami. Tapi sedikit demi sedikit sdh mulai ada perbaikan meskipun belum sehalus jalan ke provinsi, tapi tak lagi parah macam beberapa tahun lalu, yg bisa ditanami pisang di lubangnya he he

    Disukai oleh 1 orang

  6. Selain kondisi jalan yg masih banyak rusak, terkadang kita mesti berhadapan dengan iring-iringan truck sawit, cpo, tambang dll. Apa lagi jalur nbulik-p.bun termasuk jalur sibuk, terkadang bepergian malam memang lebih nyaman karena mobil-mobil besar jarang berseliweran, tapi perhatikan kondisi dan cuaca bang. Saya pernah mengalami lampu motor mati, dari simpang runtu – p.bun di tambah cuaca mendung maka lengkaplah penderitaan saya. Jalan satu-satunya adalah dengan membuntuti kendaraan lainnya sampai ke kota manis. Heee

    Disukai oleh 1 orang

  7. Saya pernah malam-malam naik motor pas hujan deras cuma berani kecepataan 20 km/jam Mas Des. Meskipun jalannya ga lobang. Soalnya jarak pandang terbatas sekali. Apalagi kalau ketemu lobang2 seperti di sana.. harus extra hati2. Syukurlah lancar perjalanannya..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s