Twice dan Anakku

Twice dan Anakku

Selama bulan Januari 2018 lalu hingga sekarang, Ruth Amora, anakku memiliki kebiasaan baru yang sering ditunjukkannya. Ya, aku baru menyadarinya sejak awal tahun ini. Sebenarnya, katanya ia sudah memilikinya sejak tahun lalu. Tapi yang kutahu ia baru belakangan ini begitu suka hingga sering menunjukkannya padaku.

Ya, Ruth Amora, anakku itu lagi demam salah satu grup musik K-pop, Twice. Sampai-sampai tiap hari ia terus menirukan dance dan gaya menyanyi grup tersebut, khususnya pada lagu Like-Ooh-Aahh. Aku pun sering diajaknya untuk menyaksikannya menirukan gaya tarian grup Twice ini, sekaligus meminta pendapatku.

Jujur, aku sebenarnya tak tahu sama sekali tentang grup musik Twice ini. Dan memang, diriku bukan penggemar berat artis Korea. Tapi, karena sepertinya anakku begitu nge-fans sekali dengan grup ini, maka kemudian memaksaku untuk mengetahui tentang grup musik asal Korea ini melalui petunjuk Mbah Google.

Aku ingin tahu kenapa anakku begitu nge-fans sekali. Padahal beberapa kali aku ikutan menonton video Twice yang ada di ponsel android-nya itu maupun di youtube, aku tetap sulit untuk mendapatkan alasan tentang serunya penampilan dari grup Twice ini. *Payah selera daddy zaman old, πŸ˜‚

Namun sekali lagi, karena melihat anakku itu begitu suka, bahkan dengan lihainya ia menirukan gaya penampilan grup musik tersebut, aku pun mulai berpikir bahwa ternyata zaman kini memang sudah berubah. Berkat paparan gawai dan media sosial pada saat ini, aku tahu bahwa kids zaman now itu telah jauh berbeda dari kids zaman old dalam hal mengikuti fashion dan apa yang sedang trending.

Pada intinya, aku di satu sisi yang adalah generasi zaman old kadang merasa aneh saja. Tapi bagaimana pun, tiap zaman akan fair bila dinilai oleh zamannya masing-masing. Seperti anakku ini, ia begitu nge-fans hingga bisa dengan cepat menirukan penampilan artis idolanya itu. Bahkan katanya, ia bareng teman-temannya telah membuat grup serupa dan mereka sering latihan bersama. Sungguh, aku tak mungkin menghalanginya.

Aku hanya bisa terus memotivasi dengan tetap memberikan pendapatku seperlunya kepadanya, agar ia bisa mengambil hal baik dari gaya hidup atau penampilan sang idola.

Sebagai orang tua, aku sadar bahwa dengan zaman yang kini telah berubah itu, kita harus fleksibel, tak boleh kaku. Maksudnya, kita tak bisa serta merta melarang anak kita untuk jangan menyukai suatu gaya dari sang idolanya yang mana kita sendiri berada di pihak yang berlawanan. Menurutku, menghadapi kids zaman now, sudah bukan saatnya lagi kita menjadi ortu yang kaku nan kolot yang selalu melarang anaknya untuk tak boleh ini dan tak boleh itu.

Keyakinanku adalah, selama hal yang dilakukan atau diidolakan itu tidak bertentangan dengan kebaikan universal, ya boleh-boleh saja. Toh itupun untuk melatih daya imajinasi dan kreatifitasnya sebagai anak.

Aku juga yakin, seiring usia yang terus bertambah, seorang anak tentu akan mengalami yang namanya fase-fase pemikiran dan kesan-kesan. Saatnya nanti ia juga bisa menilai kembali apakah sesuatu yang ia kini sukai atau idolakan akan tetap sama di kemudian hari.

Aku percayakan saja pada waktu dan nilai-nilai yang akan berlaku. Karenanya, aku tidak mau panik atau paranoid tentang anakku akan jadi apa di masa depan. Yang kutahu saat ini adalah, aku harus tetap memberinya motivasi untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, cerdas, dan kreatif.

Begitulah kesanku pada anakku yang kini lagi senang-senangnya dengan grup Twice asal Korea ini. Semoga ada manfaatnya, dan terima kasih sudah membaca.

Salam,

Desfortin

Kategori: Lain - Lain

Tagged as: , ,

25 Comments »

    • Nah, mas Aris lbh hpal, hee… sy mlah tahu dikit aja, itupun baru2 ini, sjak Ruth Amora sring nunjukin gaya Twice kpd sy. Jd nya, ya gak update gitu dech ttg tu grup musik.

      Mksh mas infonya, nmbah info lg dech, πŸ˜‚

      Suka

      • Ya iyalah. Dulu saya penyuka kpop juga, khususnya Girls Generarion atau nama lainnya SNSD. Saya suka waktu dulu kpop menguasai dunia dengan boyband dan girlbandnya. Sekarang sepertinya tidak menguasai dunia lagi, semuanya sudah kembali normal.πŸ˜‚

        Disukai oleh 1 orang

  1. Wah, baru tahu Twice ini ganti ga girls generation dari penjelasan mas Aris. Kalau Girls Generation saya masih agak familiar.

    Suka dengan pemikiran Mas Des. Selama yg dilakukan anak tidak bertentangan dgn kebaikan universal kenapa mesti dilarang2.

    Adik saya dulu pas SD penggemarnya koboi junior. Hehe.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Bagi anak zaman now, dari bocah sampai anak kuliahan sudah tak mengherankan dengan demam K-POP. 😁..
    Saya aja yg tua-tua dikit tapi belum sampe ubanan suka nonton. Tapi, Drama Korea-nya.. 😁

    Disukai oleh 1 orang

      • Haha.. kalo dramanya sih.. sejak tahun 2000β€”an ya. Pas munculnya drama korea”Endless Love” & “Full House”, tapi ditahun itu masih terbatas ya drama koreanya. trus nanti berlanjut tahun 2009 dimana ditahun itu demam korea di Indonesia sudah begitu menjamur..

        Tapi sejak awal 2016 kalo dirumah sejak Tv digital rusak kena petir gak lagi nonton. Pas nontonx kalo kerumah adek lg disinjai. 😁😁

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s