Respect Is Not Forced But Earned

Hargai dulu orang lain

Sumber Gambar : linkedin.com

Ada seorang teman mengeluh pada saya. Bukan karena saya ia mengeluh, tapi karena apa yang ia alami. Intinya, ia bercerita bahwa ia merasa gagal. Menurutnya, apa yang ia lakukan selama ini seperti tidak ada harganya sama sekali di mata sebagian orang. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ia meminta pendapat saya, dan saya pun memberikan pandangan seperlunya saat itu.

Dan inilah pendapat saya itu.

Pada dasarnya setiap orang itu ingin dihormati atau dihargai. Sesabar apapun orangnya, penghinaan, peremehan, dan berbagai sikap yang merendahkan individu lain, tetap adalah sesuatu yang menyakitkan. Tidak mengenakkan. Dan tentu saja tidak membuat seseorang damai sejahtera. Betul?

Tapi bandingkan bagaimana rasanya ketika kita dihormati atau dihargai, atau ketika mendapatkan berbagai tanggapan positif? Tentu itu adalah sesuatu yang membuat kita nyaman dan sukacita, karena pada dasarnya hati kita memang menyukainya. Tapi harus tetap hati-hati, rasa dihargai atau dipuji bisa membuat kita lupa diri dan jumawa.

Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai manusia, perasaan dihargai dan tidak dihargai adalah 2 hal yang lumrah. Semua individu di dunia pasti pernah merasakan kedua rasa itu; dihargai dan direndahkan, dihormati dan dihina. Kenapa? Karena itulah hakekat hidup di dunia. Rasa itu diijinkan ada untuk kita rasakan. Bahkan Tuhan pun menerima kedua hal itu.

Masalahnya adalah, bagaimana supaya dihargai? Bagaimana supaya tak dihina? Tentu, kita harus melakukan yang baik dan pantas. Sebaiknya hargai dulu orang lain agar orang lain pun menghargai kita. Tapi sebenarnya, untuk membuat orang lain menghargai kita adalah dengan terlebih dahulu menghargai diri sendiri. Perasaan terhadap diri sendiri akan menentukan cara orang lain bersikap terhadap kita. Apabila Anda ingin mendapatkan penghargaan, biasanya itu tampak juga dalam sikap Anda kepada orang lain.

Secara naluri, semua orang menyukai sesuatu yang baik. Karena baik itu membuat orang senang. Baik itu membuat jiwa damai. Baik itu indah. Baik itu baik. Karena itu, berbuat baiklah sebab berbuat baik itu baik, bukan karena motivasi lain.

Hanya saja terkadang karena yang dianggap baik itu mungkin telah didistorsi (begitu menurut keyakinan saya), maka konsep baik itu pun kemudian antara satu orang dengan orang lainnya bisa saja berbeda. Menurut si A itu baik, tapi menurut si B belum tentu.

Itulah sebabnya kemudian tiap individu memiliki konsep tentang baik dan tidak baik. Bagi si A, jika yang dianggapnya baik itu didukung oleh si B, maka menurut A si B itu menghargainya.

Begitupun sebaliknya dengan si B, bila yang dianggapnya baik itu didukung oleh si A, maka kemudian si A ia anggap sebagai orang yang menghargainya atau berada di pihaknya. Kalau sudah begini apa yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah, kebaikan itu diukur oleh konsep kebaikan masing-masing, bukan menurut hakikat kebaikan itu sendiri. Maka akibatnya, konflik pun terjadi. Saat konflik terjadi biasanya respek atau rasa hormat tidak hadir di sana.

Tapi bagi saya, sederhana saja, rasa dihargai atau penghargaan (respect) itu tidak bisa dipaksakan, tapi dimenangkan. Respect is not forced but earned.

Jadi, Anda tak perlu memaksa orang lain menghargai Anda. Jika Anda memang layak dihargai, maka penghargaan itu akan datang pada Anda. Hal itu seperti mengalir saja, tak perlu dipaksakan. Karena itu, pantaskanlah diri supaya dihargai. Caranya? Hargai dulu orang lain.

Salam,

Desfortin

37 Comments »

  1. Wah saya kurang bisa memahami. Dalam pengaplikasiannya takutnya terjadi hal buruk seperti kita sudah merasa menghargai orang lain, tapi justru dibalas dengan keburukan. Jadi rasanya sakit deh.

    Tapi memang pada umumnya kebaikan itu jarang dibalas dengan kejahatan. Jadi, klo memasang taruhan peluangnya bisa 3:1. Maka lebih baik terus menyebarkan kebaikan. πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  2. oh, begitu… ngerti… ngerti… artikelnya bagus. harus menghargai orang dulu baru orang mau menghargai kita ya. treat other apalah gitu. tapi kalo orang tidak melakukan hal yg sama seperti yg kita lakukan biasanya kesel sih. tapi ya sudahlah… silakan orang itu terima dosanya.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Saya setuju sekali dengan tulisannya pak. πŸ˜€
    Kalau tidak bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, bagaimana bisa mendapat penghargaan dari mereka. πŸ™‚
    Tapi pasti ada orang yang seperti itu sih, mau dihargai tapi tidak mau menghargai. 😦

    Disukai oleh 1 orang

  4. well, kdg lucu aja liat orang ngarep dihargain tapi gak tahu hargain orang lebih dulu.. kata mama, kalo pingin dihormatin ya hormat duluan ke orang. heheheeh kalo mau dihargain tunjukkin penghargaan kita ke orang lebih dulu.. setuju mas

    Disukai oleh 1 orang

  5. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain, dan apa yang menurut orang lain baik belum tentu baik untuk kita. Saling menghargai itu yang lebih penting, sebab setiap individu itu punya peran masing-masing.
    Ada ujar-ujar seperti ini, entah sumber sahih nya dari mana,, ” tetap berprasangkabaik dan saling berhargai sebab nilai keduanya melebihi dari berlian.” 😊

    Disukai oleh 1 orang

  6. harga diri manusia terhadap dirinya sendiri itu tidak statis..melainkan turun naik, tergantung kondisi dan keadaan emosi…jadi wajar ketika ada kalanya kita merasa low…pada saat itu butuh orang lain atau kesadaran sendiri untuk up. mungkin kawannya sedang low….

    Disukai oleh 1 orang

  7. poin penting yang bisa diambil disini adalah sebelum menghargai orang lain, kita harus menghargai diri sendiri…karena segala hal yang kita lakukan ialah dari diri kita sendiri, artikel yang memotivasi mas

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s