Celoteh: Korupsi, Narkoba, dan Radikalisme

Sumber Gambar: mobavatar.com

Bangsa ini telah merdeka dari tangan penjajah asing lebih dari 72 tahun. Belum satu abad memang, tapi itu juga bukan waktu yang singkat. Telah lebih dari cukup untuk berdikari.
Berbagai tahapan pembangunan telah dilalui bangsa ini, dan rakyat pun bisa merasakan hasilnya. Kita harus akui itu. Pemerintah yang dibentuk dan mendapat mandat dari rakyat – terlepas dari tingkat prestasinya seperti apa – telah berupaya menjalankan fungsinya demi Indonesia yang lebih baik.

Memang, permasalahan tidak dapat dipungkiri. Berbagai tantangan juga jelas terbentang. Dan itu harus dihadapi. Bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tugas kita bersama. Apalagi sekarang makin kompleks. Aneka problem kehidupan terus saja menguji bangsa ini dari hari ke hari. Kadang, itu semua membuat sebagian kita muak.

Masalah Korupsi

Sejak berdirinya negara ini, kita tahu bahwa tujuannya adalah demi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera. Sebuah tujuan yang mulia sekali. Sudah semestinya kita juga ikut mewujudkannya.

Namun semuanya tampak miris, mengingat korupsi makin merajalela hingga saat ini. Seolah para koruptor itu sedang antri menunggu giliran dirinya diciduk aparat penegak hukum.

Korupsi seolah makin mendapat peluang di tengah carut marutnya penegakan hukum di negeri ini. Tapi sebentar, pertanyaan saya adalah: apakah baru sekarang korupsi menampakkan batang hidungnya? Apa korupsi adalah isu baru? Tampaknya begitu. Tapi tidak pada hakikatnya. Korupsi pada dasarnya sudah menjadi warisan klasik dari manusia berdosa.

Dulu wujudnya beda dari sekarang. Dulu orang korupsi di bawah meja. Sekarang, orang terang-terangan korupsi di atas meja dengan tak tahu malu sekalipun dibungkus dengan intelektualitas.

Korupsi itu benar-benar menyebalkan. Karena jelas merugikan negara; merugikan kehidupan rakyat. Kau tahulah itu. Tak perlu dijelaskan disini. Yang jelas, merugikan.

Korupsi telah menjadi penyakit kronis. Kau tahu kronis? Ya, kronis. Susah diobati. Dan itu merambah di berbagai lini kehidupan. Maksud saya, bukan hanya dari tingkat pejabat. Tapi dari tingkat terbawah pun itu nyata, setidaknya bibit korupsi. Coba saja tengok pola atau etos kerja di tempat kerja masing-masing. Coba tanya pada nurani masing-masing, bagaimana kinerja saat bekerja? Sudahkah kita bebas dari bibit korupsi?

Anggap saja pendapat saya ini tidak benar. Anda boleh menyangkalnya. Tapi tanya, kenapa Anda datang telat ke tempat kerja? Kenapa Anda bertugas tidak tepat waktu? Misalnya, harusnya mengajar (kalau Anda pengajar) selama 80 menit, tapi hanya Anda gunakan 60 menit? Anda kemanakan 20 menitnya? Anda mau sebut itu bukan korupsi? Oh, come on, tak perlu mencela para pejabat korup itu. Cela lah diri sendiri. Sedihlah karena ulah diri sendiri.

Masalah Narkoba

Seolah tak pernah selesai, masalah bangsa ini terus datang bertubi-tubi. Kalau korupsi telah mengakar di kalangan elit bahkan pada tataran terbawah, maka kini masalah narkoba menjadi ancaman serius lainnya.

Corak narkoba pun terus berevolusi. Dan yang akhir-akhir ini sempat hangat dibicarakan adalah tentang Pil PCC. Ada juga yang dalam bentuk seperti permen, sehingga orang bisa tertipu. Dan itu juga berarti, anak-anak pun tidak lepas dari target narkoba. Sungguh keterlaluan. 

Lalu, tertangkapnya oknum yang terlibat kasus narkoba, baik itu artis maupun pejabat publik tentu membuat kita prihatin. Semuanya membuat dada ini sesak. Ancaman narkoba kini ada di sekitar kita, terutama bagi generasi muda. Itu sebabnya, pemerintah menyatakan bahwa Indonesia sedang darurat narkoba.

Penyalahgunaan narkoba atau kejahatan narkoba mungkin bisa disebut sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) – dimana hukumannya sangat berat – walaupun masih ada pihak yang menolak pendapat ini.

Apapun itu, yang pasti, saya sepakat bahwa penyalahgunaan narkoba adalah kejahatan. Ia adalah musuh yang harus diperangi bersama. Karena dampaknya sangat luar biasa merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalah Radikalisme

Belum selesai masalah korupsi dan narkoba, kini bangsa ini kembali dilanda masalah serius dan bahkan bisa mengancam keutuhan bangsa. Apalagi bila agama dijadikan tameng atau komoditas politik, maka gaduhlah negeri ini. Padahal kita ingin damai. Kita ingin hidup dalam harmoni, menuju Indonesia jaya.

Ya, radikalisme yang dianut oleh sebagian orang atau segelintir kelompok tertentu, harus menjadi perhatian bersama. Adanya pendapat bahwa ideologi Pancasila harus diganti dengan sistem, menurut mereka, yang lebih baik, adalah ancaman yang nyata. Syahwat politik yang memanfaatkan kekuatan agama ternyata sangat efektif untuk melakukan propaganda.

Ini harus diwaspadai. Jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan negeri ini bisa bubar. Tentu ini bukan hal yang kita rindukan, bukan?

Sebagai anak bangsa kita harus berjuang dengan ideologi yang sudah ada, yakni Pancasila. Ya, Pancasila adalah dasar negara yang menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia. Sangat cocok untuk masyarakat yang mejemuk seperti Indonesia ini.

Karena itu, mari hayati dan terapkan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari. Bukan sekedar indah di kata atau retorika semata, tapi aksi nyata yang membahana.

Salam,

Desfortin 

29 Comments »

  1. Yang paling parah ya korupsi. Kalo semua pada mikir perutnya sendiri, maka tinggal nunggu kepastian negeri ini hancur. Lha wong dana untuk kepentingan rakyat justru masuk kantong pribadi. ๐Ÿ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hampir semua pekerja yg digaji negara dari uang pajak, pasti pernah melalaikan tugas yang dapat dikategorikan sbg korupsi, spt terlambat datang, pulang lebih cepat, bahkan mbolos kerja dengan berbagai alasan, jika kerjapun kadang asal-asalan, kadang menerima gratifikasi dan sebagainya. Semoga kita yang menyadari hal ini selalu berusaha menghindarinya dan yg belum menyadarinya smg membaca tulisan ini mjd sadar. Aamiin.
    Dan yg lbh penting jangan lg menambah dosa dg korupsi uang seberapapun nominalnya. Semoga!

    Disukai oleh 1 orang

  3. Sebenarnya, ke 3 hal itu akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan dengan Agama mulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga karena semua Agama melarang keras ke 3 hal itu ya kan?

    Mengenai Koruptor: mending klo koruptornya tertangkap, kenyataannya banyak yg kabur keluar negeri setelah mengambil uang negara RI, kabur demi memperkaya diri dan keluarga bahkan 7 keturunan ga habis2..karena niat mereka di Indonesia ini cuma Maling.

    Korupsi Narkoba dan Radikalisme satu lagi tambahan dari saya yaitu Premanisme, Liberalisme, Komunisme dan me..me..lainnya hi..hi..hii juga harus dimusnahkan dari Negara kita. Merdeka!!!

    Semoga Negeri kita ini semakin maju dan jaya, amin

    Suka

  4. kASUS korupsi memang akhir2 ini banyak menjerat para pemimpin daerah dan wakil rakyat, yang sakit itu jelas rakyat. kenapa hal ini terjadi ? dan bagaimana cara menumpas korupsi ?
    entahlah mudah 2 an aja masalh tersebut cepat selesai

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s