Kinipan, Kini dan Kapan?

Foto Kinipan lewat kamera drone

Foto (Koleksi Pribadi): Kinipan dilihat dari udara

Kinipan, itulah namanya. Sebuah desa kecil yang terletak di pulau Borneo, bagian dari wilayah administratif Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, tepatnya di Kecamatan Batang Kawa. Berpenduduk tak lebih dari 1000 jiwa. Mayoritas terdiri dari suku Dayak Tomun.

Untuk sampai ke Desa ini kita hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari kota Nanga Bulik, atau dengan mobil (travel) sekitar 2 jam. Jadi relatif mudah untuk dijangkau, apalagi sebagian besar jalannya kini sudah diaspal.

Keberadaan Kinipan sebagai laman telah ada sejak abad-abad lampau, dimana Kahingai diyakini sebagai pendiri pertama laman Kinipan. Kisahnya dapat dibaca dalam tulisan berjudul: “Dari Kahingai Hingga Kinipan” yang saya tulis beberapa waktu lalu. Jadi sudah cukup lama, hanya saja secara data sejarah tertulis baru tercatat pada tahun 1932 (saat Tinduh menjadi Kepala Kampung).

Saya kini adalah warga Kinipan. Mulai tinggal di desa ini sejak awal 2010. Itu artinya sudah hampir 8 tahun saya menetap di desa ini. Semua berawal karena takdir cinta, cinta pada gadis Kinipan, yang hingga saat ini masih setia mendampingi. Selain itu, karena saya mendapat pekerjaan tetap di desa ini sebagai pendidik.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, saya tahu bahwa saya akan menjadi warga Kinipan untuk waktu yang relatif lama. Dan benar saja, delapan tahun bukan waktu yang singkat. Apalagi sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk pindah domisili. Anak saya pun telah besar, sekalipun sampai saat ini masih belum ada adiknya. *Jangan tanya kenapa?

Kinipan sebagai sebuah wilayah desa memilik sumber daya alam dan budaya yang potensial. Desa yang alamnya masih terjaga asri, dengan hutannya yang lebat mengelilingi sekitarnya ini, menjadikannya seolah perisai bagi kabupaten Lamandau.

Sekalipun ada pihak-pihak tertentu yang pernah ingin menggadang-gadang potensi hutannya lewat politik kekuasaan dan kepentingan swasta, tapi sampai saat ini mayoritas hutannya masih terjaga dan perawan. Apalagi pasca didaftarkannya Kinipan sebagai wilayah adat melalui BRWA (Badan Registrasi Wilayah Adat) beberapa waktu lalu, tentu semakin memperkuat posisinya. Itu juga terjadi karena masyarakatnya yang ngotot dan kekeuh mempertahankan hutannya dari upaya eksploitasi. Setidaknya sampai saat ini.

Kinipan, ia juga dikenal dengan nilai-nilai adat dan budayanya. Itu terlihat setiap kali ada hajatan, baik hajatan pemerintah maupun masyarakat lokal, selalu saja ada acara adat yang menyertainya. Entah itu potong garung pantan, bagonakng, nganjatn, atau tradisi adat lainnya. Tentu ini sedikit banyak berbeda dari kampung kelahiran saya, yang kini mulai cenderung tergerus oleh modernisasi. Namun perbedaan tersebut membuat saya juga belajar banyak hal, khususnya tentang makna toleransi, konservasi, dan adaptasi. Saya juga paham betul pepatah, “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Jujur saja, hal beradaptasi itu bukan perkara gampang, saya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa benar-benar melebur dengan adat istiadat atau kebiasaan setempat. Bahkan sampai saat inipun, saya masih terus belajar memahami tata cara, kebiasaan, dan gaya hidup dari warga desa ini. Ada yang mudah saya terima, ada juga yang sulit.

Ambil contoh saja dalam hal kuliner, saya merasa bahwa secara lidah pun saya harus terus beradaptasi. Bukan berarti kulinernya tidak enak, tapi hanya masalah kebiasaan dan selera saja. Kemudian, tentang kebiasaan minum “minuman khas daerah”, juga masih sangat kental, tak mudah untuk dipahami mengapa demikian. Tapi itu bukan masalah besar, sepanjang tidak ada unsur pemaksaan, maka semua akan baik-baik saja. Lagian, tidak semua hal juga harus diikuti, bukan?

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini telah banyak perubahan yang terjadi di desa ini, baik dari infrastruktur jalan, akses informasi, akses pendidikan, akses kesehatan, maupun upaya lain dari pihak pemerintah yang dari tahun ke tahun tetap dicanangkan. Walaupun terkesan lambat perkembangannya, tapi tetap ada perubahan-perubahan yang nyata. Bahkan wacananya, paling lambat tahun depan, menara pemancar sinyal handphone akan berdiri di desa ini. *Semoga tidak hanya wacana.

Zaman memang telah berubah. Waktu terus bergerak maju. Kinipan tempo dulu telah jauh berbeda dari Kinipan masa kini. Dulu mungkin warganya tak pernah menyangka kalau Kinipan akan ada kemajuan seperti sekarang: ada listrik umum (sekalipun cuma PLTS), ada internet (walaupun cuma wi-fi, yang kadang ngadatnya minta ampun), ada perpipaan air bersih, ada puskesmas, dan lain-lain. Tapi kini warganya sudah bisa menikmati berbagai kemajuan dan fasilitas yang ada itu. Tentu itu semua perlu disyukuri.

Sekalipun ada anggapan pesimis dari sebagian warganya tentang kemajuan desa ini, tapi tetap tak mungkin dipungkiri bahwa kemajuan itu adalah keniscayaan. Anggapan pesimis itu mengatakan bahwa Kinipan itu Kini dan Kapan. Maksudnya, Kinipan itu dari dulu hingga sekarang sama saja. Tidak akan ada perubahan yang berarti. Bahkan hingga kapan pun. Ya, itulah anggapan pesimistis. Tak perlu dirisaukan. Yang jelas, Kinipan sekarang tidak sama dibandingkan dengan Kinipan pada masa-masa lampau.

Harus diakui bahwa asimilasi budaya, pengaruh globalisasi, itu pasti. Bahkan kini telah merambah ke seantero lini kehidupan. Angin perubahan telah datang. Era kemajuan telah nyata, mustahil ditolak. Karena itu, sebagai warga Kinipan, kita perlu menyikapinya secara arif agar identitas diri tidak tergerus oleh zaman yang semakin maju itu.

Jadi, menurut saya, Kinipan itu bukan Kini dan Kapan. Tapi kini telah mulai menuju kemapanan. Oleh sebab itu, maka sudah semestinya pula sebagai warga Kinipan untuk berpikir lebih kritis, lebih optimis, dan berkarya lebih nyata demi Kinipan yang lebih baik di masa mendatang. Bukan begitu?

Salam,

Desfortin

33 Comments »

  1. Wah, saya jadi turut bahagia. Senang rasanya melihat pembangunan berlangsung nyata dan dapat dinikmati masyarakat. Meski perlahan, selama kemajuan terus berlangsung, tujuan akhir pasti akan tercapai. Mudah-mudahan masyarakat di sana semakin sejahtera. Semoga juga kebutuhan dasar masyarakat sana selalu terpenuhi. Jadi pengembangan diri bisa dilakukan dengan maksimal. Namun, saya juga berharap semoga alam dan adat di sana selalu lestari. Saya yakin bahwa modernisasi, jika tepat, akan sejalan dengan kearifan lokal.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Memang sebaiknya hutan-hutan tidak dilibatkan dalam proyek pembangunan apapun mas desfortin. Dari buku indonesia dikhianati, justru perjanjian yang melibatkan hutan banyak merugikan masyarakat setempat. Ketika mereka sadar sudah diakali, protes bagaimana pun tetap kalah karena ada perjanjian hitam di atas putih. Semoga tetap lestari hutannya dan bisa digunakan oleh masyarakat kinipan sampai masa-masa mendatang. 😀

    Disukai oleh 1 orang

  3. Aku suka sekali akan kehijauannya desa. Desa selalu aku eksplorasi dan eksploitasi dengan tulisan. Begitupun tulisan mas menambah gairah menulis. Semoga pembangunannya bisa merata ya mas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s