Gondrong, Plontos, dan Barbershop

Kau pernah berkhayal atau mengimpikan sesuatu? Aku pikir iya. Setiap kita punya khayalan atau impian masing-masing. Entah itu tentang kesuksesan, kebahagiaan, atau apa saja, bahkan untuk sesuatu yang konyol sekalipun. Hanya saja, ada kalanya kita cukup menyimpannya sendiri dalam hati, khususnya untuk sesuatu yang terkesan konyol. Kita enggan untuk menceritakannya.

Namun demikian, ada kalanya juga orang ingin secara terbuka mengungkapkannya kepada orang lain. Sebab baginya, dengan mengungkapkannya itu akan membuatnya merasa lega atau puas.

Seperti diriku, aku ingin mengungkapkan khayalanku itu. Ya, sejak dulu aku berkhayal memiliki rambut gondrong dan plontos untuk sekian waktu. Setidaknya sekali dalam seumur hidup. Sayangnya, sampai saat ini keinginanku itu masih belum juga terwujud.

Sejujurnya, aku sendiri tak tahu persis alasan logis dan mendasar yang membuatku memiliki keinginan itu. Yang kutahu adalah, bahwa itu terkesan excited dan mungkin juga sensasional bila punya rambut gondrong dan berkepala plontos. Aku menyukainya.

Kau tahu, saat ini rambutku masih biasa-biasa saja: tidak pendek, tidak juga panjang. Terus, apa yang salah? Sebenarnya tidak ada salah. Hanya saja, kadang aku merasa bosan dengan gaya konvensional seperti ini. Aku ingin sesuatu yang berbeda. I like something different.

Berambut Gondrong

Sumber Gambar : newsfirst.lk

Sering aku melihat para selebriti di layar kaca dengan rambut mereka yang panjang terurai. Seperti Brad Pitt, Keanu Reeves, Collin Farrel, Omar Daniel (Indonesia), dll. Mereka tampak keren. Aku sering merasa penasaran bagaimana jika aku seperti itu juga, sekalipun aku bukan orang terkenal?

Atau, seperti hai hai alias bengcu, temanku sang pendekar seruling itu. Rambutnya juga gondrong sepinggang, tapi penampilannya itu menurutku keren dan unik. Ia tetap menjadi sosok yang baik, inspiratif, dan cerdas, terutama tulisan-tulisannya yang ‘bombastis’ dan ‘menyebalkan’ itu.

Memiliki rambut gondrong itu tidak semua laki-laki menyukainya. Biasanya laki-laki lebih suka yang simple dan praktis. Tapi bagiku, punya rambut gondrong bukan masalah besar. Tampil beda dengan gaya khas, barangkali itu akan sangat mengesankan, sekalipun orang lain akan kaget atau tidak setuju dengan penampilanku yang unik dan mungkin konyol ini. Karena menurut tradisi umum, kaum perempuan lah yang tampak etis berambut panjang.

Namun satu hal, walaupun dengan rambut yang gondrong, aku ingin tetap menjadi sosok yang baik, macho, intelek, dan berwibawa. Rasanya itu bukan mustahil.

Akan tetapi, ayah dan ibuku kurang begitu suka dengan pria yang berambut gondrong. Menurut mereka, pria berambut gondrong itu indentik dengan berandalan. Hidup di jalanan. Dan dekat dengan hal yang tak senonoh.

Ya, itulah anggapan klasik orang tuaku. Aku dapat memakluminya. Karena memang ada beberapa pria dengan rambut gondrong yang mengindikasikan hal itu. Dalam hal ini mereka juga tak sepenuhnya keliru. Tapi, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, aku merasa bahwa itu hanya pandangan stereotip. Bagiku, itu tergantung orangnya.

Kau tahu, sebenarnya aku adalah orang yang cenderung menyukai antitesis. Jika ada anggapan bahwa orang kampung itu bodoh, tak disiplin, dan berbagai anggapan remeh lainnya, aku selalu ingin membuktikan kebalikannya. Nuraniku selalu ingin membantah, bahwa itu tergantung pribadi atau oknumnya. Aku meyakini hal itu.

Dan pula, seiring kehidupan yang terus maju, dengan berbagai pengalaman yang telah kulalui, aku pun makin menyadari bahwa keyakinanku itu tidak salah. Aku bisa membuktikan makna ‘tergantung orangnya’ itu. Walaupun aku berasal dari kampung, yang kerap dianggap ‘katro’, ‘ndeso’, tapi aku bisa buktikan dan bersaing dengan orang kota yang katanya lebih cerdas dan hebat. Kupikir aku telah membuktikannya, setidaknya di antara komunitasku.

Nah, begitu pun halnya dengan pria yang memiliki rambut gondrong, aku ingin buktikan bahwa gondrong tak identik dengan nakal, berandal, apalagi penjahat. Kita tidak boleh menyamaratakan semua hal. Kita harus tetap proporsional dalam memandang segala sesuatu. Atas dasar itulah, aku pernah berkhayal untuk memiliki rambut yang gondrong.

Lalu, rambut gondrong seperti apakah yang kukhayalkan tersebut? Mungkin terdengar aneh dan konyol, aku ingin gondrong segondrong-gondrongnya, bahkan jika mungkin sampai menyentuh bagian kaki. Tenang, aku tahu kau mungkin membayangkan diriku seperti sosok misterius dan seram di film-film horor itu, ya kan? Tapi yakinlah, aku akan buktikan bahwa gondrongku beda.

Aku akan tetap menjadi sosok yang baik, ramah, rapi, bersih, intelek, dan berwibawa. Aku akan tetap membaca buku, belajar dengan rajin, menjadi narasumber dalam suatu pertemuan jika diperlukan, aku siap untuk itu.

Aku tahu, punya rambut gondrong akan merepotkan diriku, karena tentu aku harus keramas tiap hari dan menatanya. Juga budget untuk shampoo pun pasti bertambah. Istri dan anakku pun sangat mungkin akan protes. Tapi aku akan katakan kepada mereka, kegondronganku itu tidak akan membuatku menjadi manusia lain. Yang pasti, aku akan tetap menjadi sosok yang baik kepada sesama, kepada anakku, dan tetap romantis kepada istriku. Tak mengurangi haknya sebagai pendamping hidupku. Andai aku gondrong, sekali lagi, aku ingin buktikan itu.

Namun sayang seribu sayang, itu hanya tinggal khayalan. Tak mungkin bisa terjadi. Sejak diriku menjadi guru, apalagi guru PNS, kau tentu tahu aturannya. Bagaimana mungkin aku bisa berada di depan siswaku dengan rambut segondrong itu? Bukankah guru itu digugu dan ditiru? Jadi, mustahil itu terjadi.

Berkepala Plontos

Karena berambut gondrong itu sulit kualami, maka masih ada satu lagi khayalanku yang mungkin saja bisa terwujud, yakni berkepala plontos alias botak. Tentu, plontos disini adalah plontos buatan. Yang botak atau plontosnya bukan seperti para profesor atau para pemikir itu.

Sumber Gambar: popcrush.com

Aku sering melihat selebriti/musisi seperti Chris Daughtry, atau aktor Dominic Toretto (Vin Diesel) dalam film fast and furious. Tampaknya mereka keren dan hebat. Begitupun membayangkan punya kepala plontos dengan tetap gagah dan gaya seperti Deddy Corbuzier, bagiku itu tentu tantangan tersendiri.

Terkait kepala plontos, orang tuaku sendiri tidak pernah melarang. Mereka yakin saja dengan pilihanku. Tapi bagaimanapun, aku yakin mereka juga akan kaget dan merasa aneh bila melihatku plontos. Sebab memang, di keluargaku tak satupun yang berkepala plontos. Tapi tak mengapa, sepanjang mereka ikhlas, semua akan baik-baik saja.

Lalu, bagaimana dengan anak dan istriku? Apakah mereka setuju? Dulu aku pernah bertanya kepada mereka, intinya mereka menolak. Mungkin kali ini pun aku akan mendapat penolakan lagi. Karena mereka masih belum terbiasa melihat orang terdekat mereka punya kepala plontos. Apalagi dengan tinggi badanku ini yang kurang standar, katanya. Sangat tidak cocok.

Terkait khayalanku itu, saat kutanyakan lagi kepada anakku beberapa hari yang lalu, ternyata ia masih keberatan luar biasa. Katanya, ia sangat tidak suka kalau kepala papanya dibotakin atau dibikin plontos. Baginya, aku akan terlihat jelek sekali, dan ia tidak mau berteman denganku kalau aku botak atau plontos.

Dan untuk istriku, karena saat ini ia sedang ada urusan di luar kota untuk sekian waktu, aku belum sempat meminta restunya. Aku harus bicara langsung kalau ingin meminta restu untuk hal semacam ini. Tapi sepertinya ia pun akan senada dengan putrinya.

Sepintas kalau dipikir-pikir sih, kepala ini kan kepalaku, bukan kepala mereka. Yang menjalaninya juga aku sendiri, bukan mereka. Mengapa mesti repot? Tapi itulah, karena aku bukan single lagi, tentu aku harus tetap memikirkan mereka. Aku rasa bahwa ini adalah salah satu bentuk perhatian dan rasa sayang mereka padaku. Jadi, aku tak boleh egois atau bahagia sendiri.

Kalau saja aku egois, maka hal itu sudah terwujud lama. Apalagi kemarin, dimana kebetulan aku berada di kota Nanga Bulik. Sekali lagi, niatku itu bisa saja terwujud dengan mudah. Karena tepat di seberang rumah orang tuaku yang ada di Nanga Bulik, ada sebuah barbershop (tempat pangkas rambut) yang cukup terkenal di kota ini. Siap untuk mewujudkan keinginanku itu.

Aku sendiri sering memotong rambutku di barbershop ini. Kemarin itu, aku kembali ke tempat itu lagi, dan hampir saja aku minta diplontosin. Dalam hati terus bergumul antara iya dan tidak, antara potong biasa atau plontos. Tapi demi anakku, aku urungkan lagi hasratku itu, dan akhirnya tetap dipotong seperti biasa.

Namun demikian, aku tak perlu putus asa. Aku tetap harus sabar dan berharap suatu saat nanti impian ini dapat terwujud – dasar keras kepala. Apalagi, mengingat tidak ada larangan juga bagi guru untuk berkepala plontos. Dan aku masih berharap agar suatu saat nanti aku bisa meyakinkan anak dan istriku bahwa plontos alias botak alias gundul itu bukan masalah. Bahkan bisa tetap Gunawan (gundul menawan). Aku yakin itu.

Well, karena saat ini masih gagal memlontos diri, maka aku mau cerita sedikit saja tentang tempat pangkas rambut ini.

Tempat Pangkas Rambut Di Seberang Jalan

Ya, di Jalan GTM. Yusuf BA, kota Nanga Bulik, Kab. Lamandau-Kalteng, tepat di seberang jalan dari rumah kami, adalah sebuah barbershop yang ramai dikunjungi para pelanggannya.

Buka setiap hari pada pukul 3 sore dan tutup sekitar jam 11 atau jam 12 malam. Setiap kali buka selalu ada saja yang mengantri di depan tempat pangkas rambut ini, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan tarif maksimal hanya Rp 15.000,- / orang dewasa, maka potongan rambut yang rapi pun akan dengan mudah pelanggan dapatkan.

Aku salah satu pelanggan setianya. Hampir setiap bulan aku memotong rambutku di barbershop ini. Aku suka dengan pelayanan yang diberikan oleh si Bapak tukang pangkas rambut ini. Karena ia sangat paham dengan gaya potongan rambut yang diperlukan para pelanggannya. Tanpa harus diminta begini dan begitu ia sudah tahu jenis potongan rambut seperti apa yang cocok untuk mereka.

Selain itu, si Bapak ini juga cukup ramah dalam melayani pelanggannya. Sapaan dan obrolan-obrolan ringan bersama pelanggannya tak lupa diselipkan sembari memotong rambut. Sayangnya, sampai saat ini aku belum tahu siapa nama Bapak ini, karena memang agak sungkan untuk bertanya tentang nama. Tapi, apalah arti sebuah nama, yang penting orangnya baik dan ramah.

Mungkin karena kinerjanya yang bagus dan keramahannya itulah yang menyebabkan banyak orang yang menyukai jasanya. Bayangkan saja, setiap hari ada saja orang-orang yang rela antri berjam-jam di depan tempat pangkas rambutnya. Padahal setahuku, di kota ini ada juga beberapa tempat pangkas rambut yang lain, termasuk salon, tapi tak seramai tempat pangkas rambut ini.

Sekali lagi, karena aku berlangganan di barbershop ini, berarti aku akan rutin mendatanginya bila ingin memangkas rambutku. Dan saat itulah, godaan untuk memlontos kepalaku mungkin akan terus menghampiri. Mungkin kah suatu saat nanti tempat pangkas rambut ini menjadi saksi atau eksekutor pemlontosan kepalaku? Entahlah, yang pasti saat ini aku masih ingat dengan anak dan istriku.

Salam Cerdas,

Desfortin

Kategori: Lain - Lain

Tagged as: , , ,

35 Comments »

  1. Saya udah pernah gundul. 2 x malahan. Waktu masuk di RSJ karena dikira stres. Jujur saja, karena ada aturan mungkin, saya dipaksa sama petugasnya buat digundul. Waktu itu rasanya pingin nangis. Soalnya saya ini nggak banget sama kegundulan he he he…..

    Disukai oleh 1 orang

  2. aku gondrong udah dua kali kok, Bang. tapi nggak sampe panjang banget sih. mentok di atas pinggang. Motongnya itu pasti karena terpaksa. Dan, banyak banget godaan buat ke barber shop pake gaya-gaya rambut berpomade nan ribet. hehehe | kalo plontos, aku nggak berani… sumpah hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  3. Semangat Bang buat niatnya, entah gondrong atau polos, hehe. Semoga ada yang tercapai. Yang lebih penting lagi, semoga selalu semangat dan bahagia karena penampilan sudah sesuai dengan diri sendiri. Memang, berbahagialah mereka yang bisa jadi diri sendiri, tidak terpapar tuntutan di sana-sini. Kata orang kalau niatnya sudah dituliskan, cepat atau lambat pasti akan tercapai. Saya yakin juga begitu, sih, hehe…

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wah kalo gondrong pasti bakalan lebih detail banget ngurus rambutnya bahkan istri bisa kalah 😊 tp klo plontos gmana y. G kebayang bentukny πŸ˜±πŸ˜†πŸ˜†
    Yg pasti g bakal kenal lg dg yg namanya sisir πŸ˜…πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

  5. aku mimpi punya rambut lebat :(((

    soal barbershop aku juga punya tempat favorit, rasanya kayak pas kalau dipotong sama dia. cuma sekarang udah tutup jadi kudu nyari tempat baru, sekarang juga banyak sih di palembang yang buka barbershop kekinian, cuma yaaa ga pas.. lebih enak barbershop yang di lapak kios gitu.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s